Pertandingan telah berakhir. Alfan berhasil memenangkan pertandingan tersebut. Sebelah tangannya diangkat pertanda menang. Cowok berbaju serba putih itu membungkukkan tubuhnya tanda hormat.
Pertandingan taekwondo kali ini diadakan di luar sekolah. Alfan hanya didampingi oleh pelatihnya.
Tak membutuhkan waktu lama Alfan kembali ke pekarangan sekolah. Melewati koridor yang nampak sepi sambil membawa piala kemenangannya. Kakinya melangkah menuju tempat seseorang yang ingin ia temui pertama kali setelah memenangkan lomba.
Semoga saja dengan membuatnya bangga akan bisa melancarkan rencananya. Rencana membuat David untuk merubah keputusannya.
"Papa."
Sudah Alfan duga jika David berada di ruangan. Ia tahu kapan saja hari David akan mengunjungi sekolah ini.
"Kenapa, ada masalah?" tanya David yang masih berkutat dengan laptopnya.
Senyuman yang semula terbit seketika pudar. Memangnya ia menemui David saat ada masalah saja? Tidak. David itu termasuk orang yang sibuk. Berpontang-panting mengurus perusahaan dan sekolah secara bersamaan. Jika ada masalah pun Alfan akan menyelesaikannya sendiri. Ia tak pernah bercerita banyak pada Papanya. Mereka jarang menghabiskan waktu bersama. Alfan lebih sering bersama Priska.
"Ada kejutan."
Perkataan Alfan sontak membuat kepala David mendongak. Melihat putranya yang mengenakan pakaian taekwondo sambil menjinjing piala.
David hanya tersenyum simpul sebagai tanggapan.
"Mau dipajang di sekolah atau di rumah?" tanyanya.
Alfan melepaskan medali di lehernya, lalu meletakkannya bersama piala di atas meja. Ia berjalan dan menghempaskan tubuhnya di sofa yang berada di sudut ruangan dekat jendela. Hembusan nafas pun terdengar di sana.
"Cuma itu?" Alih-alih menjawab justru Alfan bertanya balik.
Kening David berkerut tanda tak mengerti dengan ucapan putranya. "Maksud kamu?"
"Cuma itu tanggapan Papa?"
"Bukannya itu sudah menjadi hal biasa ya? Kamu kan sudah sering menorehkan prestasi di bidang manapun," jawab David tanpa menoleh ke arah Alfan.
Alfan menegakkan tubuhnya. "Sebenernya Alfan cuma gabut sih. Tapi gak nyangka ternyata kegabutan itu berpengaruh baik di sekolah ini."
David menghentikan aktivitasnya. Pria itu membalikkan kursinya menghadap ke arah Alfan. "Kamu mau minta sesuatu?"
Alfan merasa tertarik dengan pertanyaan itu. Ini yang ia tunggu-tunggu.
"Cuma satu untuk saat ini. Aku mau Papa berhenti melanjutkan rencana pernikahan sama Tante Mayang," pintanya.
David terdiam. Ia menatap putranya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Apa Papa bisa menuhin permintaan itu?"
David terlihat berpikir. Setelah dirasa jawabannya sudah cukup mantap ia pun berucap kembali. "Kamu gak berhak buat melarang Papa, Alfan."
"Kenapa? Aku ini anak Papa kan?"
"Bukan berarti kamu bisa menyuruh Papa seenaknya, Al. Papa tau mana yang terbaik untuk kalian," David menyangkal.
Alfan menautkan alisnya. "Terbaik mana yang Papa maksud? Tanpa Papa sadari Papa itu egois. Papa gak mikirin perasaan Mama, Papa cuma mikirin Tante Mayang. Papa juga gak mikirin perasaan Alfan."
"Pa, Alfan baru aja liat Mama koma. Dan sekarang Alfan juga harus liat Papa nikah lagi? Bagian mana yang terbaik, Pa?"
"Alfan, kamu gak tau kebenarannya."
KAMU SEDANG MEMBACA
ALL ABOUT ALFANO
DiversosAlfano Ravindra. Sosok cowok ramah yang menyukai cewek sejutek Jennaira. Disaat sang Mama terbaring koma di rumah sakit, disaat itu juga Alfan harus merelakan Papanya. Papa yang rela menikah lagi demi bentuk pertanggung jawaban atas perbuatannya dul...
