Gimana jadinya, kalau satu cewek dijadiin rebutan sama empat orang cowok sekaligus?
*****
Zaura dihadapkan dengan empat orang pria sekaligus yang harus ia pilih salah satu. Namun, kebimbangan mulai mendatangi hatinya disaat ia ragu harus memilih sal...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Melupakan sejenak semua masalah yang ada, Zaura memutuskan untuk menyingkirkan beban pikirannya. Ia memilih membiarkan konflik dengan teman-temannya mengalir tanpa solusi, setidaknya untuk sementara. Mungkin terdengar seperti bentuk pelarian, tapi bagi Zaura, kadang-kadang melupakan sejenak lebih baik daripada terus-menerus terjebak dalam lingkaran permasalahan yang tak kunjung usai.
Lagipula, ia merasa percuma membela diri atau mencoba memberikan penjelasan. Bagaimana pun, ada dua orang yang sepertinya tak akan berhenti menjadi penghalang. Syasya dan Sasa terus menyulut api, menghasut teman-teman lain agar percaya pada cerita yang hanya mereka yakini.
Zaura tahu, kata-kata mereka terlalu kuat untuk dilawan hanya dengan penjelasan. Jadi, untuk apa repot-repot berusaha meyakinkan? Dalam pikirannya, lebih baik menjaga jarak dan fokus pada dirinya sendiri. Setidaknya itu lebih baik daripada membuang energi memperbaiki sesuatu yang mungkin sudah terlalu retak.
Zaura memutuskan untuk melepas penat dengan menghabiskan waktu di tempat favoritnya—sebuah taman kecil yang tak banyak orang tahu. Di sana, ia merasa bebas, jauh dari semua drama yang ada. Ia membawa buku catatan kecil, menuangkan semua pikirannya ke dalam tulisan, berharap sedikit rasa lega bisa muncul.
Zaura menutup buku catatannya, merasa cukup lega setelah menulis panjang lebar tentang semua yang berkecamuk di pikirannya. Ia menghela napas panjang, menikmati angin sore yang sejuk di taman kecil itu. Namun, suara langkah mendekat membuatnya menoleh ke arah jalan setapak.
Sosok yang tak asing muncul dari balik pepohonan. Mienhar, sahabat lamanya yang sudah lama tak ditemuinya, berdiri di sana dengan senyum kecil di wajahnya. "Zaura?" panggilnya ragu.
Zaura mengerjap, sedikit terkejut. "Mienhar? Ya ampun, lo ngapain di sini?" tanyanya, senyum mulai merekah di wajahnya.
Mienhar mendekat, lalu duduk di bangku yang sama dengan Zaura tanpa basa-basi. "Gue lagi cari udara segar, gak nyangka malah ketemu lo di sini. Udah lama banget ya kita gak ngobrol?"
Zaura mengangguk. "Banget. Terakhir, waktu gue nemenin lo itu kan. Btw, gimana kabar lo?"
Mienhar tertawa kecil. "Biasa aja, Za. Hidup gak banyak berubah. Lo sendiri gimana? Kok kelihatan lesu gitu? Cerita dong," tanyanya sambil menatap Zaura dengan penuh perhatian.
Zaura ragu sejenak, tapi akhirnya menyerah. Rasanya menyenangkan bisa bicara dengan seseorang yang tidak terlibat dalam semua drama hidupnya belakangan ini. "Gue lagi ada masalah sama teman-teman gue. Sebenernya pengin nyerah aja, tapi... ya lo tahu kan, kadang gue terlalu peduli sama mereka," ucapnya dengan senyum pahit.