E p i l o g

354 29 2
                                        

Faris meminta Ganira untuk pindah ke rumah yang lebih besar. Jaraknya pun tidak jauh dari kediaman mendiang orang tua Ganira.

Sebab rumah baru itu memang sengaja Faris buat di sana.  Berdampingan. Berdiri tepat di sebelahnya.

Rumah lama akhirnya di huni oleh Bibi Suci dan suaminya, salah satu pekerja yang di bawa oleh mama Faris untuk membantu Ganira dan anaknya tentu saja.

Usia pernikahan Ganira dan Faris kini sudah menginjak lebih dari dua dekade. Dengan dua putra kembar yang tak identik. Masing-masing tumbuh dengan kepribadian dan keunikannya sendiri. Rumah besar mereka pun tetap terasa hangat dan penuh kehidupan setiap harinya.

Liam dan Teo, yang kini beranjak remaja, mulai memperlihatkan struktur wajah yang semakin tegas serta postur tubuh yang menjulang tinggi. Mewarisi karisma dan pesona kedua orang tuanya.

Tak hanya menawan secara fisik, keduanya juga memiliki kecerdasan dan keterampilan yang mumpuni. Kombinasi itu membuat daya tarik mereka semakin menonjol, dan sulit untuk tidak diperhatikan. terlebih mereka tumbuh dalam keluarga yang kaya dan terpandang.

Dibesarkan oleh orang tua yang mampu mengayomi dengan tegas sekaligus lembut, Liam dan Teo tumbuh dengan fondasi nilai yang kuat. Menghargai orang lain, namun tak gentar menunjukkan pendirian mereka sendiri.

Lengkap sudah kebahagiaan itu dengan kehadiran seorang gadis remaja cantik yang diputuskan Faris dan Ganira untuk menjadi bagian dari keluarga mereka dua belas tahun lalu, saat Liam dan Teo baru berusia lima tahun. Sejak saat itu, ia tak hanya menjadi adik, tapi juga cahaya kecil yang menghangatkan seluruh rumah.

"Sayang, Teo sini dulu, nak." Panggil Ganira kepada anak keduanya yang asik bermain basket pekarangan di belakang rumah bersama temannya.

"Kenapa, Mah?"sahut Teo sambil melangkah mendekat. Tubuhnya yang jangkung bahkan kini melebihi sang ayah, berdiri tegap di depan Ganira.

"Kamu beneran gak ninggalin adikmu di sekolah kan?" Tanya Ganira serius. Sebab ia memang sedikit curiga, semenjak kedua anak laki-laki menginjak bangku SMP hingga kini Ketiganya masuk SMA yang sama, Flo, tak lagi akrab dengan kedua kakaknya. Tak ada lagi tawa bertiga di ruang tengah, atau rebutan kecil saat sarapan. Ada jarak yang mulai terasa, terutama dari pihak Flo.

Teo menggeleng, "Enggak, mah. Dia tadi nyuruh aku pulang duluan katanya dia mau kerja kelompok sama temennya."

"Beneran?"

Mengangguk cepat, "Iya, mah. Kalo gak percaya coba tanya Liam. Dia kan masih ada urusan tuh di sekolah."

Ganira menghembuskan nafas, "Udah mama tanyain, tapi dia gak liat Flo."

Wajahnya menyiratkan kegelisahan."Tumben, anak mama yang satu ini gak bilang apa-apa. Mama jadi khawatir."

Lalu ia menepuk pundak Teo, Setelah hening sejenak, Ganira tersenyum tipis dan berkata "Kamu harus sayang Flo, terus ya. Kalo ada apa-apa bilang sama Papa atau Mama. Jangan di pendem sendiri. Yaudah kalo gitu, sana main lagi. Mama mau nelpon papa kamu dulu."

Teo berbalik, melangkah kembali ke pekarangan belakang.

Namun saat punggungnya membelakangi sang mama, satu sudut bibirnya terangkat pelan. Tipis. Hampir seperti senyum.

****
"Halo, Pah?" Liam menjawab telepon sambil menyampirkan tas di bahunya. Ia baru saja keluar dari ruang OSIS, tempat rapat koordinasi untuk pensi lusa depan. Wajahnya sedikit lelah, tapi tetap tenang seperti biasa.

"Kamu masih di sekolah, kan, Liam?"
Suara Faris terdengar dari seberang. Tegas dan agak tergesa, tidak seperti biasanya.

Liam mengernyit pelan. Tadi mamanya sekarang sang papa yang menelepon. "Masih. Tapi ini juga udah mau pulang. Emang kenapa, Pah?"

Terdengar suara helaan napas berat sebelum Faris menjawab, "Cepat pulang. Adik kamu tadi pulang langsung pingsan."

Nada bicara Faris mulai terdengar cemas, namun tetap terkendali.
"Kayaknya kecapekan. Tapi Ayah butuh kamu bantu jelasin. Ada apa sebenarnya hari ini di sekolah?"

Liam terdiam sesaat. Meskipun wajahnya datar, namun sorot tatapan terlihat tajam.

"Iya, Pah. Aku langsung pulang." Katanya sebelum akhirnya panggilan di matikan.

Ia menarik napas panjang, menatap langit yang mulai menggelap, lalu berjalan ringan ke parkiran.
Langkahnya tenang, terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja diberi kabar bahwa adiknya pingsan.

Tapi begitulah Liam. Tak pernah benar-benar bisa ditebak.










-Oke sekian epilog singkatnya.

Thanks ExpressionTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang