16. Peran penting dalam keluarga

462 34 2
                                        

"Ada yang sedang ingin kau Makan?" Vashua yang sedang melamun segera sadar kala suara Nirzam mengalun di telinganya.

Dia melirik kakak tirinya itu ragu. "Memangnya boleh?" Anak itu berbalik tanya, sedikit heran mendengar pertanyaan langka dari kakaknya.

Sebab sejak dirinya sakit tidak banyak yang bisa dia makan dengan bebas, jadi mana bisa seorang Vashua di tanya soal menu makan sesukanya karena selama ini Shua hanya bisa terima saja makanan apa yang di berikan kakaknya untuk nya.

Nirzam menggaruk tengkuknya, salah tingkah karena telah melontarkan pertanyaan bodoh kepada adiknya.

"Sudah bisa di tebak." Ucap Shua kembali pada posisinya berbaring.

Kepalanya sedikit pusing dan lelah setelah menyelesaikan rangkaian pemeriksaan.

Shua terdiam tidak lagi menyimak apa yang sedang di bicarakan oleh Nirzam kepadanya, ingatannya memaksanya kembali mengingat kejadian siang tadi di lorong rumah sakit sebelum Nirzam datang menjemputnya.

Dia cukup yakin kalau siluet orang yang di lihatnya itu adalah Yoza, tapi kalau benar itu kakaknya kenapa tidak menyapa nya bahkan hanya menatap nya dari kejauhan lalu pergi begitu saja sebelum dirinya menyadari apa itu benar Yoza apa bukan.

Apa Yoza begitu marahnya kepadanya perihal perdebatan nya malam itu, banyak sekali pikiran aneh bermunculan sampai kepadanya terasa penuh.

Beruntung Nirzam yang menyadari langsung menegurnya, sukses membuat suara berisik dalam kepalanya hilang seketika.

"Kamu kenapa, apa butuh sesuatu?" Nirzam sampai harus bertanya dua kali sebab Shua seperti kurang respon ketika di tanya.

"Sudah di katakan jangan banyak pikiran, memang sedang mikir apa sih sampai segitunya?" Nirzam mencoba mendekat dengan duduk di sisi ranjang yang di tempati Shua agar lebih mudah anak itu merespon obrolan Nirzam.

"Kaka, apa aku terlalu egois untuk meminta agar keluarga kita bisa kembali utuh seperti dulu. Kita bertujuh juga ibu dan ayah."

Nirzam masih belum mengeluarkan pendapat, karena di rasa Shua belum tuntas dengan ucapannya.

Anak itu terlihat menarik napas panjang sebelum melanjutkan ucapannya.

"Tapi, kalau di pikir-pikir lagi sepertinya aku terlalu egois kalau menurut itu semua di saat kabar antara Ibu dan Ayah saja belum juga ada. Belum lagi aku yang jadi cacat seperti ini dan keluarga kita yang jatuh miskin karena hartanya abis untuk mempertahankan aku yang tidak berguna ini." Tangan Nirzam segera menghapus air mata di pipi Shua.

Nirzam hanya tidak tau harus merespon seperti apa kalau nyatanya keinginan terbesar Shua untuk kembali seperti dulu hampir sama dengan keinginannya.

Serta dirinya yang merasa bersalah atas kenyataan penyebab Shua menjadi cacat seperti itu adalah ulahnya.

"Maafkan kakak.." Dari sekian banyak kata dalam pikirannya hanya kata itu yang bisa Nirzam ucapkan.

Pertahannya hancur sudah, Nirzam bahkan ikut terisak bahkan sampai menangis tersedu. Setelah setahun terakhir baru kali ini mereka sempat untuk mencurahkan kesakitan mereka yang selama ini di pendamnya.

"Maafkan Kakak Shua, kakak sungguh minta maaf." Shua yang memang sedang dalam situasi yang kurang bagus ikut menangis.

Mereka berdua bahkan menangis begitu kencang sambil berpelukan bersama. Tanpa mereka sadari Sen yang semula Ingi masuk ke dalam ruangan mengurungkan niatnya.

Sen dapat dengan jelas mendengar keluh kesah kedua adiknya yang di rasa paling menderita di antara mereka lainnya.

Sen masih berdiri membelakangi pintu, ikut menangis sehingga butuh mengabiskan beberapa menit untuk menenangkan suasana hatinya agar bisa menghadapi kedua adiknya dengan suasana yang lebih baik.

Black Hole Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang