Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Seoul, South Korea.
2031.
Mobil taksi online berhenti mulus di depan sebuah bangunan tiga lantai. Logo klinik itu masih sama. Di sekitarnya, Seoul tampak nyaris tak dikenali—trotoar dipenuhi robot kurir kecil beroda, layar iklan AR transparan bertebaran di gedung-gedung tinggi, dan suara pengumuman kota kini telah semuanya digantikan asisten AI kota yang terdengar seperti manusia asli. Teknologi Artificial Intelligence memang merambah sangat cepat.
Seorang gadis keluar dari pintu taksi yang bergeser dengan suara lembut. Kembali menghirup udara Seoul. Melangkah keluar, sneakers-nya menyentuh trotoar yang kini dilengkapi dengan jalur sensor pintar; menyala lembut mengikuti langkah kakinya. Kacamata AR yang ia kenakan juga berkedip, menampilkan notifikasi: "Welcome to Seoul. Estimated privacy mode: active."
Rambut medium wolfcut berwarna biru terang metallic-nya berkilau samar di bawah lampu jalan. Jaket oversized hitam membungkus figurnya, masker menutupi sebagian wajahnya—ia menyela rambut ke belakang, mengurangi poni yang hinggap terlalu banyak pada kacamata hitamnya. Kacamata yang ia tarik dengan satu tangan; ia mendongak, menatap bangunan yang terasa cukup familiar.
"Long time no see," gumamnya, tersenyum dengan mata berlapis memori.
Pintu kaca terbuka otomatis saat gadis itu melangkah memasuki lobby sambil memakai kacamatanya lagi. Menghampiri staff muda di meja resepsionis.
"Appointment with doctor Lee," ucapnya, staff itu langsung mengecek jadwal di tabletnya. "Atas nama Seanne." Staff melirik ke atas sesaat dengan itu, ternyata bisa bahasa Korea, tadinya dia kira warga asing.
"Silakan naik ke lantai dua."
"Alright." Gadis bernama Seanne itu berjalan menuju tangga, tidak memilih lift. Sambil mengecek notifikasi ponsel, membalas pesan. Hingga ia melewati koridor, di ujung sana, ruangan dokter Lee harusnya berada di sana.
Ia sedang berjalan, saat ada sesosok bocah menabrak kaki orang di depan Seanne—limbung ke arahnya, Seanne sigap menangkap tubuh mungil itu. Berlutut di hadapannya. "Hey," ucapnya memegang lengan-lengan mungil yang tak berhenti mendongak ke atas menggerakkan controller sensor di tangannya. "Be careful, kid." Seanne ikut menoleh; ada apa sih, di atas? Oh. Seanne tertawa menatapnya lagi. "Mau aku ambilkan?" Barulah saat itu sang bocah menatap antusias pada Seanne, mengangguk penuh harap. "Sini, naik ke pundakku." Bocah itu nurut, dibantu oleh Seanne duduk di atas jaket kulitnya. Menggendong ke arah pesawat mainan menyangkut di atas AC; sang bocah tertawa kegirangan. Apalagi begitu mereka sampai;
"Di-dingin, hihi.."
"Yeah? Enak ya, di situ? Bisa melihat pesawatmu?"
Walau Seanne tak melihat, bocah itu mengangguk—berusaha menggapai-gapai. "Kakak ... maju sedikit. Ke kanan," perintah sang bocah.