Sinar matahari yang semakin terik mulai menerobos celah tirai kamar perawatan intensif, menyinari setiap sudut ruangan yang dulunya terasa dingin dan penuh ketakutan. Vashua masih terbaring tenanb di ranjangnya, masker oksigen masih menutupi sebagian wajahnya, tapi mata nya sudah bisa melihat dengan lebih jelas ke sekelilingnya. Sen duduk di sisi kanan ranjang, sedang membersihkan meja sisi ranjang dari alat-alat medis yang tidak lagi diperlukan sementara Jeca sedang berbicara dengan perawat di pojok kamar tentang jadwal kunjungan dan pola makan yang diperbolehkan untuk Vashua. Mengingat Vashua masih harus menggunakan selang NGT.
"Kak Shua, Coba lihat apa yang aku bawa!" ucap Jeca dengan suara pelan setelah menyelesaikan pembicaraannya dengan perawat.
Anak itu membawa buku Novel dari penulis favorit kakaknya, yang baru saja menerbitkan karyanya. Ini adalah karya yang sudah lama Vashua tunggu, ternyata Jeca mendapatkannya lengkap dengan tanda tangan dari sang penulis, dan beberapa pesan penyemangat yang ditulis si penulis khusus untuk Vashua.
Vashua tersenyum lebar, tau saja Jeca apa yang bisa membuatnya bahagia, di tengah kemelut hatinya.
"Terimakasih.." ucap Vashua pelan sambil mengusap tangan Jeca yang memegang Novel tersebut.
Jeima yang baru saja masuk ke kamar dengan membawa wadah makanan yang dibungkus rapi segera menyambung bicara. "Wah, kau harus tau Shua perjuangan adik kita ini untuk dapat tanda tangan dari si penulis ini tidaklah mudah." Katanya sambil meletakkan wadah di atas meja. Jeima jadi lebih terang-rangan menunjukan perhatiannya dengan mengajak bicara Vashua tanpa Gengsi lagi, beberapa minggu ini hubungan keduanya cukup baik.
Jeima yang bertekad ingin lebih dekat lagi drngan Vashua, berharap mereka menjadi adik kakak yang saling menyayangi mengingat jarak umur mereka yang hanya beda beberapa bulan saja pasti akan mudah cocok.
"Apaan si kak Jeim, itukan rahasia kita. Kenapa malah bilang-bilang?" ucap Jeka menyikut pelan perut kakak nya.
Jeima tertawa melihat Jeca yang kuping nya merah karena salah tingkah. Vashua lalu buka suara dengan pelan. Cukup kesulitan karena masker oksigen yang menghalangi mulut dan hidung nya selalu beruap kalah Dia bicara. "Maaf, sudah merepotkan. Tapi, Terimakasih banyak, aku suka." Vashua tersenyum, senyum yang sudah lama sekali tidak terlihat di wajahnya itu, kini terlihat begitu tulis.
Vashua senang, bukan hanya karena mendapatkan Novel yang sudah lama dia incar, tapi terharu mendengar ucapan Jeima yang menceritakan perjuangan Jeca yang tidak mudah sampai mendapatkan semua itu. Anak itu bahkan rela menahan tidak jajan di sekolah agar uang tabungan nya cukup untuk membeli Novel belum lagi dia rela antri berjam-jam untuk mendapatkan tanda tangan si penulis.
"Sampai lupa, ini Aku bawa bubur ayam yang aku buat sendiri lho, sudah diperiksa sama perawat dan dokter bilang boleh kok kamu makan sedikit. Karena tekstur nya juga udah oke gak akan ngehambat selang makan kamu." jelas Jeima sambil memperlihatkan kotak makan yang berisi bubur.
Vashua melihatnya dengan mata yang bersinar. Rasa lapar yang mulai muncul setelah kondisi nya membaik membuatnya menginginkan makanan yang dibuat dengan cinta oleh keluarganya. "Terima kasih Kak Jeim. Rasanya pasti enak banget." ucapnya dengan tulus.
Saat Jeima sedang menyiapkan makanan untuk Vashua di bantu panduan oleh perawat, Yoza dan Henry masuk ke kamar bersama-sama. Kedua pria itu sebelumnya pergi ke kantor polisi bersama Bara untuk memberikan laporan tentang Darmawan Kusuma dan kelompoknya. Wajah Yoza masih menunjukkan keseriusan yang mendalam, tapi ada sedikit lega yang tampak di matanya.
Terlebih Yoza, bukan hanya fakta tentang sabotase perusahaan ayah nya saja yang dia dapat hari ini, tapi ada fakta lain yang baru saja terungkap oleh salah satu orang kepercayaan Bara yang mampu membuat Yoza merasa bersalah dengan perbuatannya selama ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Black Hole
Fanfictionini cuman kisah tentang Senandia, Yoza,Nirzam,Henry,Jeima, Vashua juga Jeca yang harus berjuang melawan perihnya kehidupan dunia.
