Bonus chapter 1: pasti bakal kerasa alurnya cepet, cuma kayak inti-intinya aja bagian penyembuhan, soalnya author juga ga terlalu ngerti deket sama gangguan jiwa hehe, dan lagi bakal panjang banget kalo ditulis detail. Dan ide bonus chapter dimulai juga sebenernya dari saat sembuh, tapi sedikit-sedikitnya ada proses dulu lah ya. Semoga suka. (kita gak buru-buru ya kawand) (tapi makin kesana bakal makin kesini kok—eh, makin special pake telor 50 maksudnya. Kita pelan-pelan dari telor puyuh sebiji dulu yak) Ok, gaskan.
(Tim baca langsung atau Tim nabung chapter: terimakasih lagi, lagi, lagi. I can't thank you guys enough. T_T Thanks for reading this, for commenting, supporting, apalagi yg nulis panjang lebar manis bgt, huhu. Love youu)
Happy reading.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Matahari pagi menyelinap masuk ke dalam ruang tamu. Aroma kuah ramyeon yang baru dituangi bumbu memenuhi udara. Seanne menyandarkan pinggang pada kitchen counter sambil mengaduk panci. Ia menoleh—bocah itu masih berlarian di atas VR treadmill-nya, tangan-tangan imut gerakkan alat-alat yang menempel. Celotehan kecilnya juga mengiring pagi indah Seanne memasak ramyeon.
Jari Seanne mengetik di layar ponsel yang ia taruh; pada groupchat teman-temannya di Los Angeles.
Anyone knows how to play Fortnite? With virtual reality?
Seanne menoleh lagi, pada Chaeyoung Junior—lalu pada tempat bermain VR kosong di sebelah sang bocah. Dulu, Hae In lah yang suka bermain bersamanya mengisi ruang kosong itu.
Saat kemarin berkenalan dan berbincang, Chaeyoung mengajak Seanne main game Fortnite favoritnya—tapi Seanne bermain sangat payah. Chaeyoung kecil bilang, "Kakak tidak bisa main, tidak seperti Daddy!" Amarah bocahnya. Disusul dengan kesedihan yang masih membekas betul kehilangan figur seorang ayah.
Makanya Seanne bertekad untuk mempelajari game sialan itu.
"Kau ... di sini." Jisoo berdiri di ujung tangga. Melihat anaknya yang sibuk sendiri dalam dunia virtual, dan Seanne yang memasak di depan kompor—mengernyit.
Pasalnya tadi Rosé imajiner ada di kamarnya, menyambut Jisoo bangun, rambutnya masih blonde panjang.
Sekarang ganti biru lagi, wolfcut jelek itu lagi.
Dengar suara Jisoo—Seanne menoleh. "Hei. Aku lapar." Seanne terkekeh kaku. Senyum kecil melihat wujud bangun tidur mantan kekasihnya lagi.
Jisoo hanya berjalan ke sofa, duduk santai melipat kakinya ke atas. Lamat-lamat memperhatikan Seanne kembali mengaduk-aduk panci. "Halusinasiku ... bisa memasak?" bisiknya pada diri sendiri, mengatur posisi agar perutnya yang cukup besar terasa nyaman.
Tak lama, Seanne berjalan membawa mangkuk ramyeon ke meja di depan Jisoo—sudah ada sarapan untuk Chaeyoung kecil yang disiapkan oleh housekeeper rumah ini sebelumnya. "Sarapanmu ada di kamar, ya? Biar aku ambilkan," kata Seanne. Mata Jisoo mengikuti dia berjalan penuh heran. Sekarang ... mengambilkan sarapan. Jisoo mengangguk-angguk kecil dalam kebingungan.