Gimana jadinya, kalau satu cewek dijadiin rebutan sama empat orang cowok sekaligus?
*****
Zaura dihadapkan dengan empat orang pria sekaligus yang harus ia pilih salah satu. Namun, kebimbangan mulai mendatangi hatinya disaat ia ragu harus memilih sal...
"Fa, hari ini kita bakal collab kah sama sekolah lain?" tanya Zaura, matanya tetap terpaku pada layar laptop di depannya. Sudah terhitung lebih dari satu jam gadis itu duduk di ruang ekskulnya sambil berkutat dengan data penelitian yang tersaji di layar laptopnya.
"Iya, Za, sama sekolahnya Aiden. Gue denger di sana ada beberapa alat yang kita butuhin, dan di sini ada beberapa alat yang mereka butuh juga, jadi kayak semacam timbal balik gitu," jelas Faza yang kini juga menatap layar laptop miliknya, mempersiapkan presentasi yang akan mereka bawakan di depan pelatih dan juga Aiden bersama teman-temannya nanti.
"Oke lah kalo gitu," ucap Zaura memberikan isyarat dengan melingkarkan jarinya.
Mereka berdua kembali larut dengan laptop masing-masing, mempersiapkan segala sesuatu yang perlu untuk presentasi. Ruangan ekskul itu tetap tenang, hanya suara ketikan yang terdengar, hingga akhirnya 30 menit berlalu, dan pintu ruangan terbuka.
Aiden muncul bersama beberapa teman satu timnya. Ia melangkah masuk dengan santai, lalu melambaikan tangan kecil ke arah Zaura. "Hai, Za!" sapanya dengan nada basa-basi, senyum tipis menghiasi wajahnya.
Zaura mendongak dari layar laptopnya, menatap Aiden sebentar sebelum membalas. "Hai, Den. Udah nyampe aja, ya?" ucapnya datar, mencoba bersikap profesional meskipun ada sedikit rasa canggung.
"Iya, gue sama tim sengaja dateng lebih awal biar kita bisa diskusi lebih lama. Kalau alat-alatnya udah siap, kita bisa langsung mulai," jawab Aiden sambil melirik Faza yang terlihat sibuk menyiapkan file presentasi.
Faza menoleh sekilas, mengangguk. "Santai aja, Den. Kita udah siap kok, tinggal tunggu lo semua aja."
Setelah diskusi selesai, mereka semua memutuskan untuk pergi ke kantin untuk mengisi perut. Suasana santai mulai terasa, obrolan ringan mengalir di antara mereka sambil menunggu makanan yang dipesan. Beberapa menit kemudian, meja mereka penuh dengan berbagai macam makanan dan minuman.
Zaura yang duduk di antara Faza dan Aiden mulai menyuapkan makanannya dengan lahap. Saat asyik mengunyah, tanpa sadar ada sedikit noda saus tertinggal di sudut bibirnya.
"Za, di bibir lo ada saus tuh," ujar Faza sambil menunjuk ke arah mulut Zaura.
Zaura langsung berhenti mengunyah, menatap Faza dengan bingung. "Mana sih?" tanyanya sambil mengusap-usap bibirnya dengan asal.
"Masih ada, di kanan," kata Faza, namun Zaura tetap belum menemukan noda yang dimaksud.
Tiba-tiba, Aiden yang duduk di seberangnya meraih tisu di dekatnya. "Sini, gue bantu," ucapnya seraya mengarahkan tisu itu ke wajah Zaura.
Zaura terkejut melihat gerakan mendadak itu dan dengan cepat menahan tangan Aiden sebelum tisu itu menyentuh wajahnya. "Nggak usah, gue bisa sendiri," katanya cepat, sambil mengambil tisu dari tangan Aiden.
Aiden hanya terkekeh kecil. "Santai aja, gue cuma mau bantu," katanya dengan nada ringan.
Zaura buru-buru mengelap bibirnya sendiri, memastikan tak ada lagi noda yang tersisa. Sementara itu, Faza tak bisa menahan tawanya. "Aiden, lo heroik banget, tapi kayaknya Zaura lebih milih mandiri, deh."
Zaura menatap Faza dengan mata menyipit, lalu melanjutkan makannya sambil berusaha mengabaikan kehebohan kecil tadi. Di sisi lain, Aiden hanya tersenyum tipis, kembali menikmati makanannya. Satu hal yang tidak mereka sadari adalah, dari kejauhan, seorang gadis berdiri di balik tiang dekat kantin. Wajahnya nyaris tersembunyi di balik hoodie yang ia kenakan, namun sorot matanya tajam mengamati setiap interaksi yang terjadi di meja Zaura dan teman-temannya.
Sambil menggenggam ponselnya, gadis itu dengan sigap mengambil beberapa foto dari kejadian tadi—mulai dari Aiden yang mencoba membersihkan noda di bibir Zaura, hingga momen tawa mereka yang begitu lepas. Dia memandang hasil fotonya dengan senyum kecil yang sulit diartikan.
"Menarik," gumamnya pelan, sebelum dengan cepat melangkah pergi tanpa suara, seolah tak ingin kehadirannya diketahui oleh siapapun.
*** Jam sudah menunjukkan pukul setengah tiga sore. Diskusi mereka telah selesai, dan satu per satu mulai berkemas untuk pulang. Zaura masih sibuk menatap layar ponselnya dengan wajah gelisah. Sedari tadi, aplikasinya terus error, membuatnya tidak bisa memesan ojek online.
Aiden yang melihat itu mendekat. "Za, masih belum dapet juga?" tanyanya dengan nada perhatian.
Zaura tersenyum kecil, mencoba terlihat santai meskipun dalam hati ia mulai panik. "Iya nih, masih error. Gue coba lagi aja nanti."
Aiden mengerutkan kening. "Udah jam segini, lo nggak buru-buru? Lo emangnya gak ada les?."
Zaura tersentak mendengar itu. Benar juga, ia sudah terlanjur mengatur jadwal les, dan jika terus-terusan begini, ia akan terlambat. Namun, rasa enggan untuk merepotkan Aiden membuatnya tetap berusaha mencari cara lain.
"Yaudah, gini aja," kata Aiden, menyela lamunan Zaura. "Kalau lo nggak mau gue anter sampe tempat tujuan lo, gimana kalau gue anter lo sampe stasiun aja? Biar lo bisa naik kereta atau transport lain ke tempat les lo."
Zaura terdiam sejenak. Tawaran itu terdengar masuk akal, tapi rasa canggung masih menghantui. Ia menimbang-nimbang sambil melirik jam tangan. Waktu benar-benar tidak berpihak padanya.
"Serius, Za. Gue nggak keberatan kok. Nanti malah lo terlambat ke les," desak Aiden, menatapnya dengan nada meyakinkan.
Akhirnya, Zaura mengangguk pelan, meskipun hatinya masih terasa berat. "Oke deh, kalo cuma sampe stasiun aja. Makasih ya, Den. Gue beneran nggak enak."
Saat mereka berjalan keluar bersama, Zaura tetap merasa sedikit canggung, terutama mengingat perasaan sahabatnya, Sasa. Namun, ia tidak punya banyak pilihan kali ini.
Tanpa mereka sadari, dari kejauhan, seseorang memperhatikan interaksi itu dengan mata tajam. Orang tersebut dengan cepat mengangkat kamera ponselnya dan memotret momen saat Zaura dan Aiden berjalan bersama menuju motor.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.