Alfano Ravindra. Sosok cowok ramah yang menyukai cewek sejutek Jennaira.
Disaat sang Mama terbaring koma di rumah sakit, disaat itu juga Alfan harus merelakan Papanya. Papa yang rela menikah lagi demi bentuk pertanggung jawaban atas perbuatannya dul...
TINGGALIN JEJAK GENGS!!! Timaacih, peluk jauh kalian🤗🧡
— HAPPY READING —
***
"Abang!!"
Teriakan Chia berhasil menghentikan langkahnya.
"Abang, mau ke mana? Acaranya belum selesai."
Niat Alfan untuk mengejar Jenna terurung, ia tak tega meninggalkan gadis kecil dengan mata berbinarnya. Alfan tak ingin mengecewakan Chiara dan pestanya. Pasti sulit untuk gadis seusia itu untuk merencanakan segalanya.
Karin meringis memperhatikan interaksi keduanya. Ia jadi teringat momennya dengan Alfan dulu memang terbilang dekat, sedekat adik dan kakak. Sama seperti hal yang dialami Chiara. Dengan memberanikan diri, Karin pun mendekat. Mengulurkan tangannya di depan Alfano.
"Ini kontak Jenna, kalo lo mau."
"Ngga papa?" dengan hati-hati Alfan bertanya.
"Gue percaya sama lo."
Alfan tersenyum, sedangkan cowok jangkung yang di belakang Karin seolah memberikan tanda tanya. Entah mengapa, tatapan mereka berdua seakan dekat.
"Thanks, Rin."
Setelah memastikan handphonenya kembali, Karin terkesiap ketika Atlas menariknya kencang. Karin berusaha menyeimbangkan langkahnya dengan langkah besar cowok jangkung itu.
"Apaan sih, At?!"
Sampai pada akhirnya cowok itu berhenti di tempat parkiran motornya.
"Gue nggak suka lo tatap lama cowok itu."
"Posesif banget."
"Gue posesif karena lo pacar gue. Coba kalo lo bukan cewek gue, udah gue tinggalin dari tadi," sinis Atlas.
"Eummm, jadi ceritanya lagi cemburu niehhh???"
Karin tertawa lebar, pacarnya itu memang sulit ditebak sikapnya.
"Udah ah, ayo pulang!"
"Cium dulu baru gue anterin."
"Najong, ogah gue nyium lo di sini. Malu noh sama anak kecil," tunjuk Karin pada anak kecil di seberang sana.
Baru saja ingin mengerjai pacarnya. Niat Atlas pun pupus hanya karena anak kecil. Di seberang sana memang terdapat taman bermain. Kebetulan ada dua anak kecil yang sedang bermain malam-malam begini. Sialan lu.
. .
Dinginnya malam menyentuh kulit Jenna. Awan gelap itu menjadi saksi atas kegalauannya. Di sinilah Jenna sekarang, duduk di balkon kamar seraya memandangi bulan. Masih teringat jelas di benaknya, Alfan menyatakan rasa. Rasa yang mungkin selalu ia tunjukkan kepada seseorang yang salah.
Dia tidak salah, dan Jenna hanya ingin menghindari. Bagaimanapun gadis itu belum mengenal cinta.
Seringkali ditanya, tapi jawabannya masih tetap sama. Jenna terlalu takut, Jenna pengecut dalam hal mencintai. Jenna merasa dirinya belum siap untuk segala konsekuensinya. Bukankah semua bentuk cinta mempunyai konsekuensi? Ya, lebih tepatnya Jenna belum siap jika harus merasakan patah hati.
Masih dalam lamunan, masih dalam bayangan, tiba-tiba saja orang yang ada dalam pikiran muncul di kontak pesan.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.