Let it Be; i would never fall unless it's you

1.9K 90 64
                                        


👀

Happy reading!!!

(Setelah chapter ini next update bukan jarak seminggu lagi sepertinya, but we'll see) 😅

Matahari pagi menembus tirai tipis jendela ruang tengah kediaman Jisoo, menebarkan cahaya keemasan di seluruh ruangan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Matahari pagi menembus tirai tipis jendela ruang tengah kediaman Jisoo, menebarkan cahaya keemasan di seluruh ruangan. Aroma roti panggang dan sup hangat sudah memenuhi rumah; housekeeper mondar-mandir di dapur, menata sarapan di meja makan panjang.

Di sofa besar, Jisoo berbaring miring memeluk bantal panjang, melihat sang anak bermain game di atas VR treadmill dan Rosé yang mondar-mandir membaca buku dengan roti panggang yang sesekali ia gigit. Perut Jisoo yang membesar membuatnya sesak setiap kali menarik napas panjang. Sesekali Jisoo mengelus-elus bagian atas perutnya, mencari posisi yang lebih nyaman.

"Chaeyoung! Rasanya penuh sekali. Seperti ada bola besar di dalam perutku," keluh Jisoo pada akhirnya, manja, menyerah mencari posisi nyaman karena nyatanya; tidak ada.

Dengan itu, dua manusia menoleh ke arah Jisoo bersamaan. Rosé dari bukunya berhenti jalan—dan Chaeyoung kecil, mengintip dari kacamata VR.

Oh, right. Dua Chaeyoung.

"Kenapa, Mommy?"

And right. Dua orang yang memanggilnya Mommy.

Anak Jisoo itu menoleh sengit ke belakang, pada Rosé—yang memeletkan lidah. Dia sengaja, saat Chaeyoung kecil menoleh, Rosé menebak dia akan mengucap kata-kata itu. Tebakannya terlalu tepat, bahkan.

"Tidak papa, sayang. Mommy memanggil Chaeyoung yang itu." Jisoo menunjuk Rosé dengan dagunya. "Yang jelek dan sudah tua."

Rosé cemberut, anak Jisoo tertawa heboh—memeletkan lidah balik padanya, lalu lanjut fokus bermain game.

"Kau bilang apa tadi, Jisoo?" tanya Rosé.

"Penuh sekali rasanya. Seperti ada bola besar di dalam perutku," manja Jisoo lagi, menarik bibir ke bawah. Tapi mengusap lembut perutnya.

"Itu 'kan memang ada bola besar, Jisoo. Bayi kita," pelan Rosé, melepas kacamata dan menutup buku tentang kehamilan. "Dia sepertinya sudah tidak sabar melihat dunia jelek ini."

Jisoo mengembuskan napas panjang. "Aku yang tidak sabar, Chaeyoung! Duduk saja susah, tidur susah, berdiri apalagi ..."

Dengan itu Rosé segera mendekat, meletakkan buku di meja sofa, lalu berjongkok di depan Jisoo yang terus-terusan menatap dia manja, ingin disayang.

Rosé meraih tangan Jisoo pelan, mengelusnya lembut. "Sebentar lagi ... kau kuat, kan?" Membawa tangan itu ke pipi Rosé sendiri, tatapannya teduh, menenangkan. Ia menoleh sekilas ke bocah di belakang, lalu kembali ke Jisoo mendekatkan kepala seolah bisikkan rahasia negara, "Kuat 'kan, sayang?"

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Sep 13, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

𝘓𝘦𝘵 𝘪𝘵 𝘉𝘦 ࿐ ࿔(𝘤𝘩𝘢𝘦𝘴𝘰𝘰)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang