24. Kebenaran yang terkubur.

188 26 2
                                        


  Sinar matahari pagi mulai menyelinap melalui celah tirai kamar, memberikan sentuhan hangat pada wajah Vashua, anak itu tidak terusik meski tadi ada keributan kecil dari Sen dan Nirzam. Pagi sekali Nirzam bangun dan menumpahkan sisa makanan semalam, membuat kamar rawat jadi kacau.

Sen sudah pulang beberapa jam yang lalu untuk istirahat dan menggantikan tugasnya dengan Nirzam, yang kini sedang duduk di sisi kanan ranjang sambil membaca bab pertama novel favorit Vashua yang baru saja diterbitkan. Nirzam duduk dengan posisi sedikit miring, kaki kirinya yang sedikit pincang terlihat jelas ketika dia menggeser kursinya lebih dekat ke ranjang.

Garis wajah Nirzam terlihat tenang dan fokus saat membaca, kadang kala dia berhenti sejenak untuk melihat kondisi Vashua yang masih tertidur lelap. Tangan Nirzam sesekali menyentuh pelukan boneka beruang kecil yang selalu ada di sisi Vashua, sebuah hadiah dari Nirzam saat ulang tahun Vashua. Di bawah celana panjangnya, perban yang masih menutupi bagian tungkai kirinya terlihat membengkak sedikit, karena beberapa hari ini dia terlalu memaksakan diri pada kakinya, namun dia tidak pernah mengeluh tentang rasa sakit yang kadang muncul, bekas luka dari kecelakaannya dengan Vashua dulu.

Tiba-tiba, pintu kamar terbuka perlahan, ada sosok Yoza masuk tanpa suara membawa wadah makanan hangat beserta secangkir kopi untuk Nirzam.

Wajah Yoza terlihat lebih pucat dari biasanya, matanya merah karena tidak tidur sepanjang malam. Setelah kejadian kemarin yang membuatnya sedikit shock, Yoza tidak bisa tenang barang sebentar.

Yoza dapat melihat Nirzam yang salah tingkah ketika berhadapan langsung dengan nya, ketakutan yang di rasakan Nirzam begitu kentara di mata Yoza, membuat Yoza merasa malu dan sedih.
Bingung, harus memulai dari mana obrolan ini, karena satu tahun terakhir hubungan mereka berdua sangat buruk.

Bila harus dijelaskan, mungkin ini pertama kali mereka berdua berada dalam satu ruangan tanpa adanya kekerasan. Biasanya Yoza yang terpancing duluan, begitu sejak kecelakaan dulu, bagi Yoza Nirzam adalah manusia yang harus di hindari dari adik kesayangan nya. Yoza yang selalu menyalahkan Nirzam tanpa pernah mau mendengar pembelaan dari adik tirinya itu.

Nirzam mulai gelisah, dia tau kalau Yoza pasti merasa terganggu dengan kehadiran nya, apalagi kalau sampai tau dirinya sudah ada di rumah sakit menjaga Vashua sejak semalam, mungkin sebentar lagi Yoza akan mengamuk, pikirnya.

Jadi sebelum itu terjadi Nirzam berniat untuk pergi, dia menutup buku novel milik Vashua yang di pinjamnya, lalu mengambil Jaket yang di letakan di kursi tamu untuk lanjut pergi.

"Bagaimana keadaan Shua?" Yoza bertanya tiba-tiba, setelah berdiri di sisi ranjang Vashua. Matanya menatap fokus adiknya yang masih nyenyak.

"Hah!" ucap Nirzam reflek karena terkejut karena Yoza tiba-tiba bertanya kepadanya tanpa nada marah.

Nirzam gelagapan, dia bingung mau menjawab apa. Badannya terasa kaku apalagi saat Yoza perlahan mendekati nya. Mata Nirzam memejam melihat tangan Yoza mengayun ke arahnya. Dia sudah siap menerima pukulan tapi tangan itu mendarat di bahunya.

"Kau kenapa?" tanya Yoza dengan nada bingung.

Nirzam membuka matanya perlahan, melihat sosok Yoza di hadapannya membuatnya gemetar, apa tidak salah pertanyaan nya. "Kamu yang kenapa? Tiba tiba aneh begitu."  gumamnya dalam hati.

"Ekhm, tidak-tidak. Aku tidak apa-apa, ehm, begini ka, kalau kakak terganggu oleh kehadiran ku, aku minta maaf. Em, begini e, aku pulang dulu." Saking gugupnya kalimat Nirzam jadi berantakan. Dia berniat untuk pergi tapi Yoza menahannya, dia menyuruh Nirzam duduk untuk membicarakan beberapa hal penting.

Nirzam berulang kali meremas tangannya. Merasa gugup duduk bersebelahan dengan Yoza. Mereka berdua duduk di kursi tamu yang ada di tengah ruangan rawat Vashua.

Black Hole Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang