Bab 26: Pemenang Hati

12 1 0
                                        

Pagi pagi sekali Alfan sudah berada di koridor, tepatnya di depan ruang OSIS. Ia duduk dengan tangan bersedekap dada, bersandar di tembok seraya mendengarkan musik dari earphonenya. Jelas di sana masih sepi karena ini masih pukul enam pagi. Alfan benar-benar tidak tidur semalaman, makanya dia bisa berangkat sepagi ini.

Satu menit, dua menit, hingga beberapa menit ke depan Alfan masih di posisi yang sama. Sampai orang yang ditunggunya benar-benar tiba.

"Lo tanpa musik dunia masih baik-baik aja," ujar seseorang yang baru datang. Dia masih menggendong tasnya, mengambil salah satu earphone dari telinga Alfan dan berdiri di depannya. Tapi cowok itu tidak tersentak, ia justru tersenyum penuh arti.

"Lo nggak jadi ketos pun dunia masih aman-aman aja," balas Alfan.

"To the point," acuhnya.

Alfan berdiri dari duduknya, sebelum berkata ia memastikan kalau tidak ada orang di sana. "Vagos nyerang gue." Tiga kata yang terlontar tidak mengubah ekspresi Varo. Cowok itu masih berdiri dengan satu tangan yang dimasukkan ke dalam saku celananya.

"Lalu apa hubungannya dengan gue?"

"Tentang fitnah kemarin dan penyerangan Vagos, gue yakin lo ada hubungannya."

"Lo nuduh gue."

"Gue nggak nuduh lo."

Varo tersenyum miring. "Gue nggak nanya, itu pernyataan kalo lo emang lagi nuduh gue."

"Kalo emang bukan, lo bisa jelasin ini maksudnya apa?" tanya Alfan.

Varo mengangkat alisnya tanda tak paham. "Gue nggak tau, dan gue nggak mau berurusan sama lo." Merasa tidak nyaman dengan tudingan Alfan, ia melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam ruangan OSIS.

Tapi sebelum Varo benar-benar meninggalkan tempatnya, Alfan kembali bersuara. "Kalo emang nggak mau berurusan sama gue, kenapa? Kenapa lo masuk di kehidupan kami?" suara itu tidak keras, namun berhasil menghentikan langkah Varo.

"Bukan gue yang punya mau", batinnya.

"Lomba renang menjadi perlombaan untuk pembuka acara Classmeet, lo ikut lomba itu kan? Acaranya sekitar dua jam lagi, masih ada waktu buat sekedar sarapan. Gue harap lo profesional."

"Bukan itu yang mau gue denger."

.
.
.

Sudah terhitung bulan, tapi tetap saja masih jadi mangu di pikiran Alfan. Masalah yang harusnya cepat berlalu namun justru semakin kelu. Kemarin ia sudah memutuskan untuk meninggalkan rumah. Tempat dimana ia pulang, kini sudah tidak ia inginkan lagi. Semoga saja rindu tidak menghampiri.

Harusnya ia sadar kalau sejak kecil hidupnya biasa-biasa saja. Istimewanya hanya karena diistimewakan oleh harta, benda, dan orang lain yang menghargai keberadaannya. Semuanya berjalan normal hingga akhirnya ia menyadari gerak-gerik orang tuanya yang seakan sedang beradu akting.

Harusnya sampai situ saja Alfan dapat memahami perannya. Bukan justru mengikuti alur lalu terjebak dalam permainannya.

"Gue nggak tau apa yang lagi lo hadapi, tapi–"

Sebenarnya Jenna ragu untuk memberikan ini. "Semoga ini bisa balikin mood lo lagi." Berakhir Jenna memberikan kotak bekalnya di depan meja Alfan.

Jodoh memang begini, tidak akan kemana. Seperti sebuah makanan yang datang disaat kita lapar. Semoga dua insan yang saling mencintai dapat menemukan bahagianya. Entah pada orang lain, atau pada yang mencintainya juga.

"Kok lo tau gue belum sarapan?"

Jenna terkejut, ia tidak tahu jika ini adalah kebetulan yang menguntungkan. "Sepertinya kebetulan, soalnya gue nggak tau." Lalu tersenyum senang, melihat makanan yang ia buat pagi-pagi buta itu dimakan dengan lahapnya.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Mar 27 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

ALL ABOUT ALFANOCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang