Gimana jadinya, kalau satu cewek dijadiin rebutan sama empat orang cowok sekaligus?
*****
Zaura dihadapkan dengan empat orang pria sekaligus yang harus ia pilih salah satu. Namun, kebimbangan mulai mendatangi hatinya disaat ia ragu harus memilih sal...
Kembali lagi ke sekolah juga berarti kembali ke rutinitas lainnya, salah satunya adalah menghadiri rapat organisasi. Rapat bulanan ini diadakan untuk mengevaluasi kinerja OSIS selama sebulan terakhir, dengan pengawasan langsung dari MPK. Sebagai anggota MPK yang cukup aktif sebelumnya, Zaura merasa sedikit gugup mengingat ia sempat absen beberapa waktu karena sakit. Ia merasa sedikit khawatir jika pengawasannya kurang maksimal karena beberapa kali sempat absen dalam program kerja yang ia awasi.
Setelah berpamitan dengan teman-temannya, Zaura langsung bergegas menuju aula, tempat rapat akan dilaksanakan. Ia berjalan cepat di lorong, berharap tidak terlambat. Begitu sampai di depan pintu aula, suara ramai dari dalam sudah terdengar, menandakan sebagian besar anggota sudah hadir. Zaura mengedarkan pandangannya, seperti sedang mencari seseorang. Matanya akhirnya tertuju pada seorang gadis yang duduk di dekat tangga podium, sibuk membolak-balik buku catatan kecil. Senyum merekah di wajahnya ketika ia mengenali sosok itu. Dengan langkah cepat, ia menghampiri.
"Manda!" panggil Zaura, nada suaranya penuh semangat.
Manda yang sedang fokus menulis sontak menoleh. Begitu melihat Zaura, senyumnya langsung merekah, dan ia segera berlari kecil menghampiri sahabatnya itu. Mereka saling berpelukan erat di sana, melepas rindu setelah beberapa hari tidak bertemu.
"Lo udah sembuh, Za?" tanya Manda sambil melepaskan pelukannya, matanya memandang Zaura dengan penuh perhatian.
"Udah, mendingan lah. Buktinya gue bisa ikut rapat hari ini," jawab Zaura dengan nada santai, meski sedikit lelah masih terasa di wajahnya.
Manda mengangguk sambil tersenyum, lalu menatap Zaura dengan tatapan setengah menyindir. "Tapi lu baru sembuh udah langsung ikut rapat aja? Nggak mau istirahat dulu apa?" tanyanya, nada suaranya bercampur antara khawatir dan geli.
Zaura tertawa kecil. "Ya gimana, rapat ini kan penting. Lagian gue udah kangen juga sama kegiatan kayak gini," ujarnya sambil melirik ke dalam aula yang mulai dipenuhi anggota lain.
Manda menggeleng pelan, tapi senyumnya tetap ada. "Yaudah deh, tapi janji nggak maksa diri, ya? Kalau capek bilang ke gue."
Zaura mengangguk mantap. "Santai, gue nggak bakal maksa kok."
"Teman-teman! Minta perhatiannya sebentar!" Suara lantang itu menggema di seluruh aula, membuat semua percakapan spontan terhenti. Gio, sang ketua MPK, sudah berdiri tegap di tengah aula, wajahnya serius seperti biasa. "Rapatnya mau mulai sebentar lagi. Ayo, segera kumpul ke tengah!" serunya sambil melambaikan tangan, memberi isyarat agar semua berkumpul.
Satu per satu anggota OSIS dan MPK mulai merapat ke tengah aula, duduk melingkar di lantai dengan susunan yang rapi. Suasana aula perlahan menjadi hening, hanya terdengar suara beberapa langkah terakhir yang tergesa-gesa. Zaura dan Manda, yang tadinya masih berbincang, ikut bergabung ke dalam lingkaran.
Tak berselang lama, rapat pun dimulai. Gio membuka dengan suara tegasnya, membacakan agenda hari ini: evaluasi kegiatan bulan lalu, pembagian tugas untuk program kerja berikutnya, dan pembahasan persiapan menjelang ujian sekolah. Para anggota mulai mencatat di buku masing-masing, sementara beberapa pengurus utama terlihat sibuk mempersiapkan bahan presentasi.
Zaura duduk diam, mencoba menyimak, tetapi pikirannya masih melayang. Ia merasa asing dengan suasana ini, seperti ada sesuatu yang berubah selama ia absen.
Rapat hari ini berjalan lancar selama kurang lebih satu jam. Para anggota mencatat dengan serius, sementara diskusi mengalir dengan tertib. Namun, di sela-sela kesibukan itu, Zaura mulai merasakan pusing yang semakin mengganggu. Ia menggigit bibirnya, mencoba menahan rasa tidak nyaman. Ia berpikir untuk meminta izin keluar, tetapi rasa sungkan menahannya. Bagaimana pun, sebentar lagi mereka akan masuk ke pembahasan program kerja selanjutnya, dan ia merasa tidak enak meninggalkan rapat di tengah jalan.
"Oke, teman-teman, untuk rapat evaluasinya cukup sampai di sini. Semoga semua evaluasi tadi bisa dijadikan pelajaran buat program kerja selanjutnya," ucap Gio, menutup sesi evaluasi dengan nada tegas. Zaura menarik napas lega mendengar itu, berharap ia bisa sedikit bersantai. Namun, harapan itu hanya sesaat.
"Selanjutnya," lanjut Gio, "kita bakal bahas mengenai program kerja buat ulang tahun sekolah yang bakal diadain dua minggu dari sekarang. Untuk itu, gue serahin langsung aja ke ketua acara, Haris."
Semua perhatian beralih ke Haris, yang duduk tidak jauh dari Gio. Ia berdiri perlahan, membuka buku catatan kecil di tangannya sambil mengangguk. "Oke, teman-teman, sebelumnya makasih banyak udah datang. Gue mau langsung aja jelasin konsep acara dan keperluan yang perlu kita siapin," ucapnya dengan nada yang cukup tenang.
Haris mulai menjelaskan garis besar konsep acara, lengkap dengan timeline dan tugas tiap divisi. Beberapa anggota sibuk mencatat, sementara yang lain tampak berpikir keras menyimak detail yang diberikan. Zaura berusaha tetap fokus meskipun rasa pusingnya semakin menyerang.
"Oh iya," Haris tiba-tiba berhenti sejenak, menatap catatannya sebelum melanjutkan, "ada pengumuman soal divisi dekorasi. Untuk pengawas dari MPK, sebelumnya itu tugasnya Sinta. Tapi karena dia lagi ikut turnamen di luar kota, tugasnya akan digantikan oleh Zaura."
Sontak, mata semua orang di ruangan itu beralih ke Zaura. Ia tertegun, merasa tak siap dengan pengumuman mendadak ini. Bagaimana tidak? Acara ini hanya tinggal dua minggu lagi, dan Zaura sama sekali tidak tahu menahu mengenai perkembangan divisi dekorasi. Bahkan, ia belum sempat mempelajari susunan panitia untuk acara tersebut.
Zaura mencoba menyembunyikan rasa gugupnya, tetapi pikirannya bergejolak. Saat ia jatuh sakit beberapa waktu lalu, Gio sempat memutuskan untuk tidak melibatkan Zaura dalam daftar pengawas program kerja kali ini. Namun, keadaan memaksa. Jumlah anggota MPK yang lebih sedikit dibandingkan OSIS membuat mereka kekurangan tenaga, terutama dengan absennya Sinta karena turnamen. Mau tidak mau, Zaura harus terjun kembali ke acara ini.
"Zaura," panggil Haris sambil tersenyum, mencoba memberikan semangat. "Gue yakin lo bisa bantu banyak, kok. Nanti gue bakal share semua update-nya ke lo. Jangan khawatir, kita kerjain bareng-bareng."
Zaura mengangguk pelan, meskipun hatinya masih dipenuhi keraguan. Ia tahu tanggung jawab ini tidak mudah, apalagi dengan waktu yang sangat singkat. Namun, ia juga tidak ingin mengecewakan teman-temannya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.