19. BadDay

335 32 6
                                        

Pulang ke rumah Vashua menjadi lebih diam, bukan hanya dia yang begitu, Nirzam pun ikut diam tidak seperti biasanya. Ada banyak pikiran yang berkeliaran di otak nya. Membuatnya pusing hingga tak mampu lagi untuk di bicarakan.

Nirzam bahkan izin pulang setelah memastikan Vashua kembali ke kamar dengan aman, aneh nya lagi Vashua mengizinkan nirzam pulang tanpa ada drama seperti sebelum-sebelumnya.

Anak itu hanya mengangguk mantap saat Nirzam izin pulang. Tidak seperti biasanya yang akan merengek atau marah seharian kalau Nirzam menjauh darinya.

Tapi semuanya masih memaklumi, berfikir kalau mungkin Vashua lelah setelah pulang dari rumah sakit dan harus berkeliling di toko perlengkapan alat tulis makanya anak itu memilih untuk diam.

"Ka, bisa naikan suhu AC nya. Aku kedinginan."

Sen hampir melompat dari tempat nya berdiri saat tangannya baru mencapai saklar lampu.

"Ya Tuhan, aku kira kau sudah tidur." Sen mengusap dadanya. Menghampiri Vashua untuk memeriksa kondisi adiknya.

Niatnya masuk ke kamar hanya untuk mematikan lampu, Sen mengira kalau adik-adik nya sudah tidur mengingat ini sudah lewat tengah malam. Kebiasaan yang sudah di lakukan Sen setahun belakangan ini adalah mengecek satu persatu kamar adik nya saat tengah malam, dia hanya ingin memastikan kalau semuanya baik-baik saja agar tidurnya lebih tenang.

Rupanya tanpa di sangka Vashua masih terjaga, hal yang jarang terjadi kecuali kalau anak itu memang sedang merasakan sakit.

Tempat Vashua tidur itu bersebalahan dengan Jeca yang tertidur nyenyak. Vashua sudah sejak tadi menahan dingin tidak mampu untuk mengambil remote ac yang di letakan di dinding kamar, mau membangunkan Jeca juga Shua tidak tega jadi memilih bertahan dan tidak bisa tidur.

"Suhu tubuh mu naik, tapi kaki kamu dingin begini, makanya kamu kedinginan." Sen mengambil remot Ac dan mengatur suhu nya agar adiknya bisa lebih nyaman, lalu memasangkan kaos kaki agar adiknya lebih nyaman.

"Tunggu sebentar ya, kakak ambilkan dulu termometer." 

Tidak lama Sen kembali, dia menjepit jari Vashua menggunakan alat oximeter, mengeluarkan kembali barang bawaannya lalu menaruh termometer di lipatan ketiak adiknya.

Menunggu sampai termometer bunyi menunjukan hasil yang cukup tinggi. Sen mendesah, baru saja adiknya itu pulang dari rumah sakit sudah kembali terserang demam.

Tangan Sen masih menggenggam termometer, lalu matanya melirik oximeter yang menjepit Jari telunjuk Vashua.

"Kamu sesek gak?"

Vashua memperhatikan wajah lelah kakak nya sebelum menjawab. Lalu kepalanya menggeleng.

"Engga." Jawabnya singkat.

Sen mengangguk singkat, cukup faham kenapa adiknya itu berbohong. Dia berinisiatif mengambil alat-alat yang di pakai Vashua saat kadar oksigen nya menurun.

Vashua menjauhkan kepalanya saat Sen ingin memasangkan selang oksigen ke hidung nya. "Pakai dulu, saturasi oksigen kamu itu rendah." Tetap saja Vashua menolak.

"Engga mau, aku masih bisa bernapas normal Ka. Sesak nya tidak begitu mengganggu."

Masih dengan selang oksigen di tangannya, Sen mendesah sambil menatap Vashua dengan lelah.

"Kenapa?" Ucap nya pelan.

Vashua dengan ragu menjawab. "Sayang kalau cuma sesak segini saja harus pakai oksigen. Nanti boros harus beli lagi dan cepet habis." Vashua berucap sambil memalingkan wajahnya.

Sen mengigit ujung bibirnya ketika menahan kesal, ada desah yang keluar melalui celah bibirnya. Matanya memejam, kepalanya sedikit melongak keatas. Dia tentu sedang menahan amarah agar tidak membuat adiknya ketakutan.

Black Hole Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang