Plan Against Fate

7 1 0
                                        

Di ruang kerja.

"Kamu kenapa bersikap aneh tadi?" tanya Gladys ke Irene.

"Aneh bagaimana?" tanya Irene yang sedang fokus ke depan monitor laptopnya.

"Aku tau kamu cemburu" ujar Gladys.

"Stop ya, mending kamu bantuin aku deh. Ini besok kita udah harus ngonten lagi" ujar Irene.

"Pagi.." ucap Arlan yang baru saja tiba di ruangan.

"Eh Arlan, pagi juga" sahut Gladys.

"Aku dengar, Langit kecelakaan ya? ada yang tau dia di rawat dimana?" ujar Arlan.

"Coba tanya yang mata sembab itu" ujar Gladys yang tersenyum terlihat meledek Irene.

"Sembab?" tanya Arlan yang melirik ke arah Irene.

"RS Umum di dekat sini, naik bus sekali pun bisa" ujar Irene sedikit jutek dengan tetap fokus pada monitornya.

"O-oke, terima kasih..."

"Hahaha, lagi galau dan bersedih dia, Arlan" ujar Gladys bercanda.

Arlan sedikit canggung mendengarnya dan ditambah melihat lirikan mata Irene.

"Kamu mau menjenguknya nanti?" tanya Irene.

"Niatnya sih hari ini, besok kita ada syuting konten kan?" ujar Arlan.

"Iyaa"

"Kamu mau kesana juga kah?" tanya Arlan.

"Gak tau"

"Anu.. sebaiknya jangan tanya-tanya dulu deh, Irene lagi gak mood banget sepertinya" ujar Gladys berbisik ke Arlan.

Arlan tersenyum singkat mengangguk.

—————

Di Rumah sakit.

"Kata dokter, lusa bisa pulang kalo kondisi mu makin membaik" ujar Laut.

"Syukurlah.."

"Tapi harus tetap istirahat yang cukup untuk bisa pulih maksimal, dan bekas operasi di dada mu juga masih rentang, jadi harus kontrol seminggu sekali kata dokter" ujar Laut.

"Iyaa, syukurlah juga ini aku sudah bisa bernafas tanpa alat bantu" ujar Langit.

"Aku tidak bisa membayangkan kalau kamu benar-benar pergi, Langit..." ujar Laut.

"Apa maksud mu?" tanya Langit.

"Jika kamu memang pergi dan meninggalkan aku sendirian di dunia ini..."

"Jika aku pergi ya?, kamu tinggal melanjutkan saja hidup sebagaimana yang kamu mau, tidak perlu memikirkan aku lagi" ujar Langit.

Laut berdiri dari duduknya dan berkata dengan nada yang sedikit dinaikan. "Kamu gampang sekali ya bicara seperti itu, kamu tau kan? aku sudah banyak kehilangan orang-orang spesial dalam diriku, dan KAMU!! adalah orang terakhir yang begitu spesial buat aku, aku tidak akan membiarkan kamu mati begitu saja, jadi jangan asal bicara seperti layaknya kamu tau apa yang aku rasakan"

Suasana sedikit menjadi tegang, tetapi..

"Aku tau.. aku juga merasakannya kan, apa rasa isi hati mu ketika dirimu sedang bahagia, isi hati mu ketika sedang bersedih, ketika sedang khawatir dan aku yakin kamu juga merasa hal itu sebaliknya. Kebahagiaan mu bukan hanya datang dari satu orang saja dan hati mu yang terdalam mengatakan bahwa hal itu benar" ujar Langit dalam nada bicara yang belum pulih masih dalam keadaan lemahnya.

Langit duduk kembali dan terdiam sejenak, dia meneteskan air mata nya.

Jayden mendengar percakapan mereka dari luar, yang tadinya ingin masuk jadi mengurungkan niatnya. Dia pun pergi dan menghubungi Irene, untuk bertemu di suatu tempat.

DoppelgängerCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang