Connect

12 4 0
                                        

Karena jarak lumayan jauh, cukup memakan waktu yang lama untuk Laut sampai ke halte terakhir di dekat rumah Langit. Ketika Laut baru saja turun dari bus dia melihat jam sudah menunjukkan pukul 7.00PM, dia pun langsung bergegas menuju ke rumah Langit.

"Pintu pagarnya dikunci gembok?, bukannya dia sudah pulang" tanya heran Laut.

Laut memanggil manggil Langit dari luar tapi tidak ada jawaban sama sekali. Akhirnya dia duduk di depan rumah nya sambil memeluk erat jaket yang ada di genggamannya.

"Dia kemana ya, apa udah tidur tapi masa masih terkunci dari luar" gumamnya.

Dia tidak menyadari kalau ada dua orang laki-laki yang sedang memperhatikan dia dan seperti membuntutinya dari tadi. Kedua orang itu pun mulai berjalan ke arah Laut.

Laut yang menyadarinya, sontak langsung berdiri dan mencoba berjalan untuk menjauh dari kedua orang itu. Dengan takutnya dia mencoba berjalan cepat tetapi kedua laki laki itu berlari dan menghadang Laut untuk pergi.

"Halo cantik, mau kemana? kok kami dateng kamu pergi" ujar salah satu dari dua laki laki itu.

Laut langsung tersadar kalau yang menghadang dirinya adalah dua laki-laki yang sama dengan yang menagih atau memalak uang keamanan di rumahnya.

"Kalian kan yang... , ada apa hah!? untuk apa mengikuti ku??!" ujar Laut panik dan menjaga jarak.

"Kasian aja mba nya sendirian duduk di sini, mending kami temenin"

Di sisi lain.

Langit yang lagi berjalan menuju rumah temannya itu berhenti tiba-tiba karena merasa sesuatu yang aneh, dia merasakan kecemasan dan ketakutan. Langit memegang dadanya dan tanpa berpikir panjang Ia langsung berlari menuju bus kembali dan segera menuju ke rumahnya.

Langit sangat khawatir, ketika bus berhenti dia langsung terburu-buru berlari menuju rumahnya, hingga di depan rumahnya dia tidak menemukan Laut. Dengan mengatur nafasnya yang lelah berlari, Ia melihat jaket miliknya yang tergeletak di bawab agak jauh dari pagar rumah tepat di samping pagar sebelah kiri rumahnya.

Langit pun mengambilnya dan langsung bergegas berlari menuju jalan itu, mencari keberadaan Laut. Langit mengikuti apa yang dia rasakan, walaupun perasaan itu sulit untuk dijelaskan tetapi dia percaya akan apa yang dia rasakan dan mengikutinya "Bertahan lah, aku datang" ujarnya.

Entah dimana Laut berada, dia kebingungan dan lelah karena telah berlari cukup jauh dari rumah Langit. Dia duduk dan bersembunyi di suatu celah antar pohon dan dinding sambil mengatur nafas dan mengistirahatkan kaki yang cedera akibat melarikan diri tadi.

"Apa mereka masih mengejarku" ujarnya sambil mengintip ke celah-celah.

Kedua preman itu terus berjalan mencari keberadaan Laut, melewati persembunyian Laut.

"Fuck, ketemu juga dua orang itu" ujar Langit yang tiba tiba berada di lawan arah dari dua preman itu.

"Anjir itu di laki nya" ujar salah satu preman itu.

"Woy bajingan, dimana cewe itu!?" teriak Langit mendekat dan mengikat jaketnya di pinggang nya bersiap baku hantam.

"Eh eh bang kami gak tau sumpah, kami kehilangan dia" ucap preman itu sambil ketakutan.

Preman itu mencoba kabur dan dikejar oleh Langit, tertangkap satu dan satunya berhasil kabur. Ditarik dan angkat kerah preman itu Langit bertanya dengan amarahnya "DIMANA DIA?? KALIAN APAIN DIA HAH??!!".

"Sumpah bang gak tau bang, ampun bang" jawab preman itu memohon.

Mendengar suara Langit berteriak Laut mengintip lagi melihat kondisi, ternyata sudah ada Langit di sana. Dia langsung bergegas berdiri dan berusaha berjalan keluar dari persembunyian walau terpincang-pincang dan memanggil Langit "L-langit...?".

Langit yang melihatnya, langsung melepaskan cengkraman ke kerah preman itu, dia pun lari langsung dan dibiarkan saja oleh Langit.

Langit diam sejenak karena merasa lega Laut tidak papa, dia berlari dan menghampiri Laut dan bertanya seribu pertanyaan, kamu gapapa?, mereka ngapain aja?, kamu ada luka gak?, mereka nyentuh kamu gak? itu kaki kamu kenapa?? semua pertanyaan kekhawatiran itu keluar.

Laut hanya menjawab singkat "Aku gak papa, selama ada kamu".

Langit sontak memeluknya tanpa sepatah kata pun. Laut sedikit kaget tetapi dia tersenyum dan membalas pelukannya.

Mereka pun pulang menuju rumah Langit, karena kaki Laut cedera, Dia pun digendong oleh Langit. "Maaf yaa, aku berat" ucap Laut malu dan merasa tidak enak.

"Berat? haha engga kok" jawab Langit tertawa.

Langit pun menurunkan Laut di depan rumah dan membukakan pintu nya, menuntun Laut dengan perlahan dan membiarkan dia duduk di kursi ruang tamu.

"Maafkan aku ya" ujar Laut.

"What?, maaf untuk??" tanya Langit bingung dan menutup pintu.

"Aku tidak bisa menjaga dan mengantarkan jaket itu dengan aman, aku kehilangannya tapi untung kamu menemukannya" ujar Laut merasa bersalah.

Langit duduk di sampingnya dan berbicara dengan nada sedikit tinggi "HEI, gak perlu minta maaf yaa ini hanya sebuah jaket, keselamatan jaket ini tidak sepenting keselamatan kamu Laut, jadi tolong lebih peduli akan dirimu dan keselamatan mu terlebih dahulu, kamu bisa antar ini besok pagi jangan malam malam seperti ini"

"M-maaf"

"Sudah ku bilang jangan minta maaf"

Laut hanya menunduk merasa bersalah.

"Malam ini kamu tidur di sini dulu, besok aku antar kamu pulang, TANPA PENOLAKAN OKE?" ujar Langit.

Laut yang tadinya mau menolak seketika terhenti sambil sedikit tersenyum dan tidak enak secara bersamaan.

"Yaudah ayo obatin dulu kaki mu" ujar Langit sambil menuntunnya ke ruang tengah dekat kamar Langit.

Sambil mencari obat obatan Langit berbicara "Kamu tidur di sana, kamar ku. Aku akan tidur di sini, depan tv".

Laut hanya mengangguk sambil menahan rasa sakit kakinya yang Ia pegangin dari tadi.

Langit duduk di depan Laut sambil menyiapkan obat-obatan nya. "Cepat bagian mana yang cedera?" tanya Langit.

"A-anu"

"Kenapa Laut?, nanti malah lama sembuhnya kalo gak di obatin"

"O-oke" jawab Laut malu dan membuka celananya di depan Langit tiba tiba tanpa sepatah kata.

"WTF" kaget Langit dalam hatinya sedikit membuang pandangan dengan rasa canggung.

"M-maaf Langit, awh... sshh ini" ujar Laut menahan sakit dan menunjukkan luka dan memarnya yang berada di paha kanan bawah.

"Aduh maaf, kalo gitu kamu bisa obatin sendiri aja deh" ujar Langit sedikit memalingkan wajahnya.

"Kalo aku sendiri aku malah gak berani, tolong dong, please gak perlu canggung" jawab Laut memegang tangan Langit.

"Oke oke, maaf yaa"

Langit berusaha mengobati dan tetap fokus tanpa teralihkan hal lain, Laut menahan rasa sakit nya sambil menggenggam erat tangan Langit.

"Kok bisa sih luka dan memar disini?" tanya Langit bingung.

"Aku loncat pagar hehe, untuk shortcut tapi sedikit gagal" jawab Laut tersenyum.

"Astaga, nekat juga kamu ya"

"Lagi dikejar begitu apapun bisa jadi nekat" jawab Laut tertawa kecil.

"Oke sudah, sekarang istirahat" ujar Langit sudah selesai obati dan perban luka Laut.

"Iyaa Langit, tapi bagaimana aku ini masa gini aja? gak mungkin aku pakai celana ku itu kan dengan luka ini"

"Ah iya juga, gak mungkin semalaman kamu gak pake celana, tunggu sebentar" ujar Langit mencari kain di kamarnya.

Setelah memberikan kain dan Laut memakai kainnya, Langit mengendong Laut dan membawanya ke kamarnya.

"Selamat istirahat, Laut"

"Terima kasih banyak, Langit" balas Laut tersenyum.

To be continued

Terima kasih yang udah baca, jangan lupa bintang nya yaaa🥰🙏

DoppelgängerCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang