Faris tak bisa menahan senyumnya saat tubuh mungil Ganira berada dalam dekapannya. Bersandar di lengannya, mereka saling berpelukan erat. Keduanya berbaring di kamar Ganira setelah film horor yang mereka tonton berakhir.
Dengan lembut, Faris mencium kening sang gadis, lalu menyelipkan rambut yang menutupi wajahnya.
"Kamu tadi ngobrol apa aja sama Mama?" tanyanya pelan.
"Ngobrol soal orang tua aku yang..." Ganira menceritakannya lagi saat ia mengobrol dengan mama Faris, tanpa sadar membuat matanya mulai berkaca-kaca. Rasa rindu menusuk hati, rasanya sudah lama ia tak mengunjungi makam orang tuanya.
Faris terdiam sejenak. Tatapannya membelalak lembut, bukan karena terkejut saja, tapi juga karena hatinya ikut tersentuh oleh kesedihan Ganira, dan oleh kenyataan bahwa gadis ini ternyata telah menjadi bagian dari cerita keluarganya jauh sebelum mereka saling mengenal.
Ia bangkit perlahan, lalu menarik Ganira untuk duduk di pangkuannya. Dengan penuh kasih, ia mengusap pipi sang gadis yang kini basah oleh air mata. Ia menatapnya dalam, lalu mencium kedua pipinya lembut, seolah ingin menghapus setiap sisa luka yang belum sempat sembuh.
"Besok kita pulang langsung ke makam orang tua kamu ya."
Faris menghela napas sebelum kembali menatap mata Ganira lurus-lurus, tangannya menahan tengkuk sang gadis agar tetap dekat. Tatapannya begitu dalam, nyaris membuat waktu berhenti.
"Aku nggak tahu kamu bosan nggak dengar aku bilang ini terus... Tapi aku benar-benar makasih, Ganira. Makasih karena kamu ada di hidup aku. Makasih karena kamu lahir ke dunia ini. Dan… makasih karena kamu mau jadi pacar aku."
Kata-kata itu meluncur dari hatinya yang paling jujur, tak ada yang dibuat-buat. Dan bagi Ganira, kalimat itu bukan hanya pengakuan cinta tapi juga janji. Janji bahwa seberat apa pun hidup, ia tak akan pernah sendiri lagi.
Ia menenggelamkan wajahnya ke leher Faris, saat menyadari wajahnya kini terasa panas.
"Kamu curang!" gumamnya pelan, sambil memeluk pinggang Faris erat.
"Kamu kenapa jadi... sempurna banget sih sekarang?"
Faris tertawa kecil, tapi tak menyela.
"Padahal dulu kamu tuh tengil banget, aku kalo dengerin kamu ngomong suka jengkel,"lanjut Ganira sambil mencubit lembut sisi perutnya.
"Tapi kenapa sekarang malah bikin aku jadi deg-degan?" Ganira mendongak, matanya menatap penuh protes. Tapi juga tak bisa menyembunyikan getar perasaan yang membuncah. Dan tanpa menunggu lama, Faris langsung mencuri kecupan di bibir pink gadisnya. Cepat, tapi cukup untuk membuat jantung Ganira seperti mau meledak.
Sontak saja Ganira mendorong dada Faris dan duduk tegap. "Tapi mesumnya malah nambah parah sih!" sentaknya dengan wajah cemberut.
Faris hanya tertawa. Mulut Ganira yang maju saat cemberut itu justru terlihat makin menggemaskan.
"Hahaha... perasaan kamu tadi nangis, tapi kenapa sekarang kaya bocil gak di beliin ice cream." godanya sambil terkekeh.
"Gak tau deh!" Ganira melengos sebal, lalu berusaha merebahkan diri lagi.
Tapi Faris lebih cepat. Tangannya menahan pinggang Ganira, membuat gadis itu terhenti di tengah gerakannya. Jarak mereka kembali dekat, dan mata mereka saling menangkap bayangan satu sama lain.
"Jadi gimana, Mama udah setuju sama kamu sekarang. Kamu mau nggak hidup selamanya sama aku?" tanya Faris, suaranya pelan tapi serius.
Ganira mengerjap,"Ini ceritanya kamu mau ngelamar aku, Ris?"
Faris langsung menggeleng cepat, agak panik. "Enggak... eh, maksudnya nanti. Kan mau nanya dulu aja."
"Tumben banget nanya dulu." Mata Ganira menyipit curiga.
KAMU SEDANG MEMBACA
Thanks Expression
Teen FictionKejadian di taman kota setahun yang lalu ternyata mengubah kehidupan Ganira. Apalagi semenjak kedatangan laki-laki asing yang mengatakan ingin membiayai hidupnyaa dengan berlandaskan ungkapan terimakasih. Yang mengharuskannya untuk tinggal bersama d...
