Setelah ketegangan yang terjadi karena kedatangan Yoza. Anak itu mendadak diam, di saat Sen menanyakan kebenarannya yang terjadi.
Yoza tiba-tiba mengerutkan kening dan mengangkat tangannya untuk menutup bibirnya. Matanya bergerak cepat ke arah pintu kamar, seolah merasakan bahwa ada sesuatu yang salah jika dia membongkar rahasianya saat ini.
"Aku... Sepertinya belum saatnya aku bicarakan masalah ini, Ka Sen." ucap Yoza dengan terengah-engah.
Sen dan Henry saling pandang, mereka menatap Yoza dengan penuh curiga. Aneh, tidak pernah mereka melihat Yoza yang ketakutan sampai begini. Mereka ingin bertanya lebih tapi situasinya sedang tidak memungkinkan.
Mereka sedang berada di dalam kamar Vashua, kalau situasi memanas dan Vashua terbangun mungkin akan timbul lagi masalah yang lebih besar.
"Ka, sepertinya aku harus pergi lagi, ada sesuatu yang harus aku selesaikan segera." ucap Yoza.
"Tapi kan, kakak baru saja sampai rumah. Hal penting apa yang sedang kakak sembunyikan dari kami?" Henry bertanya sebab dia tidak tahan untuk tau lebih jauh masalah yang sedang di hadapi kakaknya itu.
Yoza menatap gelisah ponsel yang ada dalam genggaman nya. "Aku akan segera kembali." ucap Yoza tanpa mau menjelaskan apapun.
Tanpa menunggu tanggapan, Yoza langsung berbalik dan keluar dari kamar dengan langkah cepat. Sen dan Henry saling melihat bingung, tapi sebelum mereka bisa mengikuti, suara mesin motor yang menyala dengan keras terdengar dari halaman rumah, lalu cepat menghilang menjauh.
"Kamu tunggu Shua, kakak Ke depan dulu. Sudah hampir jam empat sore kenapa Jeca dan Jeima belum pulang juga." Henry mengangguk, melihat kakak nya yang tenggelam di balik pintu.
Henry menghembuskan napasnya kasar, masalah keluarga yang tak kunjung mereda membuat nya lelah, Henry memilih berbaring di samping Vashua yang masih terlelap, membuka aplikasi di ponselnya dan melanjutkan drama cina yang belum dia selesaikan tadi malam.
🫶
Sen duduk termenung di depan teras, menunggu kedua adiknya yang lain. Jeca dan Jeima tadi ijinnya pergi keluar sebentar tapi sampai sore belum juga kembali.
Sen kembali memikirkan Yoza, berpikir kembali tentang hal apa yang sedang di hadapi adiknya itu, selama ini sosok yang sulit di sentuh di keluarga nya itu hanya Yoza. Banyak sekali tentang Yoza yang tidak Sen tau, kebiasaan Yoza yang selalu memendam semuanya sendiri membuat Sen merasa tidak begitu berguna menjadi sosok kakak untuk Yoza selama ini.
"Wajahnya pucat, ada luka di pipi sebelah kiri, memar seperti baru saja di pukul orang? Keringat dingin muncul di pelipisnya matanya juga gelisah belum lagi napas nya cepat sekali." Sen menganalisa kembali keadaan adik pertamanya itu, ciri-ciri yang belum pernah Sen temui pada Yoza seumur hidupnya.
Maksudnya, Sen belum pernah melihat Yoza ketakutan seperti tadi.
Sen memandang jauh, kaki nya tidak berhenti digerakkan saat duduk tangan kirinya sejak tadi menempel di dagunya sesekali mencubit pelan dan menggosok-nggosok ujung dagunya.
Sen terlalu larut dalam pemikirannya sehingga saat Jeca dan Jeima lewat di hadapannya saja dia tidak menyadari.
Kedua kakak adik itu menatap heran, Jarang-jarang melihat Sen serius begitu. Jeca menyikut perut Jeima untuk bertanya lebih dulu kepada kakaknya.
"Kak Sen, ada apa?" Jeima bertanya, berdiri tegak di hadapan Sen.
Sen mundur ketika sadar ada Jeima dan Jeca di hadapannya. Menyentuh dadanya karena terkejut, dia tidak menyadari kehadiran kedua adiknya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Black Hole
Fanficini cuman kisah tentang Senandia, Yoza,Nirzam,Henry,Jeima, Vashua juga Jeca yang harus berjuang melawan perihnya kehidupan dunia.
