Bab 17 : Posisi Seharusnya

17 1 0
                                        

"Gimana keadaan Mama saya, Dok?"

"Sudah lebih baik, tapi pasien masih harus dirawat selama beberapa hari kedepan untuk masa pemulihan."

Alfan mengangguk paham. "Makasih, Dok."

"Kalo gitu saya tinggal dulu. Alfan, kalo ada apa-apa segera panggil saya ya."

"Siap." Alfan mengangkat tangannya hormat.

Dokter Ryan keluar dari dalam ruangan. Sekarang hanya ada Alfan dan Priska. Sebelumnya Alfan telah mengabari David dan kedua sahabatnya. Tapi sedari tadi hanya ada balasan dari kedua sahabatnya saja. Sedangkan David, Pria itu hanya membaca pesannya. Entah sibuk atau apa, Alfan tidak peduli. Karena ia juga yakin, kedatangan David sudah tidak berpengaruh lagi di kehidupan Mamanya.

"Alfan," panggil Priska.

"Iya, Ma. Kenapa? Ada yang sakit?"

Priska menggeleng. "Kamu nggak berangkat sekolah?"

"Arya sama Ardhi udah izinin Alfan."

"Izin karena apa, Al?" Priska heran.

"Karena Alfan masih kangen sama Mama," cengir Alfan.

"Tapi Al–"

"Udah lah Ma, udah telat juga kalo Mama nyuruh Alfan sekolah sekarang."

Priska hanya bisa menghela nafas.

.
.

"Pertama-tama saya ucapkan terima kasih kepada seluruh guru yang telah memilih saya sebagai ketua OSIS tahun ini. Saya harap kalian semua juga dapat menerima keputusan tersebut. Saya janji, selama saya menjabat saya akan melaksanakan amanah dan bertanggung jawab untuk memelihara kedisiplinan dan ketaatan siswa-siswi yang ada di sini. Jadi, mohon kerja samanya," ujar Aldevaro di depan umum. Cowok itu tersenyum hingga melihatkan lesung pipinya.

Siswi-siswi yang ada di sana pun teriak heboh. Tak sedikit dari mereka yang memuji secara terang-terangan. Hingga membuat beberapa siswa merasa terganggu sekaligus iri.

"Akhirnya do'a gue terkabul juga, terima kasih ya Allah," Karin menengadahkan tangannya ke atas.

Jenna menatap heran. "Emang lo do'a apa?"

Karin menoleh lalu tersenyum. "Gue berdo'a supaya dapet ketos yang cakep. Soalnya gue bosen tiap tahun dapet ketos yang sangar doang, cakep mah kagak," celetuknya.

Jenna menggelengkan kepalanya tak percaya. Ada-ada saja permintaan Karin. Tapi dilihat dari gerak-geriknya, sepertinya semua orang belum mengetahui kalau murid baru yang kini telah resmi menjadi ketua OSIS itu adalah kakak tiri Alfan. Anak dari pemilik sekolah ini.

'Kalo emang bener dia Kakak tirinya Alfan. Kemungkinan besar perempuan yang ada di samping Pak David itu Ibu kandungnya.'

Sibuk mengamati Aldevaro, Jenna sampai tak menyadari kalau Aldevaro sudah berbalik menghadapnya. Sesaat pandangan mereka bertemu, Jenna memutuskan untuk berpura-pura melihat ke arah lain. Cowok itu memang terlihat tampan walau dari jauh. Standar ketampanannya sebelas dua belas dengan Alfan.

Ngomong-ngomong soal Alfan, di mana cowok itu? Biasanya selalu muncul disekelilingnya. Apakah hari ini ia tidak masuk sekolah?

"Jenn, hari ini Alfan gak masuk," ujar Arya yang entah sejak kapan berada disampingnya.

"Terus?" tanya Jenna tanpa mengindahkan perhatiannya.

"Ya siapa tau lo nyariin dia."

Jenna mengendikkan bahunya acuh.

"Biasa aja kali."

Jenna menoleh karena merasa tersindir dengan ucapan Arya barusan.

"Maksud lo?"

ALL ABOUT ALFANOCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang