Gimana jadinya, kalau satu cewek dijadiin rebutan sama empat orang cowok sekaligus?
*****
Zaura dihadapkan dengan empat orang pria sekaligus yang harus ia pilih salah satu. Namun, kebimbangan mulai mendatangi hatinya disaat ia ragu harus memilih sal...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Eh, dengerin gue! Selama janur kuning belum melengkung, disitu kita masih bisa menikung! Santai aja Rak," ucap Gavin mencoba memberikan kata-kata penyemangat untuk Rakha.
Laki-laki itu baru saja mengeluh kepada kedua temannya atas kejadian dua hari lalu. Dimana, dirinya bertemu dengan sang pujaan hati sedang bersama laki-laki lain. Rakha merasa sedikit putus asa untuk mendekati gadis pujaannya, ia merasa kalah selangkah dari laki-laki yang ia temui kemarin.
"Tenang aja Rak, selama Zaura masih ngenalin cowok itu sebagai temennya, berarti masih ada kesempatan," ucap Jauzan memberikan semangat.
"Tapi dia itu temen satu sekolahnya, sekelas pula," seru Rakha kembali merasa pesimis. "Sedangkan gue? Gue sama dia aja beda sekolah, bisa ketemu sama dia lagi waktu reuni SD aja udah syukur gue."
"Justru itu Rak!" Gavin menepuk bahu Rakha. "Lo harus bisa jadi yang lebih istimewa buat dia. Lo bisa mulai kasih perhatian lebih ke dia, mulai chat setiap hari ke dia. Pokoknya buat dia nyaman sama lo!" seru dirinya memberikan beberapa saran.
Rakha menghela napas panjang, berusaha mencerna saran-saran yang diberikan kedua temannya. Ia tahu Gavin dan Jauzan bermaksud baik, tapi rasanya situasi ini lebih rumit dari sekadar "memberikan perhatian lebih."
"Gue ngerti maksud lo, Gav," ujar Rakha, suaranya terdengar lesu. "Tapi lo tau kan gue bukan tipe orang yang gampang banget buat mulai chat duluan, apalagi intens gitu."
Jauzan menggeleng sambil tersenyum tipis. "Lo tuh kebanyakan mikir, Rak. Kadang cewek itu lebih seneng kalau cowoknya peka dan inisiatif. Lo gak harus jadi orang lain buat deketin dia, cukup jadi versi terbaik diri lo aja."
Gavin mengangguk setuju. "Bener kata Zan. Lo tuh bisa banget kok buat Zaura tertarik. Lagian, cowok yang sama dia waktu itu kan gak berarti dia pacarnya, kan? Kalau cuma temen, lo masih punya peluang besar!"
Rakha memandang kedua temannya dengan ragu. "Ya, tapi gue juga gak mau kelihatan maksa. Gue takut dia malah ilfeel kalo gue terlalu agresif."
Gavin tersenyum lebar. "Itu kenapa lo harus pinter-pinter baca situasi, Rak. Lo gak perlu chat setiap jam juga, cukup kasih perhatian di waktu yang pas. Misalnya, tanyain soal kegiatan dia, kasih support kecil, atau sekadar kirim meme lucu biar suasana cair. Lo kan tau dia suka humor receh, kan?"
Rakha merenung sejenak, lalu tersenyum tipis. "Hmm, gue coba deh. Tapi pelan-pelan aja ya. Gue gak mau keliatan norak."
"Ya udah, pelan-pelan aja," ucap Jauzan sambil menepuk pundak Rakha. "Yang penting, jangan nyerah dulu. Lo gak tau gimana perasaan dia kalau lo gak usaha."