Beberapa pasang dari mata teman-temannya, menatapnya dengan tatapan tidak suka dan sinis. Berusaha untuk tidak memperdulikan hal itu, Zaura tetap melangkahkan kakinya ke dalam kelas, lalu menaruh tas nya di bangku paling belakang.
"Hai Za, tumben baru dateng," ucao Mawar yang ada di sebelahnya, yang kini menjadi teman sebangku Zaura.
"Telat bangub tadi," balas Zaura singkat. Mawar mengangguk pelan. Tak berniat melanjutkan obrolan mereka, Zaura memakai earphone nya lalu mulai memainkan ponselnya.
Tak selang berapa lama pelajaran pun di mulai. Suasana kelas menjadi hening ketika guru masuk ke dalam ruangan. Zaura melepas salah satu earphone-nya, hanya untuk memastikan ia tidak melewatkan apa pun. Namun, perhatian gadis itu lebih banyak tertuju pada layar ponselnya daripada materi yang disampaikan.
Sesekali, suara tawa kecil terdengar dari barisan depan. Zaura tahu betul dari mana suara itu berasal—kelompok teman-temannya yang dulu. Mereka terlihat asyik berbicara, saling berbisik, dan sesekali melirik ke arah Zaura.
Mawar yang duduk di sebelahnya mencuri pandang ke arah Zaura, tampak khawatir. "Lo nggak papa, Za?" tanyanya pelan, memastikan tidak ada yang mendengar.
Zaura tersenyum kecil tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponsel. "Gue nggak apa-apa. Santai aja," jawabnya dengan nada datar.
Mawar mengangguk ragu, tapi tidak ingin memaksa. Ia kembali fokus ke buku catatannya, membiarkan Zaura dengan dunianya sendiri.
Zaura menarik napas panjang, mencoba mengabaikan semua tatapan sinis dan bisikan yang jelas-jelas disengaja untuk membuatnya merasa tidak nyaman. Dalam hati, ia berkata pada dirinya sendiri, Gue nggak butuh mereka. Gue bisa sendiri. Gue cuma perlu waktu.
Namun, meski ia berusaha terlihat kuat, ada perasaan kosong yang sulit diabaikan. Ia merindukan tawa dan kebersamaan yang dulu begitu hangat. Tapi sekarang, semua itu terasa seperti kenangan yang sangat jauh, hampir tak terjangkau.
Zaura menatap buku tulis di depannya dengan penuh konsentrasi. Namun, beberapa saat kemudian, rasa sakit tajam tiba-tiba menjalar di pinggangnya. Tanpa sadar, pulpen yang dipegangnya terjatuh. Zaura langsung membungkuk, kedua tangannya menekan pinggang sebelah kirinya yang terasa begitu nyeri.
Mawar, yang duduk tak jauh darinya, langsung menoleh dengan ekspresi khawatir. "Za, lo gak apa-apa?" tanyanya cepat.
Zaura hanya menggelengkan kepala dengan lemah, tak sanggup mengeluarkan sepatah kata pun.
"Apa yang sakit, Za?" Mawar bertanya lagi, pandangannya mengikuti gerakan tangan Zaura yang terus memegangi pinggangnya. "Pinggang lo yang sakit?" ulangnya dengan nada cemas. Kali ini, Zaura mengangguk pelan.
"Sakit ini udah kerasa dari semalem," Zaura menjelaskan dengan suara tertahan. "Tadi pagi sih sempet mendingan abis gue mandi pake air hangat, tapi sekarang... gak tau kenapa nyerinya balik lagi," lanjutnya, wajahnya meringis menahan rasa sakit.
Keributan kecil antara Zaura dan Mawar ternyata menarik perhatian Rizki, yang duduk tidak jauh dari mereka. Ia mendekat dengan langkah cepat, rasa penasaran jelas tergambar di wajahnya.
"Zaura kenapa?" tanya Rizki, suaranya diarahkan pada Mawar, meski pandangannya tidak lepas dari Zaura yang masih memegangi pinggangnya dengan raut kesakitan.
"Gue juga gak tahu," jawab Mawar, suaranya terdengar cemas. "Tapi dari tadi dia terus megang pinggangnya."
Mendengar penjelasan Mawar, Rizki segera mengambil tindakan. Ia melangkah menuju meja guru di depan kelas, tempat Bu Sinta sedang duduk. Sebagai guru Biologi sekaligus yang bertanggung jawab di UKS, Bu Sinta adalah sosok yang tepat untuk membantu. Rizki terlihat berbicara serius dengannya, dan tak butuh waktu lama, Bu Sinta bangkit dari kursinya dan berjalan cepat menuju meja belakang, tempat Zaura dan Mawar berada.
Pergerakan Bu Sinta yang mendadak membuat suasana kelas berubah. Para siswa, yang sebelumnya sibuk dengan buku catatan masing-masing, mulai mengarahkan perhatian mereka ke belakang. Beberapa mulai berbisik-bisik, bertanya-tanya apa yang sedang terjadi.
"Zaura, ada apa, Nak?" tanya Bu Sinta dengan nada lembut namun penuh perhatian. Ia berjongkok agar sejajar dengan Zaura, mencoba memberikan kenyamanan.
Tangan Bu Sinta perlahan menyentuh tangan Zaura yang terus memegang pinggangnya. "Coba Ibu lihat, ya," katanya dengan hati-hati. Ia membuka gesper Zaura dan sedikit mengangkat bagian bawah seragamnya. Seketika, Bu Sinta terlihat terkejut. Di pinggang Zaura tampak jelas sebuah memar besar berwarna merah pekat, yang terlihat sangat mencolok di kulitnya.
