Langit sudah mulai menunjukkan warna kebiruan di ufuk timur ketika suara alarm mesin pemantau tiba-tiba menyambar kedalam keheningan ruang perawatan intensif. Vashua yang baru saja bisa tertidur lelap setelah perbincangan hangat dengan saudara-saudaranya, tiba-tiba terbangun dengan batuk yang menggigit. Tubuhnya bergoyang kesakitan, tangan kecilnya mencengkeram seprai dengan kekuatan yang tidak sesuai dengan kondisi fisiknya yang lemah.
"Shua!" teriak Yoza yang sedang berjaga di sisi kanan ranjang, dia terbangun karena suara mesin yang berbunyi nyaring.
Vashua merasa panas yang luar biasa menyambar seluruh tubuhnya, dahinya menetes keringat dingin yang menggumpal di pelipisnya. Dia mencoba menarik napas, tapi setiap usaha itu hanya membuat rasa sakit di perut bagian atas semakin membakar. Bibirnya terasa kering dan lengket, seperti tertutup lapisan lendir pekat. Saat dia hendak berkata sesuatu, tenggorokannya terasa seperti ditusuk jarum, dan tanpa bisa dia kendalikan, dia membuka mulut dan muntahkan cairan gelap yang bercampur darah merah pekat ke serbet yang Yoza segera tempatkan di bawah dagunya.
"Tolong Suster!" teriak Yoza dengan suara yang bergema di kamar yang biasanya sunyi. Darah terus keluar dari mulut Vashua, beberapa tetesan bahkan menyemprot ke lantai putih yang bersih, menciptakan bekas merah yang mencolok.
Sen yang baru saja terbangun karena suara alarm langsung masuk ke dalam ruangan Intensif diikuti oleh Nirzam, Henry, Jeca, dan Jeima yang wajahnya penuh ketakutan. Matanya semua melebar melihat kondisi Vashua yang sedang mengkhawatirkan, tubuhnya bergetar hebat, dan setiap kali dia batuk, darah kembali keluar dari mulutnya.
"Kakak Shua..." ucap Jeca dengan suara gemetar, tangannya mengepal erat di sisi tubuhnya. Jeima segera mengambil handuk untuk membersihkan darah yang menetes di dagu dan leher Vashua, tapi tangannya juga gemetar tidak terkendali.
Sudah cukup lama dia tidak melihat Shua seperti ini, dan Jeima kira ini yang terparah. Darah yang keluar dari mulut Vashua benar-benar banyak membuatnya takur.
Henry langsung mengambil tombol panggilan yang ada di sisi ranjang, menekannya berkali-kali sampai lampu indikator berkedip merah dengan cepat.
"Perawat cepat! Ada keadaan darurat!" Henry berteriak karena perawat lama sekali datang nya.
Yoza berdiri di belakang Sen, tangannya menggenggam bahu kakaknya dengan kuat. Wajahnya pucat tanpa warna, matanya menatap Vashua dengan ekspresi yang sulit dijelaskan-campuran kesedihan, kemarahan, dan rasa bersalah yang menusuk hati. Dia merasa seolah dunia sedang runtuh di depan matanya, setelah sekian lama mereka berjuang, kenapa malah semakin parah?
Tak lama kemudian, dua perawat dan dokter Harva yang baru saja kembali ke rumah sakit setelah istirahat singkat masuk dengan membawa perlengkapan darurat. Dokter Harva langsung mengecek monitor vital Vashua dengan gerakan cepat namun terampil.
"Saturasi turun menjadi 68, denyut jantung naik ke 132 per menit," ucap perawat bernama Wahyu sambil mencatat data di lembaran kasus pasien. "Tekanan darah 80/50 mmHg, sangat rendah."
Dokter Harva mengecek mulut dan tenggorokan Vashua dengan cepat, lalu memeriksa perutnya dengan hati-hati. Wajahnya semakin serius saat dia merasakan bagian atas perut yang terasa keras dan sensitif saat disentuh.
"Perdarahan lambung kembali muncul dengan tingkat yang parah," kata dokter Harva dengan suara tegas. "Kita perlu segera melakukan transfusi darah dan membawa dia ke ruang endoskopi untuk menemukan sumber perdarahan dan menahannya. Bantu saya siapkan alatnya!" lanjutnya memberi perintag kepada Wahyu.
Tim medis segera bergerak dengan koordinasi yang baik. Satu perawat memasang selang infus tambahan untuk cairan dan obat penstabil tekanan darah, yang lain menyiapkan kantong darah yang sudah sesuai dengan golongan darah Vashua. Sen dan saudara-saudaranya harus keluar dari kamar agar tim medis bisa bekerja dengan leluasa, namun mereka tidak bisa pergi jauh, semua berkumpul di depan pintu kamar, mata mereka tidak pernah lepas dari gerakan tim medis yang sibuk di dalam.
KAMU SEDANG MEMBACA
Black Hole
Fanfictionini cuman kisah tentang Senandia, Yoza,Nirzam,Henry,Jeima, Vashua juga Jeca yang harus berjuang melawan perihnya kehidupan dunia.
