Maaf ya hiatus for a whole year. Tapi ini seluruh sisa chapter sampe ending udah ditulis, kok. :) Di-update tiap 1 chapternya jarak 1x24 jam ya.
Sebelum baca, ngulang lagi note di chapter lama; ini outline yang mungkin sekitar 2 tahun lalu ditentuin. Ternyata nggak muncul hasrat untuk diubah juga saat nulis ini. Gimana pun ... Just let it flow okay ... sampe ending ...
Video di media boleh diputer sekarang, atau nanti di tengah chapter kalo ... udah saatnya. Biar lebih nge-feel aja sih :D
Miss you guys. Stay healthy. Enjoy!
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Happiness can be found even in the darkest of times, if only you remember to turn on the light.
"Umm, Doc?"
"Ya?"
Therapist itu menunduk, berhenti mengusap-usap helaian blonde wanita yang meniduri pahanya.
"I think I don't wanna be called that name ever again ... is that make sense?" Ucapan Rosé menyeret, mengikuti pandangan kosong gadis itu.
"Which name, Chaeyoung?"
"That." Rosé menunjuk ke atas, terapisnya, tanpa mengalihkan tatapan dari meja kerja sang terapis, di hadapan sofa mereka bercengkrama ini.
"Sure. Aku tidak akan memanggilmu Chaeyoung lagi."
"You just did."
Terapis itu tertawa kecil. Jarinya kembali membelai rambut Rosé karena gadis itu memintanya lagi. "I'm sorry, my bad. Rosé. Is that okay?" Lembut sekali cara bicaranya; itulah kenapa mereka bisa berakhir cocok menjalani sesi demi sesi terapi.
Rosé mengangguk duakali. "Yes," lirihnya. Kemudian mereka tenggelam dalam hening beberapa saat, sang terapis---Dokter Lee---tengah membaca jurnal Rosé yang ditulis gadis blonde itu atas arahannya, mempelajari.
"Boleh aku tau kenapa?" tanya dokter Lee sembari membaca, sesekali terkekeh lihat apa yang Rosé tulis dalam jurnal.
"Kenapa apa?"
"Kenapa kau tidak mau dipanggil nama itu."
"Oh." Belaian di rambutnya sedikit buat Rosé mengantuk. Namun kini termenung dengan pertanyaan dokter Lee. "She calls me that all the time."
Bola mata dokter Lee berhenti bergerak. "Apa yang kau rasakan jika dipanggil dengan nama itu sekarang?"
Ada jeda yang cukup lama.
"...sakit."
"Rosé merasa sakit?" Rosé mengangguk. Kini Dokter Lee mulai membagi fokus antara jurnal Rosé dan menulis catatan di bukunya sendiri.