"Sekarang lo bisa pergi."
What? Apa-apaan ini.
Jenna bergeming di tempat. Sedangkan Alfan berjalan gontai menjauh dari hadapan.
"Gue mau nolongin lo, Alfan."
"Gue baik-baik aja, pulang ya?"
Suara itu nampak parau di pendengaran Jenna. Ia tidak mungkin meninggalkan Alfan sendirian. Cowok itu sedang tidak baik-baik saja. Dia baru mengalami kecelakaan.
Jenna mengikuti Alfan dari belakang. Cowok itu berjalan sambil sesekali memegangi kepalanya.
Dasar keras kepala.
Buk!
Buk!
Buk!
Jenna melotot ketika melihat Alfan melakukan hal diluar nalar. Cowok itu meninju pohon yang ada di depannya. Beberapa kali, sebelum akhirnya Jenna berlari dan menahan tangan Alfan.
"Lo gila?!"
Sekarang posisi Jenna sudah berada di depan Alfan.
"Jangan sakiti diri lo."
Alfan terduduk di tanah, ia merasa tak pernah selemah ini.
"Tinggalin gue sendiri, Ra."
"Gue nggak bisa."
Tiga kata itu berhasil lolos dari mulut Jenna.
"Kenapa?"
Jenna terdiam, bingung ingin menjawab apa. Hingga akhirnya Alfan bertanya kembali, dan ini langsung dari mata ke mata.
"Khawatir?"
"Iya."
Alfan senang tidak ada kebohongan di sana. Cowok itu tersenyum, menghangat. Jenna memang pintar sekali menenangkan hatinya.
"Obati luka lo, ya?"
Sekarang, tidak ada penolakan lagi. Jenna mengulurkan tangan dan disambut baik oleh Alfan. Cewek yang masih lengkap dengan seragam sekolahnya itu mengajak Alfan untuk duduk di salah satu kursi yang menghadap ke danau.
Jenna mulai membuka tas ranselnya, membuka botol minum yang masih menyisihkan sedikit air untuk membersihkan luka Alfan. Setelah luka itu bersih, ia berlanjut mengambil kotak kecil yang sepertinya kotak pensil. Di dalam sana terselip plester bergambar binatang yang sengaja ia simpan untuk berjaga-jaga kala diperlukan. Dan itu memang berguna bagi luka Alfan. Ya, setidaknya cukup membantu.
"Makasih, Jennaira."
Jenna mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Plesternya lucu," ungkap Alfan.
Jenna tersenyum senang. Tapi sesaat kemudian, ia teringat akan suatu hal.
"Alfan."
"Hmm?"
"Gue minta maaf," cicit Jenna.
"Perihal?"
"Waktu di cafe, gue nggak bermak–"
"Lupain."
Jenna mengerjapkan matanya, padahal ia belum selesai berbicara. Tapi tidak apa, yang penting hatinya sudah cukup lega.
"Oke."
"Naira."
Kini giliran Alfan yang memanggil Jenna.
"Kenapa?" tanya Jenna.
"Boleh pinjam bahu lo sebentar?"
Sebenar Jenna merasa gugup, tapi tidak apa. Anggap saja ini sebagai tanda permintaan maafnya. Lagi pula, sepertinya Alfan sedang ada masalah. Terlihat jelas dari sorot matanya yang tak seperti biasa.
KAMU SEDANG MEMBACA
ALL ABOUT ALFANO
RandomAlfano Ravindra. Sosok cowok ramah yang menyukai cewek sejutek Jennaira. Disaat sang Mama terbaring koma di rumah sakit, disaat itu juga Alfan harus merelakan Papanya. Papa yang rela menikah lagi demi bentuk pertanggung jawaban atas perbuatannya dul...
