Bab 4 : Pesona dan Kehangatannya

47 11 1
                                        

HAPPY READING
Waspada salting!
🔥🔥

***

"Hai, Alfan."

"Hai juga, cantik."

"Pagi kak Alfan."

"Pagi juga, jangan lupa sarapan."

"Alfan ganteng banget hari ini."

"Makasih ya, manis."

"Narsis amat jadi cowok!"

"DUNIA HANYA MILIK SI ALFAN!" Arya berteriak kencang.

Kedua teman yang ada disampingnya itu terlonjat kaget.

"Apa sih lo, Ar. Sirik tuh bilang ke orangnya, noh," tunjuk Ardhi.

Arya mencibir. "Al, tutor jadi lo dong?"

"Mandi bunga tujuh rupa" jawab Alfan asal.

"Lo kira gue lagi tujuh bulanan?!"

Alfan tak menghiraukan celotehan Arya lagi, ia tetap berjalan dengan pandangan yang fokus ke depan. Tak sedikit kaum hawa yang memandangi Alfan, istilahnya nikmat pagi mana yang kau dustakan. Alfan bagaikan vitamin penyemangat bagi siswi-siswi SMARA disepanjang harinya. Cowok itu terlihat lebih cool dengan jaket warna navy-nya.

"ALFAN!!!"

Lagi-lagi suara cempreng milik Yura selalu terdengar di telinganya. Cewek itu memang paling sering mendekati Alfan dibandingkan dengan siswi lainnya.

"Hari ini Mama gue buatin kue, lo makan ya," ujarnya seraya mengulurkan sebuah kotak bekal berwarna putih dan jangan lupakan seulas senyum yang tak pernah luntur jika bertemu dengan seorang Alfan.

"Itu nyokap lo yang bikin?" tanya Alfan.

Yura mengangguk cepat.

"Itu artinya dia buatin ini buat lo, jadi lo yang harus habisin ini. Lo harus hargain, oke?" tutur Alfan.

Yura memberengut sedih. "Lo kok gitu sih? Gak menghargai gue banget," katanya.

"Hargai orang lain dulu, kalo diri lo sendiri pengen dihargai. Nyokap lo udah susah-susah bikin kue itu, demi anaknya. Tapi lo malah kasih ke orang lain." Alfan melangkah pergi, diikuti dengan kedua temannya. Meninggalkan Yura dengan kotak bekalnya seraya menunduk sedih.

"Eh Yur, kalo gak mau buat gue aja," ujar Arya, cowok itu mundur kembali untuk menghampiri Yura.

Yura mendelik tajam.

"Gak jadi deh, sepertinya garang."

.
.

"Eh, Al."

"Seriusan bokap lo gak pulang dari kemarin?" tanya Arya.

Mereka sedang berada di kelas, hari ini jam kosong. Guru-guru sedang sibuk merekrut anggota baru OSIS. Anak-anak murid yang tidak ikut seleksi diberi tugas oleh guru mata pelajaran masing-masing. Tapi bukannya mengerjakan, anak kelas XI-2 sibuk dengan dunianya sendiri.

Ada yang tertidur, mencoret-coret papan tulis, bermain game, bergosip, bahkan sampai ada yang menonton bareng di pojokan kelas. Satu pun tak ada yang berminat mengerjakan tugas bahasa Inggris mereka. Katanya, tidak ada kata yang dimengerti di sana.

Alfan mengangguk.

"Kenapa?" tanya Arya lagi.

"Lo kepo banget jadi orang. Biarin lah itu urusan keluarga mereka, gak usah ikut campur," sahut Ardhi yang kemudian menoyor kepala temannya. Ardhi memang begitu, kalau tidak diberi tahu, ia tidak akan terlalu kepo.

ALL ABOUT ALFANOCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang