What Should You do?

5 1 2
                                        

Apapun itu harusnya dikomunikasikan, adalah prinsip dasar dari sebuah hubungan. Tetapi tidak semua bisa melakukannya bahkan yang sudah bertahun-tahun bersama apalagi yang beda dunia bahkan mereka adalah orang yang sama.

---

Suasana sunyi di pagi hari, menaiki bus sebagai rutinitasku ke kantor, banyak yang bertanya kenapa tidak menggunakan motor ku? jawabannya simple karena aku tidak mau aja, kalau diperlukan aku akan pakai, kalau untuk bekerja aku mending jalan dan menaiki bus.

Aku pernah menyuruh Laut untuk memakai motorku kalau dia ingin keluar, tapi dia juga tidak mau menggunakannya, dia lebih suka jalan kaki, seperti diriku, tidak bisa dipungkiri lagi dia adalah aku, tapi apa bisa dia bersamaku selamanya. Aku tau ini cinta yang aneh bahkan terlarang, tapi harus aku bagaimana.

Aku dan Laut melanjutkan hidup seperti biasa, tetapi seperti ada yang berbeda dan aku merasakan ada sesuatu yang dalam hubungan kami. Kalau aku merasakannya pasti dia juga merasakan, tapi anehnya kenapa dia tidak membicarakannya, apa aku yang harus bertanya kepada nya langsung.

"Hei ngelamun aja kau" tegur Gladys yang baru saja naik dan duduk di sampingku.

"Eh kamu" jawabku sambil senyum.

"Kak, kamu itu supervisor loh tapi merakyat banget?"

"Hah? maksudnya?" tanya ku heran.

"Iyaa, kamu itu supervisor loh, tapi berangkat pulang jalan kaki naik bus, merakyat banget" ujar Gladys

"Males aja bawa kendaraan"

"Emang agak lain sih kamu kak"

Aku hanya tersenyum dan tertawa kecil.

Setelah beberapa menit, sampailah di kantor dan Gladys langsung izin duluan masuk ke dalam, aku berjalan sejenak ke arah parkiran untuk mengecek apakah si Irene sudah datang atau belum. Setelah aku melihat sekeliling parkiran aku tidak melihat motornya sama sekali.

"Mungkin dia belum bisa masuk hari ini" ucapku dan memasuki kantor.

Aku memasuki kantor dan menuju ruanganku, ditengah perjalanan aku melihat Irene yang sedang mengobrol dengan salah satu karyawan. Aku agak terkejut dan langsung menghampirinya.

"Hei, a-aku kira kamu tidak masuk lagi hari ini"

"Oh hai Langit, tidak mungkin aku tidak masuk lagi kan" jawabnya tersenyum.

"Aku lihat seperti nya kamu tidak membawa motor mu?"

"Engga, kamu sampe memperhatikan seperti itu ya hahaha, aku lagi mencoba untuk berjalan dan menaiki bus seperti kamu, ingin tau aja rasanya seperti apa, btw aku harus ke meja ku dulu mau menyelesaikan sesuatu, byee" ucapnya sambil mengedipkan salah satu matanya.

Aku mengerutkan kening bingung sambil melihatnya pergi, and it seems like my strange life won't stop.

"Hei tunggu"

"Apa lagi, Langit.."

"Are you okay?"

"What? maksudnya apa r u okay gitu?" tanya Irene heran.

"Yeah, tentang semua yang terjadi kemarin, apa sudah membaik atau.."

Jari telunjuk Irene menutup mulut Langit yang tengah berbicara itu, dia tersenyum sambil berkata "Aku sudah membaik, bahkan lebih dari kemarin dan lebih dari apa yang aku ekspektasi kan"

Langit terdiam sejenak karena kaget dengan tindakannya, "Syukurlah kalau memang sudah membaik, aku turut senang mengetahuinya" ujar Langit tersenyum.

"Iyaa, terima kasih juga buat kamu ya, ini semua juga berkat kehadiran mu kemarin, dah lah ya aku banyak kerjaan byyeee" ucapnya tersenyum dan meninggalkannya.

Langit tersenyum dan tertawa kecil, sambil bergumam "Sama sama, Irene"

11.23 AM.

Waktu memang cepat berlalu, apalagi di dunia digital seperti ini, bahkan 1000 kebaikan pun cepat berlalu ketika ada satu kesalahan akan mengekal dalam ingatan seseorang maupun beberapa orang.

"Langit, ada mencari kamu di ruang tunggu" ucap Gladys yang memanggil.

"Siapa?" tanya Langit.

"Aku tidak tau kalau kamu punya saudara kembar, liat itu kembaran mu menunggu, dia sangat cantik ya" ucap Gladys.

Langit heran tapi dia tau apa yang dimaksud Gladys dan siapa yang menunggunya, dia pun bergegas menuju ke ruang tunggu dan menghampirinya.

"Laut?" sahutnya

"Langit" jawabnya sambil tersenyum.

"Kenapa kamu ke sini?, ada sesuatu kah?"

"Engga, tidak ada apa apa kok, aku cuma mau memberikan makan siang ini ke kamu, sekalian aku ada perlu" ujar Laut tersenyum.

"Terima kasih, Laut" ucap Langit tersenyum dan memeluk Laut.

"Sama sama, yaudah itu aja sih, aku mau ada perlu jadi aku harus pergi"

"Hmm oke, hati hati yaa" ucap Langit dengan sedikitnya perasaan yang tidak nyaman.

Laut pun berjalan keluar kantor dan Langit memperhatikan langkahnya hingga dia menghilang dari pandangannya.

"Eitsss, siapa tuhhh peluk peluk awh-!!" ujar Irene menyenggol Langit tiba-tiba.

"Kepo banget"

"Parah banget??"

"Udah udah, ayo udah mendingan kita makan siang aja"

"Parah banget pengalihan, gamau cerita ke aku ini?" tanya Irene pout.

"Udah udah, lain kali aku cerita"

—————

Di sisi lain yang tidak terjangkau dari pandangan dan pantauan Langit.

Laut berjalan menjauh dan semakin menjauh, menuju Jayden yang sedang menunggu di motornya.

"Udah??" tanya Jaiden ke Laut yang sedang menunggu di sisi lain gedung tempat Langit bekerja.

"Sudah, ayo pergi" ujar Laut.

"Jujur aku mau bertanya, tapi aku takut itu personal" ucap Jayden.

"Tentang ini?" tanya Laut.

"Iyalah, kau tiba-tiba minta antar ke sini tanpa konteks dan alasan, aku disuruh menunggu di sini ponga pongo, aku juga ngerasa mood kamu sedang tidak baik aja, keliatannya.." ucap Jayden.

"Mungkin ada saatnya"

"Kapan?"

Laut tidak membalas, hanya terdiam sambil menaiki motor.

"Hmm aku tau gimana biar mood mu kembali, ayo kita makan ES KRIMMM-!!!" ujar Jayden bersemangat dan menghidupkan motornya lalu bergegas berangkat.

Laut tersenyum memeluk untuk berpegangan Jayden dengan erat, dalam keadaan banyaknya pikiran di kepalanya tapi semua itu seperti hilang sejenak dalam kenyamanan ini.

Komunikasi secara langsung memang tidak bisa mereka lakukan sekarang perlu waktu untuk mereka, tetapi komunikasi hati dan perasaan mereka masih saling terhubung satu sama lain, karena mereka memang lah satu orang yang sama dalam dunia yang sama.

.
.
.
.
To Be Continued

Terima kasih banyak yang udah baca sampai titik ini, jangan lupa bintang nya yaaa🥰

DoppelgängerCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang