Gimana jadinya, kalau satu cewek dijadiin rebutan sama empat orang cowok sekaligus?
*****
Zaura dihadapkan dengan empat orang pria sekaligus yang harus ia pilih salah satu. Namun, kebimbangan mulai mendatangi hatinya disaat ia ragu harus memilih sal...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Zaura melangkah masuk ke kelas dengan hati yang terasa berat. Ia langsung menyadari suasana yang berbeda dari biasanya. Ketegangan yang tadinya hanya berupa bisikan samar dan tatapan aneh kini terasa seperti tembok tak terlihat yang memisahkannya dari orang-orang di sekitarnya. Ketika ia mencoba menyapa Kayra dan Nesha, mereka hanya melirik sekilas sebelum berpaling. Bahkan Zaina, yang selalu menyapanya dengan senyum hangat, kini memilih untuk mengabaikan kehadirannya. Teman-teman lainnya pun bersikap sama, termasuk Nara yang selama ini sering menjadi penengah.
Zaura mencoba menahan rasa sakit di dadanya dan berusaha tidak memikirkan hal itu terlalu dalam. Ia duduk di tempatnya, menunduk sambil membuka ponselnya. Jari-jarinya bergerak di layar, meskipun pikirannya tidak benar-benar fokus pada apa yang dilihat. Ia hanya ingin mengalihkan perhatian sambil menunggu kelas dimulai.
Saat bel istirahat berbunyi, Zaura memutuskan untuk pergi ke kantin sendirian. Tidak ada gunanya mencoba mendekati teman-temannya saat ini, pikirnya. Zaura mengedarkan pandangannya ke seluruh kantin yang semakin penuh. Semua meja yang ada kini telah terisi, bahkan meja-meja yang biasanya hanya ditempati dua orang kini dijejali lebih banyak kursi. Ia hanya bisa menghela napas, merasa sedikit beruntung sudah lebih dulu mendapatkan tempat. Di depannya, makanan ringan yang baru saja ia beli masih belum disentuh.
Zaura masih asyik menyeruput minumannya ketika suara tawa khas Syasya dan Alana terdengar semakin mendekat. Ia mendongak perlahan, dan benar saja, kelompok itu kini berdiri di dekat mejanya. Syasya melirik Zaura dengan tatapan tidak ramah, sementara yang lain tampak ragu.
“Wah, penuh semua ya mejanya,” kata Alana sambil berpura-pura memandang sekeliling kantin.
Syasya menghela napas dramatis, lalu menunjuk meja Zaura. “Kok lo duduk sendiri di sini, Za? Gak salah pilih tempat? Ini meja besar, harusnya buat rame-rame, bukan buat satu orang.”
Zaura mendongak, matanya bertemu dengan tatapan Syasya yang jelas-jelas penuh sindiran. Ia ingin membalas, tapi memilih diam, tidak mau memperpanjang masalah.
Nesha yang sedari tadi diam akhirnya angkat bicara. “Syasya, udahlah. Semua meja juga penuh. Mending kita duduk aja di sini,” katanya sambil melirik ke arah Zaura dengan sedikit canggung.
Syasya mendecak kesal, tapi tidak membantah. “Yaudah deh, kalau gak ada pilihan lain.” Ia menarik kursi dengan sedikit kasar dan duduk di seberang Zaura. Alana mengikuti dengan ekspresi enggan, diikuti oleh Kayra dan Nesha yang duduk dengan lebih hati-hati.