Bab 10 : Bunga Lily Kesukaannya

37 7 7
                                        

Sesuai dengan janji Alfan mengajak Arya dan Ardhi ke rumah sakit untuk menjenguk Priska. Mereka berjalan di koridor dengan Alfan yang berada di tengah. Cowok itu menarik nafas panjang sebelum akhirnya membuka pintu kamar tempat Mamanya dirawat.

Pemandangan yang pertama kali mereka lihat adalah Priska yang masih terpejam dan terbaring lemah di atas brankar. Wajah pucatnya tertutup oleh masker oksigen serta tangan yang diinfus. Beberapa alat medis lainnya juga terpasang pada tubuh wanita paruh baya itu. Sebenarnya Alfan benci melihat kondisi ini. Setiap kali melihat Priska sakit, ia seakan merasakan sakitnya juga.

Alfan meletakkan bunga lily yang ia bawa di atas nakas. Cowok itu duduk di kursi samping brankar lalu menggenggam erat tangan sang Mama. Berusaha menyalurkan kehangatan pada tangan yang dingin itu.

"Mama." panggilnya namun tidak ada jawaban.

"Maafin Alfan yang gak bisa jagain Mama ya."

Alfan menunduk seraya mengusap pelan tangan Priska.

"Alfan janji akan sering-sering jenguk Mama ke sini," ujarnya lagi.

"Oh ya, aku bawain bunga lily kesukaan Mama loh."

Alfan menatap bunga yang tadi ia letakkan. Ia teringat Priska yang sedang menggenggam bunga lily dan mengucapkan terima kasih padanya waktu lalu. Ah, ia jadi rindu senyuman Mamanya itu.

"Kata dokter, Alfan harus sering ajak ngobrol Mama."

"Mama denger suara Alfan kan di sana?" tanya Alfan.

Namun Priska masih enggan menjawab. Matanya masih setia terpejam. Di sana hanya ada suara monitor pendeteksi jantung.

Arya dan Ardhi masih setia dibelakang Alfan. Sebagai sahabat mereka juga merasa iba atas kejadian yang menimpa Alfan.

"Al, kita ke kantin yuk. Dari pagi lo belum makan," ajak Ardhi.

Alfan menggeleng. "Nggak, Dhi. Lo berdua aja."

"Lo jangan gitu, Al. Tante Priska juga bakal sedih kalo lo gini."

"Iya, Al. Kalo lo sakit siapa yang bakal jagain Tante Priska lagi?" Arya menambahi.

"Lo makan dulu, ya?" bujuknya lagi.

Kali ini Alfan mengangguk.

.
.

"Gue gak nyangka Om David yang gue kenal ternyata bisa ngelakuin itu," lirih Arya.

"Jadi lo bakal gimana, Al?" tanya Ardhi.

"Gue masih gak tau, Dhi." Alfan menatap kosong minumannya.

"Yang pasti gue gak akan ninggalin Mama gue sendiri."

Arya menepuk pundak Alfan lalu mengusapnya pelan.

"Apapun yang terjadi lo gak akan sendiri. Ada kita di sini, Al. Yang siap bantu lo," ujarnya. Mereka berdua tulus. Sebagai seorang sahabat, harus saling support bukan?

Alfan tersenyum haru, ia beruntung mempunyai sahabat seperti mereka.

"Makasih ya, gue beruntung punya lo berdua."

Arya terkekeh pelan, "lo pasti akan beruntung lagi kalo udah dapetin hatinya si Jenna, kan?"

"Ya, jelas."

Ardhi menggelengkan kepalanya pelan. Padahal ini lagi momen haru, bisa-bisanya kedua temannya itu membahas tentang cewek.

.
.

"Jenn."

"Hmm."

"Keknya Alfan suka deh sama lo."

"Gak."

ALL ABOUT ALFANOCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang