Setelah mereka bersenang-senang dan di-akhiri dengan menonton konser, Laut menawari Langit untuk menginap di rumahnya karena rumahnya dekat dari alun-alun dan juga sudah malam, tidak mungkin ada bus yang masih beroprasi untuk menuju ke rumah Langit yang lumayan jauh dari alun-alun. Walaupun canggung dan tidak enak saat ditawarkan hal itu tetapi Langit terpaksa menerimanya.
Beberapa saat jalan dan tiba di rumah Laut, begitu terkejutnya ketika Langit memasuki halaman dan melihat rumah Laut. "WOAHH, ini rumah mu?? bagus banget" tanya Langit terkesan.
"Biasa aja, ayo masuk" ajak Laut membuka pintu rumahnya.
"Kau mengajak ku kesini, apa tidak enak dengan tetangga nanti di-kira aneh-aneh kamu membawa pria malam-malam ke rumah?" tanya Langit khawatir.
"Aku tidak ada tetangga, sebelah kanan dan kiri ini kosong tidak ada penghuninya, tetangga yang ku kenal hanya ada dua orang saja 4 rumah dari kanan ini, mereka teman ayah ku" jawab Laut.
"Owke"
"Minum dulu ini dan kamu bisa beristirahat di kamar yang pintu putih itu ya itu dulu kamar ayahku, tidak pernah terpakai" ujar Laut memberikan minum dan menunjukan kamarnya yang berada di-lantai dua.
"Oke oke"
"Aku mau bersih-bersih dulu dan mungkin langsung tidur, kamu juga jangan begadang ya langsung istirahat" ucapnya.
"Iyaa Laut, terima kasih banyak yaa, kamu serepot ini hingga memperbolehkan ku menginap disini"
"Aku tidak perlu menjawab pertanyaan itu lagi, sudah ku bilang aku percaya kepada mu, entah kenapa tetapi aku yakin kamu bukan orang jahat" ujar Laut sambil meninggalkan Langit di ruang tamu.
Langit tak berkata apa apa hanya bisa tersenyum dan Ia pun bergegas pergi ke kamar itu.
"Dia merawat rumah ini dengan penuh kasih sayang" ujar Langit melihat sekeliling rumah dan membuka kamar tersebut.
Langit menaruh barang barangnya di kasur dan duduk sambil melihat ke arah jendela kamar itu terlihat cahaya bulan yang merambat masuk dan suasana langit malam yang cerah. Langit mendekati jendela itu dan melihat keluar, "Wahh, pemandangannya bagus di sini" ucapnya terkesan.
Tok tok *Suara ketukan pintu.
"Langit?, maaf ini aku bawakan selimut, jika kamu perlu" ujar Laut masuk dan menaruh selimutnya di kasur.
"Oh iya terima kasih"
"Lagi menikmati pemandangan ya?" tanya Laut menghampiri dan melihat keluar jendela.
"Iyaa, bagus sekali pemandangan dari sini"
"Ini adalah tempat favorit ku dulu aku juga sering bersama ayah ku melihat langit malam waktu ku kecil dan aku ingin membuat balkon di sini agar dengan mudah bisa melihat keluar tapi aku belum sanggup" ucap Laut yang terlihat sedih namun sedikit rasa excited.
"Kenapa??, biaya ya?, pasti sangat mahal membuat balkon" tanya Langit.
"Lupakan aja, yaudah istirahatlah kamu, sudah larut ini" ujar Laut menuju pintu keluar "Good night" ucapnya sambil tersenyum dan menutup pintunya.
"Night too" jawab Langit.
Langit mulai merasakan perasaan aneh dari mulai suka, kebingungan, keraguan, serta cinta terhadap Laut, masih banyak pertanyaan yang ada di dalam benaknya, siapa sebenarnya dia?, kenapa nama mereka terdapat kemiripan?, dan kenapa selalu kebetulan mereka memiliki kesamaan.
__________
Pagi yang sejuk, sinar matahari menyusup masuk melalui jendela dapur, menerangi ruangan dengan kehangatan pagi yang menyenangkan. Di meja makan sudah tersedia banyak lauk pauk makanan, Langit yang baru saja bangun melihat Laut yang sedang memasak, menyediakan sarapan untuk mereka.
"Oh, kamu sudah bangun?. sini sarapan dulu, duduk lah" ujar Laut selesai memasak dan menaruh piring di meja makan.
"Astaga, tidak perlu repot repot, ini aku turun sebenarnya ingin izin pulang" jawab Langit.
"ish, kenapa pulang? buru buru sekali, makan dulu aja. Ini kan sabtu?, kamu tidak ada kelas kuliah kan?" tanya nya sambil menarik tangan Langit dan menuntunnya untuk duduk di kursi meja makan.
Langit tidak enak juga menolaknya dan akhirnya ikut sarapan bersama Laut di meja makan itu. Beberapa saat Laut lebih dulu menghabiskan makanannya setelah dia minum, dia pergi ke kamarnya meninggalkan Langit. "Aku mau mengambil hp ku, di kamar".
Langit hanya mengangguk, dengan tidak perpikir panjang dia menghabiskan makanannya dan mengambil piring nya dan bekas Laut makan dan membawanya ke wastafel untuk di-cuci, semuanya Ia cuci dari piring gelas sampai alat masak yang digunakan Laut memasak tadi.
Laut yang baru saja kembali melihatnya mencuci kaget dan langsung menghampirinya.
"HEII" ucap Laut sambil memukul tangan Langit.
"Apaa ihh??" tanya Langit sambil melanjutkan mencucinya.
"Siapa yang menyuruhmu mencuci??"
"Ini aku yang mau, aku tidak mau merepotkan mu dan ini sebagai tanda terima kasih ku Laut" ujarnya sambil menyiprati air keran ke wajah Laut.
"ISH, tapi kamu baru saja selesai makan harusnya tunggu dulu jangan langsung mencuci piringnya Langit"
"Keburu kamu melarangku"
Laut hanya tersenyum melihat Langit dengan mengelus pundaknya.
Beberapa saat setelah selesai mencuci, Langit sudah bersiap-siap pulang ke rumahnya dan menghampiri Laut yang berada di ruang tv.
"Laut, ini komik yang kamu pinjamkan kemarin, terima kasih ya"
"Kamu udah mau pulang??" tanya Laut.
"Iyaa, kenapa?" tanya balik Langit.
"Tunggu sebentar" ujar Laut.
Langit heran dan duduk menunggu Laut yang menuju ke kamarnya. Beberapa menit kemudian Laut keluar dengan membawa tas dan memakai jaket, seperti ingin keluar.
"Mau kemana??" tanya Langit bingung.
"Mau ikut kamu pulang, boleh?" jawab Laut tersenyum manis.
"A-anu..., t-tapi"
"Tapi apa, kenapa?, kamu tidak mau mengajak ku kah?" tanya Laut pout.
"Bukan begitu"
Kaget, Langit bingung bagaimana menolaknya karena kontrakannya sedang berantakan. Dan karena tidak enak menolaknya dengan terpaksa Langit membolehkannya ikut ke kontrakannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Doppelgänger
Romance#Reneverse Kisah remaja laki-laki yang bertemu perempuan cantik yang mirip dengannya seperti layaknya kembar namun yang berwujud perempuan itu bukanlah kembarannya ataupun saudara nya, jadi siapa kah dia? Disclaimer!! Ini adalah spin off dari "Me in...
