Gimana jadinya, kalau satu cewek dijadiin rebutan sama empat orang cowok sekaligus?
*****
Zaura dihadapkan dengan empat orang pria sekaligus yang harus ia pilih salah satu. Namun, kebimbangan mulai mendatangi hatinya disaat ia ragu harus memilih sal...
Setelah beberapa hari beristirahat, akhirnya Zaura mulai merasa lebih baik. Suaranya yang sempat hilang kini perlahan kembali, meski masih sedikit serak. Pagi itu, ia berdiri di depan cermin kamarnya, memastikan dirinya sudah cukup sehat untuk kembali ke sekolah.
Zaura mengenakan seragamnya dengan rapi, merapikan rambutnya, dan mematut diri sebentar. "Hari pertama balik sekolah setelah sakit, semoga nggak ada drama," gumamnya pada diri sendiri sebelum mengambil tasnya dan berjalan keluar kamar.
Saat tiba di sekolah, suasana ramai seperti biasa. Beberapa teman yang melihatnya langsung menyapa dengan antusias.
"Zaura! Lo udah sembuh, ya? Kok nggak bilang-bilang sih!" seru Zaina yang langsung memeluknya erat di depan kelas.
"Pelan-pelan, Nai, gue masih belum pulih banget," ucap Zaura sambil tertawa kecil, merasa hangat dengan perhatian temannya.
"Nah, gue udah bilang kan lo bakal balik hari ini," tambah Nara yang sudah berdiri di belakang Zaina.
"Serius lo bilang? Gue malah nggak tau," balas Kayra sambil ikut menghampiri.
Zaura tersenyum pada mereka bertiga, merasa bersyukur punya teman-teman yang perhatian. Namun, saat dia hendak masuk kelas, matanya langsung menangkap sosok Rizki dan Kenzo yang berdiri di depan pintu kelas, seolah menunggunya. Keduanya menatapnya dengan ekspresi yang sulit diartikan.
"Eh, ini kenapa dua orang ini kayak penjaga gerbang?" goda Zaina pelan, membuat Zaura menghela napas panjang.
Rizki adalah yang pertama berbicara. "Zaura, gue cuma mau nanya, lo udah beneran sembuh, kan?" suaranya terdengar lembut tapi penuh perhatian.
Zaura mengangguk pelan. "Iya, Ki. Gue udah mendingan sekarang. Makasih loh waktu itu udah repot-repot bantu gue."
Belum sempat Rizki menjawab, Kenzo menyela. "Bagus deh kalau lo udah sembuh, Za. Gue juga kemarin sempat mau mampir lagi, tapi nggak enak ganggu waktu lo istirahat."
Zaura tersenyum kaku, merasa canggung di antara keduanya. "Iya, makasih juga, Ken. Gue beneran nggak nyangka kalian segitu perhatiannya."
Zaina yang melihat situasi itu langsung berbisik ke Kayra dan Nara. "Wah, seru banget nih. Dua cowok rebutan Zaura lagi," katanya sambil menahan tawa.
Zaura yang mendengar bisikan itu hanya bisa menghela napas. "Kalian nggak usah bikin situasi makin canggung, dong," ujarnya, setengah protes.
Namun, sebelum situasi makin memanas, bel sekolah berbunyi, menandakan waktu masuk kelas. Rizki akhirnya melangkah masuk dengan ekspresi yang masih sama seriusnya. Sama dengan Rizki, Kenzo pun memilih untuk kembali ke kelasnya sambil menatap Rizki dengan wajah yang serius. Zaura hanya bisa menggelengkan kepala, mencoba fokus pada pelajaran hari ini.
"Kayaknya hari pertama gue balik sekolah bakal panjang banget," gumamnya pelan sambil menatap bangkunya yang akhirnya terasa akrab kembali.
Zaura menaruh tasnya di atas meja lalu duduk di bangku yang beberapa hari ini kosong karena ia tidak hadir. Ia tersenyum kecil saat Zaina menyapanya hangat.
Mereka pun mulai berbincang santai bersama beberapa teman lain. Namun, suasana akrab itu mendadak berubah ketika Syasya tiba-tiba menghampiri mereka. "Cowok lo banyak, ya, Za?" ucap Syasya santai, tapi nadanya penuh dengan sindiran yang jelas terasa menusuk.
Empat pasang mata langsung tertuju pada Syasya, sementara Zaura memicingkan matanya. Raut wajahnya yang tadinya santai kini berubah serius. Ucapan Syasya terdengar tajam, terutama karena hubungan mereka yang belum cukup dekat untuk bercanda seperti itu. "Maksud lo apa?" tanya Zaura dingin, jelas menunjukkan ketidaksukaannya.
Syasya mengangkat bahu santai, seolah tak menyadari suasana yang mulai memanas. "Nggak maksud apa-apa, cuma… keliatan aja. Lo kayaknya gampang banget akrab sama cowok. Kemarin sama Rizki, terus sekarang Kenzo. Gue juga denger lo punya teman cowok di luar sekolah, dua malah."
Ucapan itu membuat Kayra dan Nara saling melirik, mencoba membaca situasi. Meski tak ingin langsung menyimpulkan, mereka tahu Syasya menyentuh topik yang cukup sensitif. Zaura menatap Syasya dengan heran sekaligus kesal. "Lo tau dari mana soal itu?" tanyanya tegas.
"Sasa, Nesha, sama Nayya pernah cerita sedikit waktu itu," jawab Syasya enteng, tanpa rasa bersalah.
Zaura menahan napas, berusaha tetap tenang. "Kalau menurut lo gue gampang akrab sama cowok, itu hak lo buat mikir kayak gitu. Tapi gue nggak suka cara lo ngomong seolah lo tau segalanya tentang gue."
Syasya tersenyum tipis, nyaris mengejek. "Ya udah, santai aja, Za. Gue cuma ngasih pendapat, maaf kalau lo tersinggung," katanya dengan nada datar sebelum berbalik dan pergi, meninggalkan suasana yang masih canggung.
Zaura menarik napas panjang, menoleh ke arah Kayra dan Nara yang tampak ragu untuk bicara. "Kalian juga mikir kayak dia, ya?" tanyanya pelan, nyaris seperti bisikan.
Kayra tersenyum kecil, mencoba menenangkan suasana. "Bukan gitu, Za. Cuma... nggak bisa dipungkiri, lo emang gampang bikin orang nyaman, apalagi cowok-cowok. Mungkin itu yang Syasya lihat."
Nara mengangguk setuju. "Iya, Za. Tapi bukan berarti itu hal yang buruk. Kita nggak bisa kontrol apa yang orang pikirkan tentang kita, kan?"
Zaina, yang sejak tadi diam, akhirnya buka suara. "Setuju. Gue rasa Syasya cuma salah paham sama cara lo bersikap. Lagipula, itu cuma opini dia. Nggak usah diambil hati, Za."
Zaura terdiam, menatap ketiga temannya satu per satu. Ia tahu mereka benar, tetapi tetap saja, komentar Syasya tadi meninggalkan bekas yang mengganggu. Bukan karena ia tak yakin dengan dirinya, tetapi karena ia sadar bahwa tak semua orang bisa memahami niat baiknya dengan cara yang sama.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.