So, With Who 19: Pusing Kan Jadinya!

7 0 0
                                        

Recomended song for this chapter

It's You by Ali Gatie

Enjoy guys

Ketujuh sahabat itu kini tengah berkumpul di rumah Zaura, tempat yang sudah dianggap sebagai basecamp mereka

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Ketujuh sahabat itu kini tengah berkumpul di rumah Zaura, tempat yang sudah dianggap sebagai basecamp mereka. Seperti biasa, pagi di hari libur Zaura berubah menjadi lebih ramai karena kedatangan teman-temannya.

"Jadi gimana ceritanya kemarin?" tanya Kayra, membuka pembicaraan dengan nada yang memancing perhatian.

Zaura menghela napas panjang. Sebenarnya, ia enggan menceritakan kejadian itu. Namun, ia tahu bahwa dirinya butuh saran, dan teman-temannya adalah orang-orang yang bisa diandalkan dalam situasi seperti ini.

Dengan berat hati, Zaura akhirnya menceritakan semua yang terjadi. Dari keputusan membatalkan janji dengan Kenzo untuk pergi bersama Mienhar, pertemuannya yang canggung dengan Kenzo di toko hadiah, hingga kejadian di taman yang membuat emosinya tak menentu.

Beragam ekspresi tergambar di wajah teman-temannya—marah, kesal, bahkan bingung. Semuanya ditujukan langsung kepada Zaura. Seolah mereka ingin meluapkan segalanya, tetapi hanya beberapa kata yang berhasil terucap.

Zaina berdecak kesal, ia menatap Zaura dengan tatapan sinisnya. "Kan! Cek aing ge naon! ngeyel si maneh!" ucapnya dengan bahasa dan logat sunda yang ia keluarkan secara spontan.

"Ya lu tolol si Za!" seru Sasa, nada kesalnya begitu kentara. Meski kasar, tampaknya ia merasa sedikit lega setelah meluapkan umpatan itu pada Zaura.

"Jadi lo mau gimana sekarang?" tanya Nesha, mencoba meredam situasi sambil menghela napas panjang.

"Justru itu, gue butuh saran kalian," jawab Zaura dengan nada memelas, matanya penuh harap.

"Giliran udah kejadian begini baru lo nanya ke kita! Kemarin kemana aja? Udah dinasehatin berkali-kali!" balas Nayya dengan suara meninggi. Rasa kesalnya sepertinya sudah tidak bisa ditahan lagi.

Zaura hanya bisa terdiam, merasa semakin kecil di hadapan teman-temannya. Ia tahu semua kata-kata itu benar adanya, dan situasinya kini semakin rumit karena keputusannya sendiri.

"Ya udah deh, sekarang kita coba pikirin solusinya aja. Lo nggak bisa terus-terusan kayak gini, Za," ujar Kayra, berusaha menetralisir suasana. "Kalau lo mau hubungan lo sama Kenzo nggak makin rusak, lo harus mulai komunikasiin ini ke dia."

"Dan soal Mienhar, udah jelas banget dia nggak serius sama lo. Lo buang waktu, Za," tambah Zaina dengan nada datar namun tegas.

So, With Who? Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang