So, With Who 22: Kejadian Lagi

6 0 0
                                        

Recomended song for this chapter

Best Part by Daniel Caesar, H.E.R

Enjoy guys

Sesuai janjinya beberapa hari lalu, Zaura kini berdiri di depan cermin di kamarnya, memeriksa penampilannya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Sesuai janjinya beberapa hari lalu, Zaura kini berdiri di depan cermin di kamarnya, memeriksa penampilannya. Setelah merasa cukup, ia pun turun ke bawah, menghampiri Rizki yang sudah menunggunya di ruang tamu.

Sejak pagi tadi, cowok itu sudah berdiri rapi di depan rumahnya, hal yang cukup bikin Zaura kaget—apalagi hari ini seluruh keluarganya lengkap. Padahal, sebelumnya ia sudah bilang kalau mereka langsung ketemuan saja di tempat janjian. Tapi Rizki bersikeras. "Gak gentle dong kalau gue gak izin langsung," katanya waktu itu.

Akhirnya, Zaura pasrah saja. Rizki benar-benar datang ke rumahnya, bahkan meminta izin secara resmi ke ibunya. Lebih dari itu, dia juga minta izin ke ayah dan dua kakak laki-laki Zaura.

Zaura menghela napas sambil melirik ke arah ruang tamu dari tangga. Dari tempatnya berdiri, ia melihat Rizki yang tampak santai ngobrol di sofa dengan ayah dan kakak-kakaknya. Sesekali ia tertawa kecil, bikin suasana yang tadinya kaku jadi lebih santai.

Dengan langkah perlahan, Zaura turun sambil menahan rasa gugup. "Udah siap nih?" tanya ibunya tiba-tiba, muncul dari dapur sambil membawa segelas teh untuk Rizki.

Zaura mengangguk kecil. "Iya, Ma. Udah."

Saat tiba di ruang tamu, Rizki langsung berdiri. "Akhirnya!" ucapnya dengan senyum lebar. "Gue kira lo mau batalin, Za."

Zaura memutar matanya. "Enggak lah, gue kan udah bilang."

Ayahnya menatap Rizki dengan tegas. "Jangan pulang terlalu malam ya, Rizki. Anak gadis saya harus balik sebelum Maghrib."

"Siap, Om. Aman," jawab Rizki santai. "Zaura bakal saya jaga baik-baik kok."

Kakak pertama Zaura melirik Rizki tajam. "Lo yakin bisa jaga adik gue, Ki? Jangan macem-macem ya."

"Tenang, Bang. Gue ngerti kok." Rizki tersenyum percaya diri.

Zaura hanya menggelengkan kepala, sedikit kesal. "Udah deh, gak usah kayak sidang gitu," katanya sambil menarik Rizki pelan ke arah pintu. "Ayo cabut, sebelum gue berubah pikiran."

Rizki menoleh ke ibunya, lalu sedikit membungkuk sopan. "Terima kasih, Tante. Saya bawa Zaura dulu ya."

"Iya, hati-hati ya, Rizki," jawab ibunya lembut, tersenyum puas melihat sikap Rizki.

So, With Who? Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang