Bab 6 : Kenyataan Hidupnya

36 10 1
                                        

Matahari yang semula terik kini sudah malu-malu menampakkan wujudnya. Awan cerah sudah berganti dengan kemelut jingga. Seperti kehidupan, semuanya turut berputar.

Suara ombak yang bergemuruh sama sekali tak mengganggu seseorang yang berada di pinggir pantai. Justru ia semakin larut dalam lamunannya. Tatapannya kosong menatap ke depan. Otaknya dituntut untuk berusaha mencerna kejadian hari ini. Jika ini mimpi tolong segera bangunkan dia. Tapi jika ini nyata, kenapa ia harus merasakannya?

Sesuatu yang seharusnya sudah ia ketahui dan rasakan keberadaannya. Tapi sesuatu itu juga yang akan menyakitinya. Hal yang seharusnya tidak mungkin terjadi. Kenyataan pahit tentang keluarganya. Alfan benar-benar tidak habis pikir.

Setelah David menceritakan panjang tentang kebenaran yang selama ini ditutupi. Alfan tidak bisa berkata-kata lagi. Ia kesulitan untuk memahami.

"Wanita yang kamu liat tadi adalah Mayang. Mantan kekasih Papa dulu, sebelum Papa dijodohkan dengan Mama kamu. Dan anak laki-laki tadi adalah anaknya. Yang berarti itu anak Papa juga. Kakak tiri kamu, Alfan."

"Ada banyak hal yang seharusnya tidak terjadi di kehidupan kami, Alfan."

"Awalnya Papa juga gak tau dan kaget. Mayang secara tak sadar mengandung anak dari Papa. Tapi saat itu Papa sudah menikahi Mama kamu dan pindah ke Jakarta tanpa sepengetahuannya."

"Sampai akhirnya, kemarin, kita bertemu di sebuah proyek dan Mayang menceritakan semuanya. Dia bercerita tentang bagaimana perjuangannya mencari keberadaan Papa sambil membesarkan Aldevaro seorang diri."

"Papa gak nyangka kalau kejadiannya akan jadi seperti ini. Tapi Papa berharap kamu menerimanya, Alfan."

Lucu. Lucu sekali menurutnya. David memintanya untuk menerima kenyataan itu dengan sekejap kata.

"Dok, gimana keadaan Mama saya?"

"Kalian keluarga pasien?"

"Iya, Dok."

"Tadi pasien sempat mengalami kekurangan banyak darah, tapi kami sudah berhasil mengatasinya. Namun maaf, ada hal buruk yang harus saya katakan pada kalian."

"Pasien mengalami koma, entah sampai kapan kami juga tidak bisa memprediksinya. Tim medis sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Yang bisa kita lakukan saat ini hanya berdo'a untuk kesembuhan beliau."

Sejak dokter menyatakan bahwa Priska mengalami koma, di sinilah Alfan berada. Berdiri di pinggir lautan yang luas seorang diri. Meratapi semua yang terjadi. Bukannya ia tak ingin menemani Priska di kamar pesakitan itu, namun Alfan juga butuh waktu sendiri dalam kondisi seperti ini. Apalagi untuk melihat Mamanya, ia butuh mental yang kuat.

Bukan hal yang mudah untuk Alfan menerima semua kenyataan ini. Kenyataan bahwa Priska koma, kenyataan Papa-nya yang lalai, bahkan sampai tidak bertanggung jawab selama delapan belas tahun lamanya.

Semilir angin berhasil menerpa rambut hitamnya. Hanya di sini, tempat yang Alfan rasa tenang.

"Ayo, ke sini Jenn."

"Karin, balikin rumput laut gue."

Suara yang tak asing itu berhasil membuyarkan lamunan Alfan. Cowok itu mengedarkan pandangannya, lalu menemukan dua sosok yang ia kenali sedang berlarian di ujung pantai sana.

"Iya nih, iya."

"Lagian lo, gue ajakin ke sini juga susahnya pake banget."

"Bagus juga ya pemandangan di sini."

"Tuh kan, apa gue bilang. Sunset di sini itu lebih indah dibanding sunset yang lo lukis di canvas."

"Jadi lo ngejek lukisan gue?!"

ALL ABOUT ALFANOCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang