They are Watching

5 1 1
                                        

"Kamu tau?, Laufey itu mirip sekali dengan Mama, dengan rambut pirangnya, dia sangat cantik" ujar Laut dalam pelukan Langit.

Mereka berdua sedang bersantai di malam hari di sofa depan TV sedang menonton menikmati waktu berdua.

"Kamu juga gak kalah cantik, kamu mirip banget juga dengan Mama"

"Iyaa kah?, apa karena Mama di dunia ini rambutnya hitam biasa ya?"

"Mungkin saja?, aku jadi penasaran juga kalau Mama dan kamu rambutnya pirang" ujar Langit.

"Aku ada fotonya Kak Laufey tapi kalau Mama, aku tidak memilikinya" ujar Laut masih mendusel di dalam pelukan Langit.

"Mana aku mau liat"

"Gak mau, mager mau ke atas ambil fotonya, aku masih mau peluk kamu" ujar Laut pout.

"Iyaudah, puas puasin deh" tersenyum Langit sambil mengelus-elus rambut Laut.

"Huum"

"Kalau semua dunia sudah terhapus, berarti Yolan.." ucap Langit yang teringat akan adiknya di universe lain.

Laut memeluknya erat sambil bergumam "Seharusnya kita mengajak dia ke dunia ini".

Dengan keadaan yang sunyi dan sedih sejenak karena mengingat adik mereka yang hilang bersamaan dengan hilangnya multiverse.

"Mau jalan-jalan ke taman gak?" tanya Langit yang berusaha membalikkan suasananya.

"Semalam ini?, ini udah jam 9 lewat"

"Kamu lupa? ini malam minggu, pasti masih ramai" ujar Langit.

"Betul juga, boleh ayo"

Beberapa menit perjalanan dengan motor Langit yang jarang dia pakai itu. Sesampai di taman itu, walaupun memang ramai, tapi tidak seramai yang mereka bayangkan.

Berjalan-jalan sebentar di dekat taman, dan berhenti di bangku taman yang biasanya Laut duduk dan menjadi tempat favoritnya, dan terlebih itu adalah bangku di mana mereka dahulu pertama kali mengobrol secara intens.

"Kamu inget momen pertama kali kita duduk berdua di bangku ini?" tanya Laut.

"Ingat, tentu tak akan aku lupakan" jawab Langit.

"Momen di mana aku akhirnya memberanikan diri untuk berbicara dengan mu, itu sungguh..."

Langit secara tiba-tiba memeluk Laut dan berkata "Jangan, udah. Aku gak mau melihat mu menangis lagi"

Laut memeluknya balik sekilas dan langsung melepaskan pelukannya "I-iyaa, tapi jangan di sini juga peluknya, malu di-lihat orang" ucapnya dengan wajahnya yang memerah.

"Lucu banget" ucap Langit melihat wajahnya.

Mereka berdua pun duduk di bangku tersebut dan melihat ke arah toko buku yang menjadi tempat bersejarah bagi mereka berdua.

"Lihat, aku bawa apa!" ujar Laut menunjukkan komik The Flash favorit Langit yang dulu dia beli saat pertama kali mereka berdua bertemu.

"WHAT?? Di mana kamu menemukannya?? hampir berbulan-bulan aku mencari" ujar Langit.

"Anu.. sebenarnya aku tidak menemukannya, aku membelikan baru untuk kamu, maaf ya.. aku dulu menghilangkannya"

"T-tapi ini kan begitu mahal sekarang karena kelangkaannya, kamu uang dari mana sebanyak itu?" tanya Langit terharu tapi sekaligus khawatir.

"Aku menabung, dari hasil-hasil kerja freelance ku, kamu selama ini juga membiayai hidup ku di sini selama kita tinggal bersama, jadi aku tidak banyak juga kan mengeluarkan uang, jadi aku bisa menabung untuk membelinya" jawab Laut tersenyum manis, memegang tangan Langit.

DoppelgängerCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang