So, With Who 28: Setelah Rapat

4 1 0
                                        

Recomended song for this chapter

Pura-Pura Lupa by Mahen

Enjoy guys

Zaura memijat pelipisnya, rasa lelah bercampur frustrasi menghiasi wajahnya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Zaura memijat pelipisnya, rasa lelah bercampur frustrasi menghiasi wajahnya. Semalam, setelah rapat selesai, Manda tiba-tiba memberi tahu bahwa ketua divisi dekorasi untuk acara ini adalah Kenzo. Mendengar nama itu saja sudah cukup membuat pikirannya kacau.

Tanpa banyak pilihan, Zaura segera menghubungi Kenzo, meminta agar dirinya dimasukkan ke dalam grup dekorasi. Ia tahu ia harus profesional, meskipun ada rasa enggan yang perlahan menguasainya.

Pagi ini, diskusi di grup sudah dimulai. Beberapa anggota divisi sepakat untuk mencicil pembelian barang-barang yang dibutuhkan hari ini. Awalnya, Zaura berniat untuk tidak ikut, berpikir ia bisa membantu dengan cara lain. Namun, kenyataan berbicara lain. Kekurangan sumber daya membuatnya tak punya alasan untuk menolak.

Masalah lain pun muncul. Saat melihat daftar pembagian tugas, mata Zaura membeku pada satu kolom: "Zaura & Kenzo – Alat dan bahan dekorasi." Dengan kata lain, ia harus menghabiskan hari ini bekerja sama dengan Kenzo, sosok yang baru saja ia temui di kantin kemarin.

Zaura menghela napas panjang, mencoba menenangkan pikirannya. "Ah, asem, asem," keluhnya sambil memijat pelipis. Belum juga suasana hatinya membaik, notifikasi ponsel berbunyi.

Ia mengambil ponselnya, lalu membelalakkan mata saat melihat nama yang muncul di layar. Kenzo.

Pesan itu hanya satu, tetapi cukup untuk membuat perasaannya bercampur aduk:
"Kita cari hari ini ya Za, gue jemput satu jam lagi."

Zaura menatap pesan itu lama, merasa seperti ada beban tambahan yang menekan dadanya. Ia berpikir sejenak sebelum mengetik balasan:
"Oke, gue siap-siap dulu."

Setelah mengirimkan pesan, ia meletakkan ponselnya dan segera bersiap. Tidak ada gunanya menunda atau mengelak lagi, pikirnya.

Sesuai dengan apa yang Kenzo katakan, satu jam setelah ia mengirim pesan, suara motor terdengar berhenti di depan rumah Zaura. Dari balik jendela, Zaura melihat sosok Kenzo melepas helmnya, lalu menunggu di atas motor sambil memeriksa ponselnya.

Zaura keluar dari rumah, tas selempang kecil sudah tersampir di bahunya. Langkahnya terasa berat, seolah ia menimbang-nimbang setiap gerakan.

Kenzo menoleh ketika mendengar pagar terbuka. "Udah siap?" tanyanya sambil menyunggingkan senyum tipis.

Zaura mengangguk kecil. "Iya, udah."

So, With Who? Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang