Menatap jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 5 sore, Seorang gadis berjalan menyusuri koridor yang mulai sepi. Hanya sesekali terdengar langkah kaki siswa lain, mungkin anak-anak OSIS atau MPK yang baru selesai dengan tugas mereka.
Saat langkahnya melewati salah satu ruangan kosong, suara dua orang yang ia kenali dengan baik menghentikan langkahnya. Tanpa sadar, ia mendekat ke dinding, telinganya menangkap percakapan yang tak seharusnya ia dengar.
"Kasihan banget sih dia sekarang, gak punya temen," suara itu terdengar penuh ejekan, salah satunya berkata dengan nada puas.
"Hahaha, iya! Gak salah kan gue ngirin foto dia bareng Aiden," balas suara lain sambil tertawa kecil.
Ia merasakan dadanya berdebar kencang, tapi ia tetap berdiri diam di tempatnya. Kakinya terasa berat untuk bergerak, seolah-olah tubuhnya memaksanya mendengar lebih banyak.
"Ide lo buat pura-pura suka sama Kenzo itu jenius banget sih," ucap suara kedua dengan nada puas.
"Iya kan? Dan mereka semua percaya, hahah! Bodoh banget sih," yang pertama menimpali, tawanya terdengar lebih keras.
"Baguslah, gue udah gak tahan ngeliat dia yang selalu jadi pusat perhatian. Sekarang rasain tuh jadi orang yang dijauhin!" suara lainnya melanjutkan, nadanya terdengar penuh kemenangan
Merasa tak tahan dengan semua yang baru saja ia dengar, Zaura mengepalkan tangannya kuat-kuat. Nafasnya memburu, dan tanpa berpikir panjang, ia melangkah tegas menuju sumber suara di dalam ruangan itu.
Pintu ruangan itu ia dorong dengan keras hingga terbuka lebar, mengejutkan dua sosok yang sedang asyik berbicara. Syasya dan Alana terdiam seketika, mata mereka membelalak melihat Zaura yang kini berdiri di hadapan mereka, dengan sorot mata yang tak bisa disembunyikan—marah, kecewa, dan terluka.
“Jadi selama ini kalian...” suara Zaura bergetar, ia berusaha menahan emosinya, tetapi rasanya seperti ada bara yang siap membakar segalanya. Tanpa peringatan, tangannya terangkat, melayangkan tamparan keras ke pipi Syasya terlebih dahulu, menghasilkan suara nyaring yang menggema di ruangan itu.
Alana tersentak, namun sebelum ia sempat mengatakan sesuatu, giliran pipinya yang merasakan tamparan serupa. “Kalian pikir ini lucu, ya? Ngancurin reputasi orang lain cuma buat kesenangan kalian?” ucap Zaura dengan suara bergetar menahan tangis. Matanya menatap mereka tajam, seperti ingin menusuk jauh ke hati mereka.
Syasya memegang pipinya yang memerah, menatap Zaura dengan penuh keterkejutan bercampur kesal. “Lo gila, Zaura?! Lo pikir lo siapa tampar gue kayak gini?”
“Gue orang yang lo hancurin reputasinya!” bentak Zaura, kali ini suaranya pecah. “Lo pikir gue gak tahu semua yang lo lakuin? Foto itu, cerita bohong lo, pura-pura suka sama Kenzo—semua itu! Dan sekarang lo masih bisa ketawa, seolah gak ada yang salah?”
Alana, yang biasanya terlihat tenang, kini tampak gugup. “Zaura, ini cuma salah paham...”
“Salah paham?” Zaura menyela, nadanya penuh sindiran. “Lo pikir gue bodoh? Gue denger semuanya! Semua ini cuma buat ngejatuhin gue, kan? Karena apa? Karena gue gak pernah ngelakuin apa-apa ke kalian!”
"Karena kita gak suka liat lo yang selalu jadi pusat perhatian! Makanya kita selalu cari celah buat nyingkirin lo!" bentak Alana dengan suara penuh emosi, tatapannya tajam menusuk Zaura. Sebelum Zaura sempat merespons, Alana melangkah maju dan mendorong tubuh Zaura dengan cukup keras.
Zaura kehilangan keseimbangannya, pinggangnya terbentur ujung meja di belakangnya. Rasa sakit menjalar, tetapi itu tidak sebanding dengan panasnya emosi yang kini membakar dirinya.
Zaura menegakkan tubuhnya, menatap Alana dengan pandangan penuh amarah. "Lo pikir nyakitin gue secara fisik bakal bikin gue mundur? Lo salah besar, Alana!"
Tanpa menunggu jawaban, Zaura melayangkan tamparan ke pipi Alana, suara nyaringnya bergema di ruangan itu. Syasya, yang masih memegang pipinya sendiri, terpaku di tempat, tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.
Alana memegang pipinya yang memerah, menatap Zaura dengan tatapan penuh kebencian. "Lo berani tampar gue?" ucapnya dengan nada rendah, hampir seperti ancaman.
Zaura, dengan napas yang masih memburu, menjawab dingin, "Lo udah keterlaluan. Gue udah cukup sabar sama semua omong kosong lo dan Syasya. Gue gak akan tinggal diam lagi."
Alana menatap Zaura dengan senyum mengejek, matanya penuh tantangan. "Oh iya? Kita liat aja, Zaura. Liat siapa yang bakal menang."
Zaura menatap tajam, rahangnya mengeras, tetapi sebelum ia sempat membuka mulut untuk membalas, suara lantang memecah ketegangan di antara mereka.
"Stop! Apa-apaan ini?"
Kayra muncul dari arah pintu, langkahnya cepat mendekati mereka. Raut wajahnya menunjukkan keterkejutan sekaligus kemarahan.
Kayra berdiri di antara mereka, pandangannya bergantian antara Zaura, Alana, dan Syasya. "Zaura, lo apain mereka?" tanyanya dengan nada menuntut, tatapannya langsung mengunci ke arah Zaura.
Zaura, yang masih terbakar emosi, mendengus sinis. "Gue apain mereka? Lo gak liat apa yang mereka udah lakuin ke gue, Kay?" jawabnya tegas, matanya menatap Kayra tanpa gentar.
Alana, memanfaatkan momen ini, langsung menyela dengan suara dibuat-buat lemah. "Kayra, lo harus liat sendiri. Dia tiba-tiba masuk ke sini dan main tampar gue sama Syasya. Gue gak ngerti apa salah gue."
"Alana!" Zaura membentak, suaranya meninggi. "Lo serius ngomong gitu? Setelah semua yang lo bilang dan lakuin ke gue?"
"Stop Za! Gue kira, gue masih bisa percaya sama lo. Ternyata nggak, gue yang terlalu naif buat mikir kalo lo tuh gak salah. Tapi nyatanya?" Kayra menatap Zaura dengan penuh kekecewaan.
Zaura memutar tubuhnya dengan penuh amarah, menatap Kayra dengan mata yang berkilat tajam. "Apa maksud lo, Kay? Lo pikir gue salah dalam semua ini? Lo bahkan nggak tau apa yang sebenarnya mereka lakuin ke gue!"
Kayra mendekatkan dirinya ke Zaura, raut wajahnya penuh kekecewaan. "Za, gue kira lo beda. Gue kira lo teman gue yang selama ini selalu gue percaya. Tapi ngeliat lo sekarang, semua ini bikin gue ragu. Lo nunjukin sisi yang gue nggak pernah pikir lo punya."
Zaura terdiam, hatinya seperti tertusuk. "Kay, gue cuma... gue cuma nyoba buat ngebela diri. Lo denger nggak apa yang mereka bilang tentang gue? Apa yang mereka lakuin di belakang lo semua?"
"Tapi caranya nggak begini, Za! Lo main tangan, lo bikin semuanya makin parah!" Kayra memotong, nadanya tegas namun terluka. "Kalau lo punya bukti, kalau mereka salah, kenapa lo nggak ngomong baik-baik sama kita semua? Kenapa harus kayak gini?"
Alana dan Syasya berdiri di belakang Kayra, memanfaatkan situasi ini untuk terlihat seperti korban. Alana mengusap pipinya yang merah dengan ekspresi yang dibuat-buat. "Liat, Kay, dia bahkan nggak nyesel sama sekali. Kita cuma pengen semuanya damai, tapi dia malah ngebuat masalah ini makin besar."
Zaura mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras. "Damai? Lo ngomongin damai setelah semua fitnah yang lo sebarin tentang gue? Lo cuma pura-pura jadi korban, Alana!"
"Udah cukup!" Kayra membentak, memotong pembicaraan Zaura. "Gue nggak mau ada drama lagi. Za, lo bener-bener ngecewain gue."
Hati Zaura mencelos mendengar kata-kata itu. Tubuhnya terasa berat, dan ia merasa seluruh dunia menolaknya. Namun, ia tetap berdiri tegak, menatap Kayra dengan mata berkaca-kaca. "Kalau lo lebih milih percaya sama mereka tanpa mau tau kebenarannya, ya udah, Kay. Gue nggak butuh teman yang nggak mau ngerti apa yang sebenarnya gue rasain."
Tanpa menunggu jawaban, Zaura memutar tubuhnya dan berjalan pergi, meninggalkan Kayra yang terpaku dan dua orang yang tersenyum penuh kemenangan di belakangnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
So, With Who?
RomansaGimana jadinya, kalau satu cewek dijadiin rebutan sama empat orang cowok sekaligus? ***** Zaura dihadapkan dengan empat orang pria sekaligus yang harus ia pilih salah satu. Namun, kebimbangan mulai mendatangi hatinya disaat ia ragu harus memilih sal...
