Bab 24: Pulang Untuk Pergi

12 1 0
                                        

Tut..

Tut..

Tut..

"Si Alfan ke mana sih? Nomornya nggak aktif, Dhi."

Ardhi menghembuskan nafasnya kasar. "WA-nya juga terakhir aktif semalem."

Sudah pukul 08.30, tapi Alfan belum juga menampakkan dirinya di sekolah. Semalam cowok itu langsung pergi tanpa berkata apapun setelah acara selesai.

Jenna yang mendengar keluh kesah keduanya pun ikut bertanya-tanya dalam hati. Entah kenapa ada perasaan khawatir di dalam sana. Bukankah Jenna juga seorang manusia? Wajar jika merasa khawatir, Alfan adalah teman kelasnya. Cowok itu sangat berperan aktif di sana. Wajar jika Jenna merasa ada yang berbeda jika cowok itu tidak ada.

Tapi mengingat kejadian semalam, ada secuil perasaan tak enak. Apa yang ia lakukan adalah suatu kesalahan?

Apa perlakuannya melukai hati Alfan?

"Jenn."

Jenna menoleh, mendapati wajah Karin yang memelas.

"Lo masih marah sama gue?"

Sebenarnya Jenna tidak benar-benar marah. Hanya saja ia ingin memberi peringatan kepada Karin agar tidak sembarang menyebar nomor pribadinya. Karena bagi sebagian orang, itu adalah hal privasi bukan?

"Nggak."

"Beneran?"

"Iya."

"Eumm, sayang deh!"

Tanpa berkata apa-apa lagi, Karin langsung berhambur ke pelukan Jenna.

"Gue gak sayang lo," celetuk Jenna.

Karin langsung melotot dan melepaskan pelukannya. "Jahat!"

"Canda," Jenna mengangkat dua jarinya membentuk peace.

.
.

Sudah pukul 09.00. Alfan baru terbangun dari tidurnya. Cowok itu terkejut dan langsung mengecek handphonenya. Banyak sekali notifikasi pesan dan panggilan telepon dari dua sahabatnya. Astaga, tidurnya lelap sekali.

Tapi terkejutnya hanya sesaat, sebelum akhirnya ia menatap wajah Mamanya yang pucat. Alfan baru menyadari kalau tubuh itu kian kurus, begitupun juga rahangnya yang terlihat lebih tirus. Baru saja kemarin Alfan melihat Mamanya tersenyum. Kini senyuman itu sudah menghilang lagi saja.

Mungkin ini adalah pelajaran hidup. Bahwa kita harus mensyukuri apa yang kita punya sekarang, karena mungkin esok kita sudah tidak memilikinya lagi.

Jemari Alfan langsung mengetikkan sesuatu di sana. Ia tak mungkin membuat dua sahabatnya itu khawatir.

Gue baik-baik aja, lagi nemenin nyokap di rumah sakit.

Tolong izinin gue, ya.

Setelah mengirimkan pesan itu, handphone Alfan mati total. Tadi malam baterainya memang sudah sekarat, Alfan lupa untuk mencharge-nya.

"Sudah sarapan, Al?"

Alfan mendongak, mendapati Dokter Ryan yang mengenakan kemeja biasa. Sepertinya, Dokter itu sedang libur hari ini.

"Cuci muka dulu, habis itu ke balkon. Kita sarapan bareng," ujarnya.

Hangat sekali mendengarnya.

Alfan mengangguk, melakukan apa yang diperintahkan Dokter Ryan. Tidak lupa juga, cowok itu mencharger handphonenya di atas nakas.

"Dokter tau saya tidak pulang?"

"Tau dong, kan saya sempat bangunin kamu tadi pagi."

"Loh? Masa sih, Dok?"

ALL ABOUT ALFANOCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang