Sudah hari ke tiga sejak operasi besar yang di jalani Vashua dan selama itu juga kondisinya masih sama koma diinduksi, tubuhnya masih dalam perjuangan untuk pulih. Ruang tunggu rumah sakit tetap menjadi titik kumpul bagi keluarga mereka. Udara dingin masih menusuk kulit, tapi kini ada secercah harapan yang tumbuh perlahan, seolah menembus dinding kegelapan yang selama ini menekan mereka. Setiap kali suara bip dari monitor vital Vashua terdengar teratur dari dalam kamar Vashua menjadi irama kehidupan yang semakin meyakinkan mereka bahwa Vashua masih sanggup untuk berjuang di dalam sana di temani alat-alat medis yang masih belum berkurang jumlah nya.
Sen duduk di kursi besi yang sama seperti tiga hari lalu. Sebagai kakak tertua, bahu yang memikul beban ini terasa semakin berat, namun postur tubuhnya kini tidak lagi membungkuk putus asa seperti hari-hari sebelumnya. Dia tidak lagi menyembunyikan wajahnya di balik telapak tangan dan menangis seperti hari pertama, melainkan duduk lebih tegak dan mencatat dengan teliti setiap pembaruan kondisi adiknya yang dituliskan oleh perawat untuk nya, mulai dari volume cairan nutrisi yang diberikan melalui selang nasogastrik, tingkat tekanan darah, hingga respons saraf yang masih terbatas.
Rambut hitamnya yang biasanya tertata rapi kini sedikit berantakan dan berkilau karena keringat dari sisa kelelahannya, lingkaran gelap di bawah matanya menjadi saksi malam-malam panjang yang dia lewati tanpa tidur yang lelap. Baju kemeja yang dikenakannya masih sama dari hari pertama, yang sudah terlihat kusut, tanda bahwa pikirannya tidak pernah beranjak dari sisi Vashua.
“Kak Sen, kamu sudah tiga kali minum kopi hitam hari ini, sudah cukup jangan di minum lagi.” suara Jeima memecah keheningan. Menyadarkan Sen yang masih memegang tangkai gelas yang berisikan kopi hitam sisa semalam.
Jeima menghampiri kakaknya, dia baru saja tiba, membawa wadah makanan hangat yang dia masak sendiri di rumah, meskipun dia tahu Shua belum bisa menikmati makanan apapun selain nutrisi cair melalui selang tapi masih ada Kakaknya yang masih butuh makanannya meskipun makanan buatannya tidak seenak buatan Sen tapi masakan nya masih aman untuk di makan.
Jeima duduk di sebelah Sen dan merebut gelas dalam pegangan kakak tirinya. “Perawat bilang kafein bisa membuat tekanan darah naik, kalau kakak lupa. Kenapa kakak terus begini Kakak adalah tiang kami sekarang, Kak. Kalau kakak jatuh juga, siapa yang akan memimpin kami untuk tetap berdiri tegak? Sudah tiga hari kakak tidak tidur dengan benar, kakak juga tidak pulang untuk sekedar istirahat. Kalau kakak sakit lalu bagaimana kami bisa bertahan.” Jeima mengakhiri kalimatnya dengan isakan samar, sedih sekali rasanya berada di tengah-tengah posisi sulit ini.
Sen menghela napas panjang, suaranya terdengar berat namun tetap tegas. Dia menutup buku catatannya dan menatap adik tirinya. “Maaf ya, Jeim. Aku hanya butuh tetap sadar dan fokus. Setiap angka di monitor, setiap tetesan cairan yang pompa infus, setiap sedikit gerakan jari Shua... itu satu-satunya bahasa yang bisa aku pahami sekarang. Kalau aku lengah sedikit saja, aku merasa seolah aku gagal menjaganya, Jeim.” ucap Sen dengan suara yang bergetar, selama ini dia hanya diam tapi kali ini rasanya Jeima harus tau apa yang di rasakannya.
Kali ini helaan napas terdengar dari Jeima setelah mendengarkan ucapan kakaknya. Dalam diam Jeima memberikan makanan yang telah ia persiapkan untuk Sen.
Sen menerima wadah makanan itu, meski selera makannya masih hilang. Lidahnya masih terasa hambar, tapi dia memaksakan diri untuk memakannya. Sen hanya tidak mau mengecewakan Jeima yang sudah bersusah payah untuk nya.
Di sudut ruangan, Jeca dan Henry yang baru datang berhenti sejenak ketika ada panggilan telepon dari orang kepercayaan kantor nya. Sebelum mengangkat teleponnya Henry menyuruh Jeca pergi lebih dulu menghampiri Sen dan Jeima tapi Anak itu tidak mau.
Henry menjauh sedikit lalu mengangkat teleponnya, Suaranya tenang namun mengandung ketegasan yang jarang terlihat sebelumnya.
“...Ya, semua sudah aku pantau langsung. Dokumen transfer kepemilikan dan aset sudah ditandatangani dan disahkan. Tim hukum memastikan tidak ada celah lagi bagi pihak mana pun untuk mengajukan klaim. Kamu urus saja hal-hal di luar sana, Pak Adam. Aku dan Kak Sen akan menjaga posisi di sini. Besok pagi aku akan ke kantor bersama Nirzam untuk memastikan operasional berjalan lancar.” Ucap Henry mengakhiri percakapan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Black Hole
Fanfictionini cuman kisah tentang Senandia, Yoza,Nirzam,Henry,Jeima, Vashua juga Jeca yang harus berjuang melawan perihnya kehidupan dunia.
