20

240 27 19
                                        

Suasana kamar kembali larut dalam keheningan setelah Henry terdiam memahami kata-kata Sen. Hanya terdengar napas Vashua yang perlahan dan mesin oksigen yang mengeluarkan bunyi stabil berirama. Sen masih mengusap punggung Henry pelan, mencoba menenangkan adiknya yang tampak masih terbebani oleh segala beban yang menimpa keluarga mereka.

Tiba-tiba, jari Vashua yang terletak di sisi luar ranjang sedikit bergerak. Matanya yang sebelumnya tertutup rapat perlahan mulai terbuka, tapi dia sengaja tidak membuat suara. Hatinya terasa sesak bukan karena masalah pernapasannya lagi, melainkan karena setiap kata dari Henry yang terdengar jelas di telinganya.

"Rumah akan dijual... karena aku..." pikir Vashua perlahan, matanya mulai berkaca-kaca tapi dia berusaha menahan agar air matanya tidak menetes. Dia menyadari betul bahwa dirinya adalah sumber masalah bagi semua orang di sekelilingnya setelah kecelakaan itu terjadi.

Vashua menggerakkan jarinya lagi, mencoba untuk mengeluarkan suara tapi hanya berhasil mengeluarkan bisikan lemah. "Ka..."

Sen dan Henry terkejut lalu berbalik melihat Vashua yang sudah terjaga. Matanya yang merah karena menahan air mata membuat hati keduanya terasa seperti ditusuk duri.

"Apakah Shua mendengar semuanya?" pertanyaan itu ada di dalam benak kedua kakak beradik itu.

"Shua, kamu sudah sudah bangun? Bagaimana perasaan mu apakah masih sesak?" Sen segera mendekat, mengecek Oxymeter yang masih terpasang dan mengambil handuk untuk mengelap keringat di dahi adiknya.

Vashua hanya bisa menggeleng perlahan. Gerakan itu saja sudah membuat tubuhnya terasa lelah dan sedikit nyeri. Dia melihat Henry yang berdiri di sisi lain ranjang, wajahnya sedihnya masih terlihat tidak bisa di samarkan.

"Kak Ry." panggil Vashua dengan suara yang masih lemah, "Jangan bicara tentang menjual rumah ya. Aku tidak mau..."

Henry mendekat, meraih tangan Vashua yang lembut. "Tapi Shua, ini untuk kebaikan kita semua. Kamu butuh banyak biaya untuk pengobatan, kasian kak Sen sudah terlalu berat menanggungnya sendirian."

"Jangan karena aku, peninggalan Ayah dan Ibu di korbankan." ucap Vashua, air mata akhirnya tidak bisa lagi ditahan menetes lewat pipinya, "Kalau rumah dijual, kita tidak punya tempat tinggal yang nyaman lagi. Dan aku... aku sudah cukup menyusahkan kalian semua, sudah cukup banyak yang kalian korbankan untuk aku semenjak aku cacat."

Sen mengelus kepala Vashua dengan lembut. "Jangan berkata seperti itu, Shua. Kamu tidak menyusahkan siapa-siapa. Kita adalah keluarga, dan keluarga harus saling membantu satu sama lain."

"Tapi karena kecelakaan itu, kalian jadi harus menjual aset-aset milik Ayah belum lagi menanggung Hutang Ayah yang banyak dan beberapa cabang bisnis Ayah yang bangkrut. Aku tau, kalian semua mengambil kerja tambahan hanya untuk kita bisa makan. Belum lagi Kak Yoza selalu menjadikan Kak Nirzam musuh." ucap Vashua sambil menahan isak.

Sen dan Henry saling melihat. Mereka tahu bahwa Vashua selalu merasa bersalah karena hubungan antara Yoza dan Nirzam yang semakin memburuk sejak kecelakaan itu. Yoza seakan mendirikan benteng yang tinggi untuk Nirzam lewati.

"Kamu tidak perlu khawatirkan tentang itu, Shua." ucap Henry pelan, "Sudah jadi kewajiban Kami sebagai yang tertua untuk mengurus keuangan keluarga selagi Ayah dan Ibu tidak ada. Untuk pekerjaan tambahan itu juga di lakukan untuk mengisi waktu luang, jangan bebankan pikiran mu untuk hal yang seperti itu. Kita akan menemukan cara untuk menyelesaikan semua masalah ini tanpa harus menjual rumah atau membuat hubungan antar saudara jadi rusak."

Vashua mengangguk perlahan, tapi dia tahu bahwa kata-kata itu hanya untuk menghiburnya. Dia merasakan bagaimana tubuhnya semakin lemah setiap hari—selain masalah pernapasan dan lambung, kadang dia merasa nyeri yang tak tertahankan di tulang belakangnya. Kadang dia berpikir, mungkin lebih baik jika dia tidak ada lagi agar beban keluarga bisa berkurang.

Black Hole Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang