bab 15

724 67 4
                                        

Sekitar dua menit yang lalu mereka sampai di apartemen Faris. Dengan desain minimalis dan ruangan yang cukup luas Ganira tidak bisa menutupi decak kagumnya.

"Ini salah satu dari lima aset lo ya?"

Faris yang tengah duduk dan membuka bungkusan makanan yang katanya di belikan oleh teman Ganira itu pun mengangguk.

"Terus ke empat sisanya apa dong?" Tanyanya penasaran, sambil melepaskan jam tangan.

Lelaki itu menatap Ganira lalu menyugar rambutnya yang sedikit menutupi pandangan kala menunduk tadi, "Yang pasti salah satu aset gue itu lo, Ganira."

Gadis itu mengerejap, "Kok gue juga?"

Faris mengakat salah satu alisnya, "Lo tau sendiri jawabannya."

Sedangkan Gadis itu langsung mendengus kesal, menarik bantal sofa untuk ia pukulkan ke bahu Faris. "Mana bisa gitu! sama aja gue udah jadi hak lo ya Faris dan gue gak mau lah!"

Tak merasa kesakitan sama sekali, Faris lantas menarik pergelangan tangan Ganira agar duduk di sampingnya, "Dengerin, Lo itu aset yang bakal selalu gue jaga dan rawat. Soal hak, itu hak lo Ganira gue gak bakal bisa ganggu." Jelasnya menatap lurus-lurus sang gadis.

"Faris, mulut lo tuh kenapa manis banget sih? gue takut baper jadinya." Ganira mendorong dada sang laki-laki saat mulai mepet mendekat.

Sejak kejadian ciuman pertama mereka, Faris memang sering mengambil kesempatan untuk mencuri kecupan di bibir Ganira. Alasannya konyol hanya untuk hubungan mereka tampak natural. Tak sadar setiap pangutan itu memberikan efek pada perasaan keduanya.

Terlebih Ganira. Seorang perempuan yang rentan terbawa suasana.

"Kan emang manis, lo sendiri udah pernah nyobain kan."

Balasan santai dari sang laki-laki langsung di hadiahi pelototan oleh Ganira. Sebab tangan besar itu mengusap-usap bibir tebalnya sendiri membuat Ganira yang sempat tak paham langsung mengerti.

Sial, padahal bukan itu yang dia maksud.

Memutar bola matanya, Ganira beranjak berdiri. "Dahlah, abisin tuh makanannya gue mau mandi."

Lalu setelah gadis itu mulai melangkah sambil menutupi kedua telinganya. Hapal sekali dengan kata-kata Faris saat dirinya akan mandi, "Mandi bareng aja yuk!"

Memang kadang-kadang laki-laki ini. Kadang menjadi seorang motivator kadang pula menjadi orang sesat.

*****

"Faris!" Panggil Ganira dengan kepala mencuat dari balik pintu kamar. Kebetulan Faris sudah selesai dengan urusan mencuci tangan langsung menghampiri si pemilik suara.

"Kenapa?" Tanya sambil memperhatikan wajah perempuan yang sudah di polesi make up, Faris diam-diam menelan ludah. Setan di dalam tubuhnya berbisik jahat untuk mengurung Ganira di dalam kamarnya saja. Namun Faris pura-pura tuli sejenak.

Seketika Pipi gadis itu semakin memerah dengan sendirinya ketika di tatap intens, "Tolong bantuin resletingin dong, susah banget dari tadi."

"Yaudah mana." ucap Faris dengan suara beratnya. Segera Ganira mundur agar Faris bisa masuk kedalam kamar.

Ganira berdiri canggung di depan cermin dengan Faris di belakangnya. Dari pantulan di depan, gadis itu tau tinggi badannya hanya sampai bahu Faris yang tegap, membuat tatapan mereka langsung bertemu kala tak sengaja menatap cermin.

Faris lagi-lagi menelan ludah, ketika Ganira menurunkan tangan membuat dress yang belum di resleting itu terbuka.

"Faris, cepatan!" Kata Gadis itu gemas karena lelaki di belakangnya malah melamun.

Thanks ExpressionTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang