Ruang tunggu rumah sakit terasa lebih mencekam dari biasanya, meskipun sudah penuh dengan sosok-sosok yang datang menyusul berita tentang keadaan Vashua. Udara dingin dari AC menusuk kulit, namun tidak ada yang merasa ingin mencari tempat hangat. Setiap orang yang ada di sana membawa beban yang sama beratnya, kekhawatiran yang mendalam tentang anak yang sedang berjuang di atas meja Operasi.
Sen duduk di sudut paling dalam, tubuhnya membungkuk dengan wajah tertutup oleh kedua tangan. Rambutnya yang biasanya rapi kini berantakan akibat sering digosok-gosok dengan tergesa-gesa. Dia masih mengenakan baju tidur katun biru muda yang sedikit kusut dan sandal jepit yang salah satu tali sudah mulai mengendur. Tidak ada satu pun pikiran yang bisa dia kumpulkan selain keadaan Vashua di dalam sana.
Tadi Nirzam cerita Vashua kejang dan kembali muntah darah sebelum benar-benar tumbang dan tim medis membawanya ke ruang operasi karena kondisi nya darurat tidak bisa menunggu lagi untuk operasi. Sen tidak habis pikir baru saja pagi tadi dia merasa lega sebelum pulang ke rumah dia sempat menanyakan kondisi terkini Vashua, perawat bilang Kondisi Vashua cukup stabil untuk menjalani Operasi pengangkatan polip yang akan di lakukan beberapa hari kemudian. Tapi siang hari nya malah mendapat berita tentang Vashua seperti tersambar petir di siang bolong.
“Kak Sen…”
Suara lembut Jeima membuat Sen mengangkat kepala dari renungannya. Anak itu terpaksa Kabur dari sekolah bersama dengan adiknya saat mendengar kabar tentang Vashua. Matanya merah dan bengkak akibat menangis terus-menerus sejak tiba di rumah sakit. Di sebelahnya, Jeca berdiri dengan wajah yang tegang dan penuh kemarahan, kemarahan yang tidak tahu harus diarahkan kepada siapa.
“Kita sudah tanya perawat,” ujar Jeima dengan suara yang masih bergetar.
“Mereka bilang operasi masih berlangsung. Mungkin masih lama, karena ini Operasi darurat jadi kemungkinan buruk bisa saja terjadi. Dokter juga belum bisa memberikan kabar apapun.” Ucap Jeima kemudian menghapus air matanya yang terus menetes, kali ini Jeima lebih terbuka dengan perasaannya. Tentang ketakutan kehilangan adik seperti Vashua yang baru ingin dia dekati.
Sen mengangguk perlahan, tidak bisa mengeluarkan kata apa pun. Dia merasa sangat bersalah. Ketakutannya juga sama bertanya dengan yang lain, mengingat ucapan dokter kemarin tentang Operasi yang kemungkinan berhasil nya besar tapi yang buat takut adalah ini Operasi yang di luar prediksi, kondisi Vansua yang menghawatirkan membuat Sen pesimis dengan hasil nya.
Henry masuk ke ruang tunggu dengan dua gelas kopi hangat di tangannya. Dia sempat pergi ke kantin untuk memberikan asupan kepada keluarganya, setidaknya agar mereka sedikit bisa berpikir jernih di situasi yang kacau ini. Henry memberikan salah satu gelas kopi kepada Sen, lalu duduk di kursi sebelahnya. Kakaknya yang biasanya selalu tersenyum dan penuh semangat itu kini tampak pucat dan lelah. Mata bawah matanya tampak kemerahan akibat kurang tidur, dan wajahnya menunjukkan betapa dalamnya kesedihan yang dia rasakan. Henry jadi khawatir, semenjak seminggu ini kondisi Vashua terus menurun dan berbagai fakta yang baru terungkap kakaknya itu belum bisa bernapas lega. Dia jadi takut kalau Sen akan ikut tumbang menyusul Yoza yang sudah lebih dulu.
“Anak buah Kak Yoza itu, yang menyebabkan kecelakaan, apa kita harus melaporkan nya sekarang?” ujar Henry, ada keraguan dalam pertanyaannya.
"Kakak tau kan, kalau kita membuat laporan tentang itu, mungkin Kak Yoza juga harus di periksa. Dia yang secara tidak langsung memberikan perintah itu, meskipun pada akhirnya karena salah sasaran tapi, perintah utamanya tetap salah ka. Itu masuk ke percobaan pembunuhan." Sen menarik napasnya dalam-dalam.
Itu juga yang sejak tadi dia pikirkan, di satu sisi Sen ingin menghukum pelaku yang sudah membuat adik dan keluarga nya hancur, tapi di satu sisi juga dia tidak sanggup kalau harus menyeret Yoza kedalam penjara. Bagai buah simalakama, Sen tidak tau harus memilih yang mana.
KAMU SEDANG MEMBACA
Black Hole
Fanfictionini cuman kisah tentang Senandia, Yoza,Nirzam,Henry,Jeima, Vashua juga Jeca yang harus berjuang melawan perihnya kehidupan dunia.
