Hollaaa mi amorr, apa kabar, lama sekali kita tidak bercakap cakap. Kehidupan dewasa ini membuat diri gedebag gedebug sekali jadi aku say sorry banget ya buat gak update hyunlix, tapi aku tetap baca komentar di sini maupun di twitter 🤍 hihihi lop u
—
Pagi di dorm Felix dan Seungmin selalu dimulai dengan suara kecil yang familiar—bunyi kettle mendidih, langkah kaki setengah sadar, dan aroma kopi yang perlahan mengisi udara. Lee Felix berdiri di dapur, mengenakan hoodie kebesaran yang lengannya menutupi sebagian tangannya. Rambutnya masih sedikit berantakan, wajahnya polos tanpa usaha, tapi justru di situlah letak ketenangannya.
Ia menuang air panas ke dalam cangkir, menatap uap yang naik pelan. Malam tadi masih tersisa. Bukan dalam bentuk jelas, tapi seperti jejak tipis yang belum sempat hilang.
Ini soal pepero game sialan!
Langkah kaki mendekat dari belakang.
Felix tidak perlu menoleh untuk tahu siapa.
"Hyunjin bangun," suara itu pelan, sedikit serak. Si Hwang menginap, tentu saja di kamar Felix bukang Mong Mong yang akan mencak mencak karena kewarasannya terganggu.
Ada anggukan kecil sebagai jawaban "Hmm."
Hwang Hyunjin yang berdiri di sampingnya, mengambil gelas tanpa benar-benar melihat. Bahu mereka hampir bersentuhan—tidak sengaja, tapi juga tidak dijauhkan.
Sunyi.
Bukan canggung.
Tapi terlalu penuh.
"Nyenyak tidurnya?" Hyunjin akhirnya bertanya.
Felix mengangguk lagi. "Lumayan."
Jawaban singkat. Aman.
Hyunjin tersenyum tipis, tapi tidak memaksa percakapan lebih jauh. Jawaban bentuk lumayan itu sudah lebih bagus karena semalam Hyunjin tidak benar benar melepaskan Felix dari eratnya sebuah pelukan.
Ia tahu Felix seperti ini—kalau ada sesuatu yang belum siap diucapkan, Felix akan membungkusnya dengan jawaban sederhana.
Dan Hyunjin... memilih untuk tidak membuka paksa.
Beberapa menit berlalu dalam diam yang anehnya terasa nyaman.
Felix mengaduk kopinya perlahan, lalu tanpa sadar berkata, "Kemarin... mereka terlalu berisik ya."
Hyunjin tertawa kecil. "Selalu."
Nada bicaranya ringan. Tapi keduanya tahu... bukan itu yang sebenarnya ingin dibicarakan.
Felix menatap cangkirnya, lalu berkata pelan, hampir seperti bicara ke diri sendiri,
"Game itu... agak lama."
Hyunjin berhenti bergerak.
Satu detik.
Dua detik.
Lalu ia menjawab, hati-hati.
"Iya. Aku gak suka"
Tidak ada penjelasan.
Tidak ada tawa.
Hanya satu kata yang jatuh di antara mereka.
Felix akhirnya menoleh. Tatapan mereka bertemu untuk pertama kali pagi itu. Dan untuk beberapa detik, tidak ada yang bicara. Hyunjin melihat sesuatu di mata Felix—bukan bingung, bukan takut.
Lebih seperti... menunggu.
Seolah-olah Felix ingin tahu— sesuatu
Apakah Hyunjin akan berpura-pura lupa?
Atau mengakui bahwa momen itu... Hyunjin menjauh sedikit dan beralih ke Jeongin.
KAMU SEDANG MEMBACA
ARENA
NouvellesArena punya Hyunjin dan Felix Just Oneshoot or Twoshoot Au 👄 kapalgetek ©
