Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Jeju,
2026.
Cahaya jingga membiaskan wujud indah wanita blonde yang mengangkat tubuhnya sambil berjalan entah ke mana, Jisoo tersenyum. Walaupun semuanya bagaikan blur, remang-remang, like a dream, like a fever dream—semuanya berjalan seperti sebuah slowmotion bagi Jisoo. Bagaimana lembutnya tubuh Jisoo dibaringkan di atas kasur. Bagaimana kenyamanan akan kehadiran Rosé dalam pelukannya, belaian-belaian kecil menemani tidurnya. Even in her sleep; kata-kata cinta yang sepanjang malam dilantunkan oleh Rosé entah bagaimana merasuki alam bawah sadarnya, sehingga Jisoo mendengar.
Sehingga saat Jisoo bangun sekarang ini karena dering ponselnya, seolah baru saja ia dengar kata-kata cinta itu diucapkan beberapa menit lalu. Melempar tangannya ke samping; guling. Mengapa guling? Di mana tubuh yang baru saja mengucapkan kata-kata cintanya?
Jisoo bangkit duduk dengan cepat, tubuhnya berbalut bathrobe tanpa ia tau kapan memakainya. "Chaeyoung?" Di kasur benar-benar tidak ada, Jisoo mengulang lagi panggilannya ke arah kamar mandi—lalu bangkit berjalan, membuka pintu; tidak ada kehidupan.
Rosé ... Rosé pergi begitu saja tanpa bilang padanya?
Jisoo merasa hampa. Seperti jiwanya benar-benar hampa, kosong-melompong hanya ada angin kering meniup butiran debu di dalamnya.
Namun kamar hotel ini begitu rapi, begitu bersih. Semua barang-barang kembali seperti semula. Tunggu. Apa semua yang terjadi ... hanya mimpinya? Rosé tidak pernah berada di sini? Tapi itu semua terlalu nyata untuk sekadar mimpi. Tidak mungkin. Tidak mungkin. Rosé hadir di sini, Rosé hadir menemaninya, dosa manis yang dilakukan keduanya...
Ponsel yang tidak Jisoo pedulikan itu terus-terusan berdering dengan annoying. Jisoo berjalan dengan tatapan kosong mencari sumber suara.
Hae In. Terima? Click.
"Jisoo, aku ada di depan pintu kamar, kau di dalam?"
Oh.
Oh.
Rasanya—Jisoo bagai ditarik paksa dari mimpi indah yang tanpa sengaja dialaminya; ke dalam kenyataan yang menghantam pikiran kosongnya.
"Nde. Tunggu sebentar." Ponselnya turun dengan lemah, Jisoo mengusap air mata yang dirasakan mengalir dari tatapan kosongnya yang begitu panas.
Jisoo tidak membaca pesan Haein yang berkata akan menginap bersama sahabat-sahabat prianya itu. Heck, Jisoo juga tak tau berapa lama ia tertidur hingga di luar jendela sana sudah terang-benderang. And yes, Jisoo bahkan tak tau kapan wanita blonde itu meninggalkannya begitu saja, tanpa pamit, sendirian setelah semua yang terjadi ... Jisoo yakin itu bukan hanya mimpi belaka.