"Ini kenapa, Zaura? Kok bisa sampai begini?" tanya Bu Sinta, suaranya terdengar khawatir sekaligus heran.
Zaura hanya menunduk, menggigit bibirnya seolah mencoba menahan sesuatu yang tak ingin ia ungkapkan. Mawar dan Rizki saling bertukar pandang, mencari jawaban dari ekspresi Zaura, namun tak ada sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Bu Sinta, yang semakin khawatir melihat keadaan Zaura, akhirnya memutuskan untuk membawanya ke UKS.
Di UKS, Bu Sinta dengan sigap mengambil kain bersih dan merendamnya di air dingin. Ia perlahan-lahan mengompres memar di pinggang Zaura, berharap rasa nyeri yang dirasakannya dapat sedikit mereda. Zaura meringis pelan setiap kali kain dingin itu menyentuh kulitnya, tapi ia tetap berusaha kuat.
"Ibu tinggal dulu, ya, Za," kata Bu Sinta sambil meletakkan kain kompres di sisi meja. "Nanti setelah istirahat kedua, anak-anak PMR akan ke sini untuk bantu jaga."
Zaura mengangguk pelan, mencoba tersenyum meski raut wajahnya masih menyiratkan rasa sakit. "Makasih banyak ya, Bu," ucapnya dengan suara lemah namun tulus.
"Sama-sama, Nak. Jangan sungkan kalau butuh apa-apa," balas Bu Sinta dengan hangat sebelum melangkah keluar dari UKS, meninggalkan Zaura sendirian.
Zaura menyandarkan tubuhnya di ranjang UKS, memegangi kain kompres yang dingin di atas pinggangnya. Rasa nyeri itu masih terasa jelas, tapi kini pikirannya lebih sibuk mencoba mengingat apa yang sebenarnya terjadi kemarin. Perlahan, kejadian di ruangan kosong itu kembali tergambar di benaknya—momen ketika Alana tiba-tiba mendorongnya hingga tubuhnya membentur ujung meja dengan keras.
Saat itu suara keras brak! terdengar, memecah keheningan.
Zaura tersentak. Suara yang sama kini kembali terdengar, kali ini dari arah pintu UKS yang baru saja dibuka dengan kasar. Pandangannya langsung terarah ke sana, dan ia menghela napas panjang, berusaha menahan emosi saat melihat siapa yang datang menghampirinya.
"Mau ngapain kalian?" Zaura bertanya dengan nada sinis, matanya menatap tajam ke arah dua sosok yang sangat ia kenali—Syasya dan Alana. Dibelakangnya mereka tampak Sasa, Kayra, dan Nayya yang turut datang menghampiri Zaura
Kedua gadis itu berjalan mendekat, langkah mereka terkesan santai, namun ada kesan mengintimidasi yang jelas terasa di udara. Syasya tersenyum kecil, sementara Alana hanya menatap dingin ke arah Zaura.
"Kita cuma mau lihat kondisi lo kok, Za," ucap Alana dengan nada manis yang dibuat-buat, seolah-olah ia benar-benar peduli.
"Gausah sok peduli!" sentak Zaura dengan nada tajam.
"Za! Yang sopan, mereka niatnya baik. Harusnya lo yang minta maaf ke mereka karena udah nampar mereka kemarin dan nuduh mereka yang enggak-enggak," bentak Sasa tiba-tiba, membuat Zaura melotot tak percaya.
"Hah? Gue gak nuduh mereka!" balas Zaura, nadanya penuh ketidakpercayaan dan amarah. Ia tahu Syasya dan Alana sedang memutarbalikkan fakta, tapi tidak menyangka mereka bisa sejauh ini.
"Gausah ngelak, Kayra jadi saksinya kok," tambah Nayya yang berada di belakang Sasa.
"Guys! Udah, gak usah ribut. Gue sama Alana gapapa kok, mungkin kemarin salah paham aja," ujar Syasya dengan nada tenang, seakan mencoba menjadi penengah. Namun, tatapan matanya yang menyiratkan kemenangan membuat Zaura semakin geram.
Zaura mengepalkan tangan, menahan emosinya yang nyaris meledak. Ia tahu dirinya tidak bersalah, tapi kehadiran teman-temannya dan tuduhan yang Alana dan Syasya lontarkan membhat posisinya terasa semakin terpojok.
"Gue gak akan minta maaf untuk hal yang gak aku lakuin," kata Zaura akhirnya, suaranya tegas meski tubuhnya masih terasa lemas. "Kalian semua tahu siapa yang salah di sini."
Syasya hanya tersenyum tipis, sementara Alana mengangkat bahu dengan sikap acuh. "Kita lihat aja, Zaura. Kebenaran itu soal siapa yang lebih pintar memainkannya," kata Alana pelan, tapi cukup jelas untuk membuat Zaura semakin yakin ada sesuatu yang besar yang sedang mereka sembunyikan.
KAMU SEDANG MEMBACA
So, With Who?
RomanceGimana jadinya, kalau satu cewek dijadiin rebutan sama empat orang cowok sekaligus? ***** Zaura dihadapkan dengan empat orang pria sekaligus yang harus ia pilih salah satu. Namun, kebimbangan mulai mendatangi hatinya disaat ia ragu harus memilih sal...
