"FARIS!!" Ganira tak kuasa berteriak. Sebab kalau tidak, ia sepertinya ikut terjerumus.
Dengan nafas memburu, Faris sedikit menjauh. Ia menggunakan kembali kaos yang sempat ia lempar di lantai dan menatap bersalah Ganira yang tampak kacau.
Kemeja pink yang Ganira kenakan untuk kuliah tadi sudah tak berbentuk. Kancingnya menghilang entah kemana, dan tubuh bagian atas Ganira benar-benar polos sekarang.
Gadis itu menutupi dadanya dengan selimut. Ia menunduk dan meringis karena kulitnya penuh bercak keunguan ulah mulut Faris.
Napasnya masih belum teratur. Bahkan sekarang pun, ia masih bisa merasakan jejak hangat tangan Faris yang sempat menyusup lebih jauh di bawah… membuat tubuhnya merinding meski semuanya sudah berhenti.
Lantas menatap tajam lelaki di depannya, "Kamu nih! Kan aku bilang jangan sampe buka baju aku. Pokoknya jangan kelewatan! Kenapa kamu jadi gak bisa nahan nafsu kamu sih!?" Omel Ganira dengan dengusan sebal.
Bibir Faris maju, seperti anak kecil.
"Maafin aku, " Katanya pelan, terlihat sekali penuh penyesalan. "Tapi gimana dong. Kamu sexy banget. Aku gak kuat." Jawabannya dengan tatapan polos berhasil membuat Ganira tersedak ludahnya sendiri.
Faris tiba-tiba mendekat, lalu menyentuh bahu telanjang Ganira.
"Kalo gitu, kenapa gak sekarang aja kita nikahnya?"
"Biar aku gak perlu nahan diri lagi?" Kata Faris sambil menaikan kedua alisnya, seolah memberi
Penawaran.
"Kalau kamu belum mau punya anak sekarang... ya udah. Aku bisa pakai kon*om. Atau kalau kamu lebih nyaman, aku yang pakai KB."
Ganira membelak, hampir tak menyangka Faris akan berkata seperti itu.
Tapi akhirnya, ia hanya tersenyum. Ia tahu, Faris sedang berusaha keras menahan diri. Dan belakangan, saat mereka berduaan, lelaki itu makin sering kesulitan mengendalikan hasratnya. Ciuman mereka tak lagi sesederhana dulu. Faris mulai mendesaknya untuk lebih.
Dan hari ini adalah puncaknya. Untungnya Ganira masih bisa mencoba waras.
Dengan satu tangan masih menahan selimut, satu tangan lainnya mengelus lembut rambut gelap Faris.
"Yaudah... boleh," bisiknya, pelan. "Tapi aku belum siap punya anak, Faris. Aku masih kuliah. Aku takut gak bisa bagi waktu soal sekolah sama kehamilanku."
Ia menatap mata lelaki itu, tulus dan jujur. "Kamu gak apa-apa kan?"
Faris mengangguk cepat, lalu mengecup kening Ganira penuh sayang. "Makasih, Sayang."
Namun sepertinya, omongan semua laki-laki memang sama saja. Manis di awal, tapi tak selalu bisa dipegang.
Tiga tahun setelah pernikahan mereka, Ganira hamil.
Bukan karena direncanakan, tapi karena kelalaian Faris malam itu
Yang lupa menggunakan pengaman seperti janjinya dulu. Ganira juga tak mengizinkan Faris KB karena mereka masih sama-sama muda.
Tapi hidup, seperti biasa, punya caranya sendiri dalam memberi kejutan.
Hari itu, di ruang pemeriksaan, layar USG memantulkan gambar hitam putih samar.
Dokter tersenyum kecil sambil mengarahkan alat ke perut Ganira yang mulai membesar.
"Wah, selamat ya, Bu Ganira dan Pak Faris. Sepertinya kembar, dan dua-duanya laki-laki."
Ganira menoleh pada Faris dengan wajah campur aduk antara syok, ingin marah, tapi juga tak kuasa menahan senyum.
Dan kini, bahkan saat momen sepenting foto wisudanya pun, ia tak lagi sendirian.
Di balik toga dan senyumnya, ada dua versi mini dari Faris yang ikut menemaninya. Secara harfiah, di dalam perut.
Dan tentu saja… Faris sendiri, yang tetap setia di sisinya. Meski kadang menyebalkan, ia tetap suami tersayang yang selalu bisa diandalkan dengan caranya sendiri.
"Kira-kira anak kembar kita mau kamu kasih nama apa?" tanya Ganira, sembari menggenggam jemarinya lembut.
"Hmm," Faris pura-pura berpikir serius.
"Kalau dua-duanya cowok… gimana kalau satu aku yang kasih nama, satu kamu?"
Ganira langsung mengangguk semangat. "Oke. Tapi jangan kasih nama aneh-aneh ya."
Faris tertawa, menarik kepala Ganira agar bersandar di bahunya. "Hmm," Lalu tersenyum, membelai lembut bagian perut istrinya yang mulai membulat.
"Aku pengen nama yang punya arti. Nama yang bisa jadi doa… supaya mereka tumbuh jadi laki-laki yang baik, kuat, dan penuh kasih."
Ganira mengangguk pelan. "Aku juga. Nama yang bisa mereka banggakan. Yang setiap kali mereka dengar, mereka tahu… mereka dicintai bahkan sejak belum lahir."
"Kita belum sempurna, Ris. Tapi aku harap... cinta kita cukup buat jadi awal yang baik buat mereka."
Ganira mendongak dan Faris menatapnya. Di tengah keramaian wisuda, di antara bunga, dan sorak sorai, mereka saling berbagi perasaan lewat tatapan hening, tapi dalam.
Dan saat kamera mengambil gambar, Ganira tersenyum. Bukan hanya untuk merayakan kelulusannya… tapi untuk merayakan hidup baru yang akan kembali dimulai.
Dengan perut yang menggendong dua jiwa kecil, dan tangan Faris yang menggenggam erat, Ganira tahu, perjalanannya belum selesai.
Tapi untuk cerita ini, cukup sampai di sini.
TAMAT
KAMU SEDANG MEMBACA
Thanks Expression
Teen FictionKejadian di taman kota setahun yang lalu ternyata mengubah kehidupan Ganira. Apalagi semenjak kedatangan laki-laki asing yang mengatakan ingin membiayai hidupnyaa dengan berlandaskan ungkapan terimakasih. Yang mengharuskannya untuk tinggal bersama d...
