Pelajaran olahraga tengah dimulai. Semua murid kelas XI-2 dikumpulkan disebuah lapangan. Sebelum pelajaran dimulai, mereka melakukan peregangan otot atau yang biasa disebut pemanasan. Kemudian berlari-lari kecil memutari pinggir lapangan.
"Hai."
Jenna menoleh dan mendapati Alfan yang kini berlari disampingnya.
"Kenalin, gue Alfan," Alfan mengulurkan tangannya. Tapi Jenna tak menggubris. Cewek dengan poni yang melekat di dahinya itu justru sedikit mempercepat langkahnya.
Alfan mengangkat satu alisnya, heran. Selama ini, tidak ada yang pernah mencuekinya. Tapi sepertinya cewek yang berada di depannya ini sedikit berbeda. Merasa ditantang, Alfan kembali mensejajarkan dirinya di samping Jenna. "Pindahan dari Bogor ya?" tanya Alfan.
"Basa-basi. Pertanyaan lo udah terjawab di perkenalan gue tadi," jawab Jenna tanpa menoleh sedikitpun.
"Kalau ngomong itu, tatap lawan bicaranya. Belajar menghargai dalam hal kecil."
Jenna menoleh lalu menatap penuh keheranan. "Lo gak penting. Kita baru kenal, gak usah sok nasehatin."
"Gak usah jutek gitu, nanti cantiknya ilang."
Jenna menatap malas Alfan. Dia melangkah lebih cepat lagi dan berdiri di samping Karin. Pemanasan kini sudah berakhir.
"Naksir, bro?"
Alfan menoleh ketika mendapati sebuah tangan menepuk pundaknya. Tangan itu milik Ardhi.
"Langsung gebet aja kata gue teh," Arya ikut menyahuti.
"Berisik lo berdua."
"Baik anak-anak, materi kita kali adalah permainan bola basket. Mulai dari pergerakan dasar, satu persatu kalian mendribble bola basket ini lalu memasukkannya ke dalam ring. Dimulai dari absen pertama ya, bisa dimengerti?" ujar Pak Rendra.
"Mengerti, Pak!"
"Ya sudah dimulai dari sekarang. Absen pertama, kamu, Alfan."
Alfan maju ke depan barisan. Ia mengambil bola basket yang telah disediakan. Ia menggiring bola tersebut dengan mendribble santai. Lalu dengan mudah ia memasukkan bola basket tersebut ke dalam ring. Dan ya, tepat sasaran. Bola itu masuk dengan sempurna.
Suara riuh tepuk tangan terdengar di telinga Alfan. Cowok itu kembali mengambil bolanya dan mendribble sampai ke tempat awal.
"Bagus, Alfan. Sekarang giliran kamu Arya."
"Woke, siap Pak!" seru Arya dengan semangat empat lima.
Arya melakukan hal yang sama seperti Alfan. Dua langkah, empat langkah masih lancar. Namun karena ceroboh, pada langkah terakhir ia tidak sengaja menginjak tali sepatunya sendiri. Yang membuat Arya kehilangan keseimbangan sampai akhirnya cowok itu jatuh tersungkur ke lantai.
"Bwahahaha!!"
Suara tawa menggelegar di lapangan basket.
"Ketawa lo, ketawa. Bukannya bantuin kek. Aduh sakit juga jidat gue nyusruk," kesal Arya seraya memegangi dahinya.
"Arya, kamu ini gimana sih. Ayo bangun dan iket tali sepatu kamu dengan benar!" Pak Rendra menggelengkan kepalanya pelan.
"Iya, Pak." lirih Arya lalu menatap sengit orang-orang yang mengejeknya.
Arya dibantu berdiri oleh Ardhi, sedangkan Alfan memilih menepi di pinggir lapangan. Ia menyandarkan tubuhnya di salah satu kursi dekat pohon. Cowok itu meneguk satu botol air mineral yang ia bawa tadi hingga tandas.
KAMU SEDANG MEMBACA
ALL ABOUT ALFANO
AcakAlfano Ravindra. Sosok cowok ramah yang menyukai cewek sejutek Jennaira. Disaat sang Mama terbaring koma di rumah sakit, disaat itu juga Alfan harus merelakan Papanya. Papa yang rela menikah lagi demi bentuk pertanggung jawaban atas perbuatannya dul...
