They are one

8 0 4
                                        

Satu jam berlalu.

Langit sudah siuman, tetapi Irene masih tertidur di sampingnya sambil menggenggam tangannya. Gladys yang melihatnya siuman pun menghampirinya.

"Kau udah siuman bos, syukurlah.."

Gladys pun langsung mencoba membangunkan Irene yang sedang tertidur. "Hei, bangun. Itu Langit sudah siuman" ujarnya.

Irene pun bangun dari tidurnya, masih dalam tahap pengumpulan nyawa setelah tidur dia masih menggenggam erat tangan Langit. Saat dia melihat Langit yang tersenyum melihat, "H-hai Irene..." ujarnya.

Irene pun tersenyum bahagia melihat Langit yang siuman, dia sampai bingung bagaimana mengekpresikan emosi dia, dia hanya bisa menangis menggenggam erat tangan Langit.

"H-hei, sudah.. jangan nangis lagi. Aku udah gapapa kok" ujar Langit mengelus tangan Irene yang menggenggam tangannya.

"Udah Irene jangan nangis lagi, kau tau, Langit?, dia tidak henti-hentinya menangis menunggu kabarmu keluar dari ruang ICU, selagi kasian dengan dirimu aku juga kasian dengan dia ini. Kalo gak ada aku di sini mungkin dia gak akan makan atau minum sekali pun, meskipun di paksa dia hanya sedikit makannya" ujar Gladys sambil memperlihatkan makanan-makanan Irene yang dia tidak habiskan.

"Terima kasih, Gladys. Sudah menjaga dia" ujar Langit tersenyum.

"Oiya aku mau keluar dulu ya, sekalian juga mau kabarin yang lain kalau kamu sudah siuman" ucap Gladys lalu pergi.

"Gimana perasaanmu?" tanya Irene.

"Fine aja, masih nyeri juga di dada yang aku rasa" ujar Langit.

"Mungkin kedepannya bakal hilang, semoga.."

"Apakah, ibu dan anak itu berhasil selamat?" tanya Langit.

Irene sontak terdiam sejenak mengerutkan keningnya, lalu dia berkata "Apa kamu gila ya?, kamu masih mengkhawatirkan orang lain dengan kondisi mu yang sekarang?".

"Yeah, i'm crazy.."

Mendengar jawabannya, Irene sedikit tersenyum kecil, "That's why I love you" ujar Irene dalam benaknya.

"Iyaa, mereka selamat" jawabnya.

Langit bersyukur dalam hatinya mengetahui itu, walaupun dirinya sendiri dalam keadaan seperti itu.

"Kamu tidak seharusnya di sini terus" ujar Langit dalam nada bicara yang masih lemas.

"Kenapa?, aku bolos kerja gitu maksudnya ya bozzz??" ujar Irene dengan nada yang sedikit menyindir.

Muncul tawa kecil dalam wajah Langit, melihat itu Irene merasa tenang seperti sediakala. Rasa kekhawatiran itu kembali menghilang, mungkin untuk sementara.

"Aku akan di sini menemanimu sampai setidaknya Laut datang, kau tau kan dia juga merasakan apa yang terjadi dengan kamu?" ujar Irene.

"Iyaa.. aku bisa merasakannya. Apa dia baik-baik saja?" tanya Langit.

"Dia baik-baik saja, tadi malam sudah siuman di saat kamu masih di dalam ruang ICU. Dia akan kesini kok" jawab Irene tersenyum.

"Syukurlah kalo dia baik-baik saja"

"Iyaa"

"Separah itu ya kecelakaan ku.." ujar Langit sambil melihat sekujur tubuhnya, masih menggunakan alat bantu nafas, tangan dan dada nya yang penuh dengan perban dan kaki nya yang cedera.

"Gapapa, kamu sudah membaik sekarang kan?, aku yakin kamu bisa sembuh"

Langit hanya tersenyum sambil memikirkan apa yang sebenarnya terjadi. Dia merasa kecelakaan itu bukan tanpa sengaja, pasti ada sesuatu dibaliknya yang berhubungan dengan firasat buruk dia sebelum terjadi kecelakaan itu.

DoppelgängerCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang