Enjoy for this chapter guys

Hari ini, untuk pertama kalinya sekolah mereka menyelenggarakan acara dengan melibatkan peserta dari luar. Atmosfer sekolah dipenuhi hiruk pikuk kesibukan. Setiap panitia, dari ketua acara hingga anggota biasa, berjibaku dengan tugasnya.
Kenzo, yang duduk di ruang OSIS, mengamati Zaura yang berseliweran seperti lebah pekerja. Ia berpindah dari ruang OSIS ke lapangan, lalu ke ruang multimedia, ruang guru, dan seakan menjelajahi setiap sudut sekolah, kecuali ruang laboratorium.
"Za, istirahat dulu gih, lo dari tadi kayak setrikaan gue liat-liat mondar-mandir mulu," ucap Ken. Ia merogoh saku bajunya, menemukan tisu yang kemudian ia berikan kepada Zaura.
Zaura menerimanya dengan senyuman. "Makasi ya, gue harus nyelesain semuanya biar beres sekalian, acara juga udah mau dimulai tapi semuanya belum rapih, murid-murid yang lain juga udah pada nungguin, Virly yang tiba-tiba sakit bikin gue kewalahan ngurus semua gantiin dia," ucap Zaura, napasnya sedikit tersengal.
Kehebohan Zaura ini terjadi karena ketua acara mendadak terjatuh dalam perjalanan menuju sekolah, membuat Zaura, sebagai wakil ketua, harus turun tangan. Padahal, sebagai anggota MPK, ia tidak punya kewenangan langsung, namun pembina mereka lebih mempercayakan acara ini kepadanya.
Zaura meraih botol minum di sampingnya, meneguk habis air putih itu dengan beberapa kali tegukan.
"Pelan-pelan Za, gausah buru-buru nanti lo nya sendiri yang capek," ucap Ken dengan nada khawatir.
Ia menatap gadis itu dengan cemas. Wajah Zaura mendadak pucat, bibirnya pun tampak kering. Ken takut terjadi apa-apa kepada gadis itu.
"Iya, makasi Ken perhatiannya. Udah ya gue mau lanjut lagi, Lo bagian keamanan kan tolong di koordinir sekarang ya, acaranya mau mulai, gue tinggal ngecek soundsystem doang kok," ucap Zaura.
Ia melangkah pergi setelah melihat Kenzo mengangguk setuju. Zaura kembali disibukkan dengan berbagai urusan, memastikan acara berjalan lancar dan terkoordinir dengan baik. Ia menuju lapangan, berniat mengecek persiapan sebelum acara inti dimulai.
"Nai, udah semua? Ada yang kurang gak?" tanya Zaura kepada Naina, salah satu temannya yang bertugas di lapangan.
Naina mengangguk. "Udah kok Za, semuanya udah aman. Kalo pun nanti ada yang gak beres, tim udah nyiapin teknisi buat standby. Udah terkendali pokoknya. Oh iya, btw lo tadi dicariin sama Kayra dan temen-temen lo yang lain, lo ditungguin di koridor gedung A sama mereka."
Zaura melirik jam tangannya, memperkirakan waktu untuk bertemu teman-temannya. Ia khawatir jika itu akan sia-sia dan membuang waktu, terlebih lagi hubungan mereka belum benar-benar membaik.
"Temuin dulu Za, siapa tau penting. Panitia di sini gak cuma lo doang kok gak usah sekhawatir itu sama kita, lo percaya sama kita jadi kita gak akan kecewain lo, oh iya satu lagi jangan lupa abis ini lo makan dulu muka lo udah pucet," ucap Naina seolah tahu apa yang sedang Zaura pikirkan.
Zaura mengangguk, lalu tersenyum. Ia melangkah menuju koridor gedung A untuk menemui teman-temannya. Dari kejauhan, ia melihat mereka. Tanpa basa-basi, Zaura mempercepat langkahnya.
"Ada apa? Kata Naina kalian nyariin gue? Ada apa?" tanya Zaura langsung saat ia sudah berhadapan dengan keenam temannya. Mereka terkejut melihat Zaura datang, padahal mereka berpikir Zaura terlalu sibuk untuk menghampiri mereka.
Sebenarnya, mereka tahu ini bukan waktu yang tepat, mengingat kesibukan Zaura dan fokusnya pada acara ini. Namun, mereka juga berpikir tidak bisa terus saling diam seperti ini, alhasil mereka memutuskan untuk berbicara dengan Zaura hari ini.
Tak seorang pun dari mereka yang memulai percakapan, membuat Zaura sedikit kesal karena ia merasa membuang waktunya.
"Kalo gak ada yang mau diomongin gue pergi, gue masih banyak hal lain yang mau diurusin." Kakinya melangkah menjauh dari sana, namun baru beberapa langkah, tangannya ditahan oleh seseorang yang membuatnya terpaksa berhenti.
Ia menengok ke arah belakang, Nara yang ternyata menahan tangannya. Zaura menaikkan sebelah alisnya, meminta penjelasan, apa yang mereka inginkan.
"Muka lo pucat banget, belom makan?" tanya Nara sedikit berbasa-basi. Wajah Zaura memang sangat pucat ditambah dengan bibirnya yang kering dan perawakannya yang sedikit berantakan karena harus berlari kesana kemari.
KAMU SEDANG MEMBACA
So, With Who?
Roman d'amourGimana jadinya, kalau satu cewek dijadiin rebutan sama empat orang cowok sekaligus? ***** Zaura dihadapkan dengan empat orang pria sekaligus yang harus ia pilih salah satu. Namun, kebimbangan mulai mendatangi hatinya disaat ia ragu harus memilih sal...
