Liburan lima hari itu akhirnya berakhir. Meski terkesan singkat, Ganira pulang dengan hati yang penuh senyum. Ia merasa senang dan puas.
Namun, begitu melangkah kembali ke kediaman orang tuanya, hawa dingin langsung menyambut. Rumah itu terasa lebih sunyi dari biasanya, seolah menyimpan kekosongan yang tak terlihat.
Hingga sebuah pelukan hangat datang dari belakang. Faris. Ia memeluknya erat, menenangkan, seolah mengusir sunyi yang sempat menyergap.
"Mau sekarang ke makam orang tua kamu?" bisik Faris pelan di telinganya, suaranya hangat dan penuh pengertian.
Ganira meraih lengan Faris yang melingkari tubuhnya, lalu mengusapnya perlahan.
"Kalo kamu capek, nanti juga gak apa-apa," ucapnya lembut, matanya tetap menatap ke depan. Ke arah bingkai berisi dirinya dan kedua orangtuanya.
Faris menggeleng pelan, dagunya bertumpu lembut di bahu Ganira.
"Aku nggak capek, kok. Lagipula, aku tahu kamu butuh ke sana hari ini."
Suara itu membuat Ganira diam sejenak. Hening menyusup di antara mereka. Pelukannya masih erat, seolah Faris tahu bahwa Ganira sedang butuh sandaran yang nyata.
Ganira mengangguk dan Faris pun tanpa banyak bicara langsung membawanya ke tempat tujuan.
Tak lama kemudian, mereka tiba.
Udara di sekitar makam terasa berbeda. Lebih teduh, lebih hening. Seolah dunia melambat sesaat.
Ganira berjongkok perlahan, meletakkan bunga itu di atas pusara.
"Apa kabar... Ayah... Ibu... Udah lama banget ya aku gak dateng kesini," ucapnya pelan, nyaris seperti gumaman.
Angin berembus lembut. Dan dalam diam, Faris menunduk, ikut memberikan hormatnya.
"Kalo kabar Ganira di sini baik, jadi Ibu sama ayah gak usah khawatir. Di sini Ganira juga ada Faris... " Ia tersenyum kecil sambil mengelus ujung batu nisan ayahnya.
"Ibu, ayah tau gak kalo mama Faris itu ternyata yang sering ayah ceritain ke aku dulu." Suara Ganira sedikit bergetar, tapi senyumnya tetap terukir. Bukan senyum tawa, tapi senyum yang menahan rindu.
"Ternyata dunia emang sekecil itu, ya Yah. Ayah yang nolongin mama Faris, sekarang Faris yang nolongin aku."
Faris berdiri di belakangnya, sedikit membelak. Sesungguhnya perlakuannya selama ini adalah sebuah rasa terimakasih. Namun Ganira selalu beranggapan sebagai pertolongan.
Namun Faris akhirnya hanya berdiri dengan tenang. Ia tak ingin menyela, tak ingin merusak momen itu. Tapi tangan kanannya terulur pelan, menyentuh pundak Ganira dengan lembut. Menegaskan bahwa ia ada di sana sepenuhnya.
Ganira menarik napas dalam-dalam, lalu menghela perlahan.
"Dan aku bahagia, Ayah... Ibu. Walaupun kadang aku masih ngerasa kangen banget sama kalian, tapi... sekarang udah lebih kuat. Karena aku nggak sendiri lagi."
Matanya memerah, tapi tak satu pun air mata jatuh. Hanya rindu yang terasa penuh, memenuhi dada.
Hampir setengah jam mereka di sana. Tak banyak kata yang diucapkan, tapi keheningan itu tak pernah terasa canggung.
Faris sesekali ikut duduk di samping Ganira, kadang tersenyum kecil seolah ikut mengobrol dengan kedua orang tua Ganira. Meski hanya lewat hati.
Ada satu kata yang terus berputar di kepalanya. Satu kata sederhana, tapi selalu muncul tiap kali ia melihat Ganira. Satu kata yang juga ingin ia bisikkan pada orang tua gadis itu, jika mereka masih ada di dunia.
Terima kasih.
Terima kasih karena telah menghadirkan Ganira ke dunia.
Terima kasih karena telah membentuk seseorang yang begitu tangguh, lembut, dan penuh cahaya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Thanks Expression
Fiksi RemajaKejadian di taman kota setahun yang lalu ternyata mengubah kehidupan Ganira. Apalagi semenjak kedatangan laki-laki asing yang mengatakan ingin membiayai hidupnyaa dengan berlandaskan ungkapan terimakasih. Yang mengharuskannya untuk tinggal bersama d...
