31

154 27 25
                                        

Hari-hari berlalu...
Suasana ini, rasanya terlalu tenang seolah menandakan bahwa badai akan datang tak lama lagi.

Kana, ia berdiri didepan kediaman utama keluarga Ubuyashiki. Menggenggam tangannya sendiri yang bergetar. Bukan karena dingin atau takut akan kematian. Tapi, dia tak bisa terima fakta bahwa kedua anak Ubuyashiki juga akan ikut tewas di adegan itu.

Anak-anak Ubuyashiki yang ramah dan hangat ketika Kana pertama kali tiba dan join Kisatsutai harus berakhir tragis karena rasa sayang dan setia kepada sang orang tua.

Jadi merinding cik...
😇

Gak pernah ngetik serius, tiba-tiba jadi serius... Mau nangis.... HUWEEEE....

“Ini masih sore, tapi hawanya membuatku merinding...” keluh Kana, lalu masuk kedalam rumah besar itu.

Udara sore itu terasa ganjil.
Langit berwarna jingga lembut, seolah matahari pun menahan napas.
Bahkan burung-burung yang biasa hinggap di taman pun tak bersuara.

Hanya angin yang berhembus pelan, menyapu dedaunan sakura yang berguguran di halaman keluarga Ubuyashiki.

Di dalam ruangan utama, Oyakata-sama terbaring tak berdaya, keadaannya sudah sangat buruk. Wajahnya pucat, kulitnya mulai membiru akibat kutukan yang makin parah, namun senyum lembutnya tetap tidak hilang. Di sisi kanan, istrinya Amane menyiapkan teh hangat. Sementara dua gadis kecil kembar, Hinaki dan Nichika, duduk tenang di samping sang ayah.

“Langitnya indah hari ini,” ucap Oyakata-sama pelan, matanya menatap keluar jendela. “Mungkin ini pertanda... bahwa semuanya akan berakhir malam ini.”

Amane berhenti sejenak, menatap suaminya dengan mata yang bergetar. “Kagaya-sama… jadi, Anda yakin dia akan datang?”

“Ya.”
Senyumnya tetap lembut. “Aku sudah bisa merasakannya. Nafas jahat itu semakin dekat. Muzan… akhirnya akan datang ke rumah ini sendiri.”

Kedua anaknya terdiam, namun tak terlihat ketakutan.
Hinaki menggenggam tangan ayahnya. “apakah kita akan pergi malam itu?”

Oyakata-sama menatap putrinya, mengelus rambut halusnya perlahan. “Ya, Hinaki. Tapi jangan takut. Kita tidak pergi sendirian. Kita hanya… pulang ke tempat di mana rasa sakit ini tidak ada lagi.”

Nichika, si kembar yang lebih ceria, menatap kakaknya lalu tersenyum kecil. “Kalau begitu, kita harus tersenyum, kan? Supaya Otou-sama tidak sedih.”

Senyum itu... begitu tulus, begitu polos.
Dan justru karena itulah, terasa menyayat hati.

Amane menatap anak-anaknya, kemudian menunduk air matanya jatuh satu demi satu ke tatami. Entah, sejak kapan rasa ini membuat Amane tak bisa menahan kesedihannya.

Dia tidak takut mati, dia khawatir dengan ketiga anaknya yang masih kecil.

Namun Oyakata-sama menyentuh pundaknya lembut. “Jangan menangis, Amane. Mereka akan baik-baik saja.”

Suasana hening sejenak.

“Aku sudah mengirimkan semua pesan terakhirku kepada para Hashira,” lanjutnya dengan nada damai.

Amane mengangguk, suaranya bergetar.
“Semua orang mencintaimu, Kagaya-sama. Mereka rela mati demi membalas kebaikanmu.”

“Tidak perlu balas,” katanya lirih. “Cukup teruskan harapan ini. Itu sudah cukup bagiku.”

Ia kemudian menatap kedua putrinya sekali lagi. “Kalian tahu… mengapa ayah mencintai dunia ini, meski dunia kejam?”

Kedua gadis itu menggeleng.

||𝑊𝑒 𝐶𝑎𝑛'𝑡 𝑏𝑒 𝑡𝑜𝑔𝑒𝑡ℎ𝑒𝑟'𝐾𝑖𝑚𝑒𝑡𝑠𝑢 𝑁𝑜 𝑦𝑎𝑖𝑏𝑎^Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang