Gimana jadinya, kalau satu cewek dijadiin rebutan sama empat orang cowok sekaligus?
*****
Zaura dihadapkan dengan empat orang pria sekaligus yang harus ia pilih salah satu. Namun, kebimbangan mulai mendatangi hatinya disaat ia ragu harus memilih sal...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sudah sekitar satu minggu Zaura berbaring di kasur rumah sakit. Kini, akhirnya ia diperbolehkan pulang. Setelah beberapa hari beristirahat di rumah, pagi ini ia kembali ke sekolah dengan perasaan campur aduk.
Zaura melangkah perlahan memasuki kelas, hatinya sedikit berdebar. Beberapa teman yang melihatnya langsung menyambutnya dengan antusias.
"Zaura! Udah sembuh?" tanya Zaina sambil menghampirinya dengan senyum lebar.
"Gue kira lo bakal istirahat lebih lama, Za," celetuk Nesha, yang ikut bergabung dalam percakapan. "Tapi, jangan maksa, ya. Kalau capek, langsung bilang aja ke guru."
Zaura mengangguk pelan. Hatinya menghangat oleh perhatian teman-temannya, meski ada perasaan asing yang sulit dijelaskan. Sekilas, segalanya terlihat sama seperti biasanya, tetapi ada sesuatu yang terasa berbeda. Ia menyadari bahwa keenam sahabatnya kini tampak semakin akrab dengan Alana dan Syasya.
Awalnya, Zaura mencoba mengabaikan hal itu. Tapi seiring waktu, ia tak bisa memungkiri rasa asing yang semakin menguat. Mereka terlihat asyik berbincang, tertawa, dan bercanda—semua tanpa melibatkan Zaura. Ketika ia mencoba memulai topik, tanggapan mereka terasa dingin dan sekadarnya. Namun, jika Alana atau Syasya yang berbicara, respon mereka begitu penuh antusiasme.
Zaura menghela napas panjang, memaksakan senyum yang semakin tipis. "Ternyata perhatian tadi cuma sekedar basa-basi, ya," gumamnya dalam hati, mencoba menenangkan diri meski perasaan itu mulai mengendap lebih dalam.
"Eh, eh, guys, tau nggak? Alana lagi suka sama seseorang, loh!" ucap Syasya tiba-tiba dengan nada menggoda.
Alana yang duduk di sampingnya langsung menunduk malu, rona merah jelas terlihat di pipinya. "Ih, Syasya! Jangan ngomong gitu, deh," protesnya sambil mendorong pelan lengan Syasya, mencoba menyembunyikan senyumnya yang malu-malu.
Respons teman-teman mereka langsung heboh. "Serius? Siapa, Lan?" tanya Nesha dengan mata berbinar.
"Beneran nih? Jangan-jangan anak kelas sebelah, ya?" tambah Zaina, penasaran.
Alana hanya menggeleng pelan sambil tetap menunduk, membuat suasana semakin ramai dengan tawa dan dugaan-dugaan liar.
Di tengah keramaian itu, Zaura duduk diam, mencoba ikut tersenyum. Tapi dalam hatinya, ada sesuatu yang mengganjal. Ia merasa semakin terpinggirkan, seperti hanya menjadi penonton di tengah kebahagiaan mereka.